Inflasi Adalah: Pengertian, Penyebab, Jenis, dan Cara Menghitung
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Pahami penyebab, komponen, cara menghitung lewat IHK, dan posisi angka September 2026 terhadap target inflasi.
Berita.co – Menurut rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan (year on year). Artinya, uang yang sama di dompetmu membeli lebih sedikit barang dan jasa dibanding September 2025.
Sebelum kamu memutuskan soal gaji, harga jual, atau anggaran rumah tangga, ada tiga hal yang perlu dipahami, yaitu berapa besar inflasinya, bagaimana cara mengukurnya, dan apa saja opsimu. Kalau kamu juga sedang menghitung potongan gaji, panduan PPh 21 membantu melihat sisi pajaknya.
Pengertian inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Sedangkan kenaikan harga satu atau dua barang saja tidak bisa disebut inflasi.
Definisi ini penting karena banyak orang menyebut inflasi saat harga satu komoditas sedang naik. Padahal angka resmi baru bergerak berarti kalau kenaikannya meluas ke banyak barang dan jasa.
Kebalikan dari inflasi adalah deflasi, yaitu penurunan harga barang dan jasa secara umum. Kedua kondisi ini sama-sama perlu dipantau karena harga yang terlalu cepat naik atau terus turun sama-sama mengganggu keputusan belanja dan usaha.
Angka inflasi resmi dihitung oleh BPS lewat survei harga, bukan dari kesan harga di pasar dekat rumah. Karena itu, inflasi yang kamu rasakan bisa berbeda dari angka resmi, tergantung barang apa yang paling sering kamu beli.
Penyebab inflasi
Penyebab inflasi dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu tekanan dari sisi biaya (cost push) dan tekanan dari sisi permintaan (demand pull). Membedakan keduanya membantu kamu membaca kenapa harga naik dan berapa lama kenaikan itu mungkin bertahan.
- Cost push terjadi saat biaya produksi naik, misalnya karena depresiasi rupiah, kenaikan harga barang impor, atau penyesuaian harga yang diatur pemerintah. Produsen lalu menaikkan harga jual supaya marginnya tidak tergerus.
- Demand pull terjadi saat permintaan barang dan jasa melebihi kapasitas produksi yang tersedia. Penjual yang barangnya laris punya ruang untuk menaikkan harga karena pembeli tetap datang.
Kedua jenis tekanan ini juga bisa muncul bersamaan dalam satu periode. Misalnya, biaya impor naik saat permintaan menjelang hari raya sedang tinggi, sehingga harga terdorong dari dua arah.
Dari sisi bisnis, kenaikan biaya hampir tidak pernah berhenti di produsen. Ada yang menaikkan harga sekaligus, ada yang mengecilkan ukuran kemasan, dan ada yang menahan harga sambil memangkas biaya promosi.
Pilihan mana yang diambil biasanya tergantung seberapa sensitif pembeli terhadap harga. Itu sebabnya kenaikan harga yang kamu lihat di rak toko sering datang bertahap, tidak serentak.
Jenis dan komponen inflasi
Inflasi di Indonesia dibaca lewat tiga komponen, yaitu inflasi inti, inflasi harga bergejolak (volatile food), dan inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices). Tabel berikut merangkum pemicu dan contoh tiap komponen.
| Komponen | Pemicu utama | Contoh |
|---|---|---|
| Inflasi inti | Interaksi permintaan dan penawaran, nilai tukar, dan ekspektasi harga | Harga barang dan jasa yang bergerak bertahap |
| Harga bergejolak (volatile food) | Pasokan bahan pangan, cuaca, dan musim panen | Cabai, bawang, beras |
| Harga diatur pemerintah (administered prices) | Keputusan kebijakan harga oleh pemerintah | BBM bersubsidi, tarif listrik |
Komponen inti paling sering dipakai untuk membaca tren jangka menengah karena tidak terlalu terpengaruh gejolak sesaat. Dua komponen lainnya lebih mudah naik turun karena musim panen atau perubahan kebijakan harga.
Cara menghitung inflasi
Inflasi dihitung dengan membandingkan Indeks Harga Konsumen (IHK) suatu periode dengan IHK periode sebelumnya. IHK sendiri disusun dari 11 kelompok pengeluaran yang mengikuti klasifikasi COICOP 2018.
Rumusnya adalah IHK periode ini dikurangi IHK periode sebelumnya, dibagi IHK periode sebelumnya, lalu dikali 100 persen. Sebagai ilustrasi, bukan data resmi, kalau IHK naik dari 100 menjadi 103, inflasinya 3 persen.
Contoh lain, masih ilustrasi, kalau IHK satu periode 110 dan periode berikutnya 110,55, inflasinya 0,5 persen. Hitungannya adalah selisih 0,55 dibagi 110, lalu dikali 100 persen.
