Wallet Crypto Adalah: Cara Kerja, Jenis, Risiko, dan Cara Memilih yang Aman
Wallet crypto menyimpan kunci akses aset di blockchain, bukan koinnya. Pahami beda hot, cold, kustodial, dan non-kustodial, plus cara mengecek legalitas lewat daftar OJK.
Berita.co – Wallet crypto sering dibayangkan sebagai dompet tempat koin disimpan, padahal koinnya tidak pernah benar-benar keluar dari blockchain.
Wallet sebenarnya menyimpan kunci yang membuktikan bahwa kamu berhak memindahkan aset yang tercatat di blockchain itu.
Menurut POJK 27/2024 tentang penyelenggaraan perdagangan aset keuangan digital termasuk aset kripto, wallet adalah media yang dipergunakan untuk menyimpan aset keuangan digital.
Definisi itu benar secara aturan, tetapi cara kerjanya baru jelas kalau kamu melihat apa yang sebenarnya disimpan di dalam wallet.
Memahami wallet juga memudahkan kamu mengikuti urusan lain di sekitar aset kripto, termasuk pajak kripto atas transaksi yang kamu lakukan. Artikel ini membahas wallet dari sisi teknologi dan keamanan, bukan dari sisi pilihan investasi.
Apa itu waller crypto? Menurut aturan dan secara teknis
Teks definisi wallet dari aturan awal itu tidak berubah setelah OJK menerbitkan POJK 23/2025 sebagai perubahannya. Kata “media” di situ cukup luas karena wallet bisa berupa aplikasi di HP, perangkat fisik khusus, atau sistem penyimpanan milik penyelenggara.
Secara teknis, setiap wallet berpusat pada private key. Private key adalah angka rahasia yang sangat panjang dan hanya boleh diketahui pemiliknya.
Dari private key itu diturunkan alamat publik, yaitu deretan karakter yang boleh kamu bagikan untuk menerima aset.
Alamat publik ibarat nomor rekening, sementara private key lebih mirip tanda tangan sekaligus PIN yang tidak boleh bocor.
Saat kamu mengirim aset, wallet memakai private key untuk membuat tanda tangan digital pada transaksi itu.
Jaringan blockchain lalu memeriksa tanda tangan tersebut dan mencatat perpindahan aset kalau tanda tangannya cocok dengan alamat pengirim.
Seed phrase dan private key, bagian yang paling menentukan
Banyak wallet tidak menampilkan private key secara langsung, tetapi memberimu seed phrase sebagai cadangan. Seed phrase adalah rangkaian kata acak yang bisa dipakai untuk membentuk ulang private key di perangkat lain.
Menurut dokumentasi protokol BIP-39, seed phrase standar berisi 12, 15, 18, 21, atau 24 kata. Makin panjang rangkaiannya, makin besar ruang kemungkinan yang harus ditebak orang yang mencoba membobolnya.
Siapa pun yang memegang seed phrase kamu bisa membuka wallet itu di perangkat mana saja dan memindahkan seluruh isinya. Di wallet non-kustodial tidak ada tombol lupa password, dan tidak ada customer service yang bisa mengembalikan aset di dalamnya.
Karena itu, orang yang meminta seed phrase kamu, termasuk yang mengaku sebagai petugas dukungan, patut dianggap sedang mencoba menipu. Pola permintaan seperti ini dan modus lainnya dibahas di panduan ciri dan modus penipuan kripto.
Hot wallet vs cold wallet
Pembagian paling umum adalah berdasarkan apakah kunci wallet tersimpan di perangkat yang terhubung ke internet.
Hot wallet selalu atau sering online, sedangkan cold wallet menyimpan kunci di media yang tidak tersambung ke internet.
| Aspek | Hot wallet | Cold wallet |
|---|---|---|
| Koneksi internet | Terhubung, berupa aplikasi di HP, ekstensi browser, atau wallet di platform | Tidak terhubung saat menyimpan kunci, berupa perangkat khusus atau cadangan kertas |
| Kemudahan | Praktis untuk transaksi harian | Butuh langkah tambahan setiap kali bertransaksi |
| Permukaan serangan | Lebih luas karena terpapar malware, phishing, dan peretasan perangkat | Lebih sempit karena kunci tidak menyentuh internet |
| Cocok untuk | Saldo kecil yang sering dipakai | Simpanan yang jarang dipindahkan |
Tabel di atas menunjukkan bahwa tidak ada jenis yang unggul di semua aspek. Kamu bisa menyeimbangkannya dengan menaruh saldo kecil untuk kebutuhan harian di hot wallet dan sisanya di cold wallet.
Pembagian serupa juga diwajibkan untuk penyelenggara berizin di Indonesia. Aturan OJK yang sama mewajibkan aset tiap pedagang disimpan di akun atau media terpisah, dengan tata kelola untuk cold wallet dan hot wallet.
Kustodial vs non-kustodial, siapa yang pegang kuncinya
Pertanyaan yang lebih menentukan daripada hot atau cold adalah siapa yang memegang private key. Pada wallet kustodial kunci dipegang penyelenggara, sedangkan pada wallet non-kustodial kunci sepenuhnya ada di tanganmu.
Saldo yang kamu lihat di akun platform perdagangan aset kripto umumnya berada di wallet kustodial. Kamu masuk dengan email dan kata sandi, lalu penyelenggara yang menandatangani transaksi atas namamu.
Aturan OJK tersebut juga mengatur cara penyelenggara menjaga kunci itu. Pengelola tempat penyimpanan wajib memisahkan aset tiap pedagang dan menaruh private key di hardware security module berstandar FIPS paling sedikit level 3.
Hardware security module adalah perangkat keras khusus yang dirancang agar kunci di dalamnya sulit disalin keluar. Standar itu mengurangi risiko kunci dicuri, tetapi kamu tetap bergantung pada keandalan dan kejujuran penyelenggara.
Wallet non-kustodial membalik posisi itu karena kunci dan seed phrase hanya ada padamu. Tidak ada pihak yang bisa membekukan asetmu, tetapi juga tidak ada pihak yang bisa memulihkannya kalau seed phrase hilang.
Risiko yang sangat nyata bagi pemakai wallet di HP adalah perangkat yang hilang atau dicuri saat wallet masih terpasang.
Kalau itu terjadi, lacak dulu perangkatnya lewat panduan cara melacak HP yang hilang, lalu pulihkan wallet di perangkat lain memakai seed phrase dan pindahkan isinya ke wallet dengan seed phrase baru.
Wallet crypto yang dipakai di Indonesia, cara mengecek legalitasnya
Bagi pemula, wallet pertama sering kali adalah wallet kustodial bawaan aplikasi platform perdagangan aset kripto.
Karena itu, pertanyaan soal wallet apa yang dipakai di Indonesia lebih tepat dijawab dengan cara mengecek apakah penyelenggaranya berizin.
Pengaturan dan pengawasan aset kripto sudah beralih dari Bappebti ke OJK, sesuai amanat UU 4/2023 Pasal 312 ayat (1) yang dirujuk dalam aturan OJK tersebut. Aturan itu berlaku mulai 10 Januari 2025, sehingga izin dan pengawasan platform perdagangan aset kripto berada di OJK.
Menurut siaran pers OJK tentang whitelist penyelenggara perdagangan aset keuangan digital berizin, masyarakat diminta bertransaksi hanya melalui entitas yang terdaftar.
Daftar itu mencakup pedagang, calon pedagang, bursa, serta lembaga kliring dan kustodian, dan bisa kamu cek di halaman perizinan aset keuangan digital OJK.
Sebelum memakai wallet kustodial di sebuah platform, cocokkan nama badan hukum, nama aplikasi, dan alamat situsnya dengan daftar tersebut. Jumlah entitas di daftar bisa berubah, jadi selalu rujuk versi yang tampil di situs OJK saat kamu mengecek.