Perhitungan tahunan (year on year) membandingkan IHK dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya, sedangkan perhitungan bulanan (month to month) membandingkan dengan bulan sebelumnya. Perhitungan tahun kalender (year to date) membandingkan IHK dengan bulan Desember tahun sebelumnya.
Ketiga cara ini memakai rumus yang sama, hanya titik pembandingnya yang berbeda. Kalau asumsi IHK-mu beda, hasilnya ikut berubah.
Angka inflasi September 2026
Pada September 2026, inflasi tahunan berada di 3,28 persen dengan IHK 112,31. Ringkasan indikator utamanya ada di tabel berikut.
| Indikator | Angka September 2026 |
|---|---|
| Inflasi tahunan (year on year) | 3,28 persen |
| Inflasi bulanan (month to month) | 0,30 persen |
| Inflasi tahun kalender (year to date) | 2,17 persen |
| Inflasi inti tahunan | 2,84 persen |
| IHK | 112,31 |
Angka bulanan 0,30 persen menunjukkan kenaikan harga dalam satu bulan, sedangkan angka tahun kalender 2,17 persen menunjukkan akumulasi sejak Desember 2025. Angka tahunan 3,28 persen paling sering dikutip karena bisa langsung dibandingkan dengan target inflasi.
Inflasi inti tahunan sebesar 2,84 persen lebih rendah dari angka inflasi umum. Selisih ini menunjukkan sebagian tekanan harga datang dari komponen di luar inti, yaitu pangan bergejolak atau harga yang diatur pemerintah.
Antarprovinsi, rentang angkanya cukup lebar. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 7,59 persen, sedangkan yang terendah di Sumatera Selatan sebesar 2,55 persen.
Angka 3,28 persen masih berada di dalam rentang target 2026, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, sesuai tabel target inflasi di situs bank sentral. Batas atas rentang itu 3,5 persen, jadi ruang yang tersisa sekitar 0,22 poin persentase.
Sebagai pembanding, inflasi aktual 2025 tercatat 2,92 persen, juga di dalam rentang target. Kalau kamu pelaku usaha, angka ini relevan saat menghitung kenaikan biaya bahan baku dan cicilan, termasuk saat mempertimbangkan syarat KUR BRI untuk modal.
Dampak inflasi ke keuangan sehari-hari
Dampak yang paling terasa adalah daya beli yang turun kalau kenaikan gajimu lebih kecil dari inflasi. Sebagai ilustrasi, gaji Rp5.000.000 yang naik 2 persen menjadi Rp5.100.000, padahal untuk mengejar inflasi 3,28 persen kamu butuh sekitar Rp5.164.000.
Selisih sekitar Rp64.000 per bulan itu adalah daya beli yang hilang dalam contoh ini. Angkanya terlihat kecil per bulan, tetapi terasa saat dijumlahkan selama setahun atau saat harga kebutuhan pokok naik lebih cepat.
Bagi pemilik usaha kecil, inflasi terasa dua kali, dari sisi biaya bahan baku dan dari sisi pembeli yang lebih berhati-hati belanja. Menaikkan harga terlalu cepat bisa mengurangi pembeli, sedangkan menahan harga terlalu lama menggerus margin.
Langkah yang lebih aman adalah menghitung ulang harga pokok secara berkala dan menyesuaikan harga jual dengan kenaikan biaya yang nyata. Jelaskan alasan kenaikan itu kepada pelanggan supaya kepercayaan mereka tetap terjaga.
Inflasi juga memengaruhi nilai tabungan yang disimpan tanpa imbal hasil. Uang Rp10.000.000 yang didiamkan selama setahun tetap bernilai nominal sama, tetapi dengan inflasi 3,28 persen daya belinya kira-kira setara Rp9.680.000 dalam ilustrasi ini.
Pengendalian inflasi bukan tugas satu lembaga saja. Bank sentral bekerja bersama pemerintah lewat Tim Pengendalian Inflasi (TPI) sejak 2005.
Artikel ini tidak memberi rekomendasi aset untuk melawan inflasi, termasuk soal emas. Pilihan seperti itu bergantung pada tujuan, jangka waktu, dan profil risikomu masing-masing.
Kalau kamu ingin memantau inflasi sendiri, BPS merilis angka inflasi bulanan setiap awal bulan berikutnya. Rentang target tahunannya bisa kamu cocokkan di tabel target bank sentral yang sudah disebut di atas.
Untuk keputusan harga di usaha, pantau inflasi inti dan komponen pangan secara terpisah. Kalau bahan bakumu didominasi pangan, komponen harga bergejolak biasanya lebih relevan daripada angka inflasi umum.
Kalau inflasi masih di dalam rentang target dan gajimu naik di atas inflasi, daya belimu relatif terjaga. Kalau kenaikan gajimu di bawah inflasi, cek ulang anggaran bulanan dan potongan rutin, termasuk batas PTKP yang menentukan besar pajak penghasilanmu.