Wallet non-kustodial bekerja tanpa penyelenggara yang menyimpan asetmu, jadi daftar izin itu tidak bisa menjadi satu-satunya patokan. Untuk jenis ini, keamanannya bergantung pada sumber unduhan aplikasi dan cara kamu menjaga seed phrase.
Cara memilih wallet crypto, kriteria tanpa daftar merek
Berita.co tidak membuat peringkat wallet terbaik atau daftar lima wallet teratas. Pilihan yang tepat bergantung pada kebutuhanmu, jadi lebih berguna kalau kamu menilai setiap wallet dengan kriteria yang sama.
- Siapa yang memegang private key, penyelenggara atau kamu sendiri.
- Dukungan jaringan, karena aset yang dikirim lewat jaringan yang tidak didukung wallet bisa tidak terbaca atau sulit dipulihkan.
- Cadangan seed phrase, apakah wallet memberi seed phrase standar yang bisa dipulihkan di aplikasi wallet lain.
- Sumber unduhan resmi, yaitu toko aplikasi resmi atau tautan dari situs resmi pengembangnya, bukan tautan kiriman orang lain.
- Keamanan perangkat, termasuk kunci layar, sistem operasi yang rutin diperbarui, dan PIN terpisah di dalam aplikasi wallet.
- Jalur pemulihan bila HP hilang, apakah kamu tetap bisa mengakses aset tanpa perangkat lama.
Untuk wallet kustodial, tambahkan satu kriteria lagi, yaitu status izin penyelenggaranya di daftar OJK. Kalau penyelenggara tidak muncul di daftar itu, anggap itu tanda bahaya, bukan sekadar kekurangan kecil.
Cara menjaga wallet tetap aman
Seed phrase adalah titik terlemah sekaligus terpenting dalam keamanan wallet non-kustodial. Beberapa kebiasaan berikut membantu menjaganya tetap aman.
- Tulis seed phrase di media offline, misalnya kertas, dan simpan di tempat yang hanya kamu ketahui.
- Jangan memotret seed phrase, menyimpannya di catatan HP, atau mengunggahnya ke penyimpanan awan.
- Jangan pernah membagikan seed phrase kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku sebagai petugas dukungan.
- Ketik sendiri alamat situs resmi dan waspadai tautan tidak resmi atau domain tiruan yang mirip nama platform asli.
- Periksa ulang alamat tujuan sebelum mengirim aset, karena transaksi di blockchain tidak bisa dibatalkan.
- Uji pemulihan seed phrase dengan saldo kecil sebelum menyimpan jumlah yang lebih besar.
Tautan tidak resmi dan situs yang meniru domain platform berizin adalah jebakan yang patut kamu waspadai. Kalau kamu menemukan platform yang diduga ilegal, laporkan ke Satgas PASTI melalui kontak 157 atau WhatsApp 081157157157.
Pada akhirnya, memilih wallet crypto berarti memilih siapa yang menanggung risiko atas kunci. Wallet kustodial lebih mudah dipakai tetapi membuatmu bergantung pada penyelenggara, sementara wallet non-kustodial memberi kendali penuh tanpa jaring pengaman.
Apa pun pilihanmu, cek status izin penyelenggara di situs OJK dan baca dokumentasi resmi wallet sebelum menyimpan aset.
Artikel ini bersifat edukasi, bukan nasihat keuangan, dan nilai aset kripto bisa naik turun tajam sehingga kamu bisa kehilangan sebagian atau seluruh dana.
Kalau kamu ingin memahami jenis aset digital lain yang juga disimpan di wallet, lanjutkan dengan penjelasan NFT adalah apa dan cara kerjanya.
Prinsip yang sama berlaku di sana, karena siapa yang memegang kunci menentukan siapa yang benar-benar menguasai asetnya.

