TERKINI
Cita Tenun Indonesia Bawa Tenun Lampung, Kalimantan Barat, dan Bangka ke Panggung Utama JFW 2027/// Silmy Karim Didakwa Peras Pemohon Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar, Terima Rp1,2 Miliar/// DJP Tegaskan PPN Pembalut Bukan Pajak Menstruasi, Begini Hitungannya/// Bos Bulog Bongkar Modus Pengoplos Beras SPHP, Borong 8 Ton dalam Dua Hari/// Polri Rekomendasikan Pencabutan Izin 23 Korporasi Terkait Karhutla Berulang/// Cita Tenun Indonesia Bawa Tenun Lampung, Kalimantan Barat, dan Bangka ke Panggung Utama JFW 2027/// Silmy Karim Didakwa Peras Pemohon Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar, Terima Rp1,2 Miliar/// DJP Tegaskan PPN Pembalut Bukan Pajak Menstruasi, Begini Hitungannya/// Bos Bulog Bongkar Modus Pengoplos Beras SPHP, Borong 8 Ton dalam Dua Hari/// Polri Rekomendasikan Pencabutan Izin 23 Korporasi Terkait Karhutla Berulang///
Edukasi Kripto

Mengenal Stablecoin: Cara Kerja Patokan Nilai, Jenis, dan Risiko

Stablecoin dirancang mengikuti nilai aset acuan lewat cadangan atau kode, tetapi patokannya bisa lepas dan tokennya bisa dibekukan penerbit. Ulasan ini menjelaskan tiga jenis stablecoin, risikonya, dan posisinya sebagai aset kripto terdukung dalam POJK 23/2025, bukan alat pembayaran.

stablecoin

Berita.co – Stablecoin adalah aset kripto yang dirancang supaya nilainya mengikuti aset acuan tertentu, umumnya mata uang resmi sebuah negara. Bedanya dengan koin kripto biasa ada di mekanisme penjaga patokan itu, bukan di teknologi blockchain tempat token tersebut berjalan.

Aset kripto adalah representasi digital dari nilai yang tidak dijamin otoritas pusat, diterbitkan pihak swasta, dan mencakup aset kripto terdukung (backed crypto-asset) serta aset kripto tidak terdukung (unbacked crypto-asset). Kalau kamu baru mengenal token di blockchain dari koleksi digital, penjelasan NFT adalah bisa jadi titik awal sebelum masuk ke stablecoin.

Cara kerja patokan nilai

Model paling sederhana bekerja seperti brankas dan buku catatan, penerbit memegang cadangan aset di luar blockchain lalu mencetak token baru setiap ada setoran. Saat token ditukar kembali, penerbit membakar token itu sehingga jumlah yang beredar tetap seimbang dengan cadangan.

Istilah teknis yang perlu kamu pegang di bagian ini adalah mint dan burn, artinya mencetak dan memusnahkan token lewat smart contract. Selama cadangan benar-benar ada dan bisa ditukar, pasar punya alasan untuk menilai satu token setara dengan satu unit aset acuan.

Bagian yang sering terlewat adalah hak tukar, karena patokan hanya kuat kalau pemegang token benar-benar bisa menukarkannya kembali ke aset acuan. Kalau proses penukaran dibatasi atau ditutup, angka patokan tinggal janji di atas kertas.

Koin kripto biasa tidak punya mekanisme penjaga seperti ini, jadi nilainya murni terbentuk dari permintaan dan penawaran di pasar. Itulah sebabnya stablecoin dibuat untuk bergerak dalam rentang sempit, sementara koin lain bisa naik atau turun tanpa batas acuan.

Model berbasis cadangan ini paling dekat dengan istilah aset kripto terdukung dalam definisi POJK tadi. Kategori itu menggambarkan sifat asetnya, sementara definisi yang sama juga menegaskan bahwa aset kripto tidak dijamin otoritas pusat.

Baca Juga:  Wallet Crypto Adalah: Cara Kerja, Jenis, Risiko, dan Cara Memilih yang Aman

Jenis stablecoin

Secara umum ada tiga model stablecoin, dan perbedaannya terletak pada apa yang menjaga patokan nilainya. Tabel berikut merangkum ketiganya beserta titik rawan masing-masing sebagai konsep, tanpa menilai token tertentu.

ModelApa yang menjaminTitik rawan
Dijamin mata uang fiatCadangan uang atau aset setara kas yang dipegang penerbitBergantung pada kejujuran dan keterbukaan penerbit soal isi cadangan
Dijamin aset kripto lainAset kripto yang dikunci di smart contract, umumnya bernilai lebih besar dari token yang diterbitkanNilai jaminan bisa turun tajam dan memicu likuidasi otomatis
AlgoritmikAturan kode yang menambah atau mengurangi pasokan tokenMekanisme bisa gagal ketika kepercayaan pasar hilang

Model fiat paling mudah dipahami, tetapi kepercayaan kamu bertumpu pada satu penerbit terpusat dan laporan cadangannya. Model berbasis kripto dan algoritmik lebih terdesentralisasi, namun risikonya pindah ke kualitas kode dan perilaku pasar.

Cara paling praktis mengenali modelnya adalah membaca dokumentasi penerbit atau protokolnya, terutama bagian tentang cadangan dan mekanisme penukaran. Kalau dokumen itu tidak menjelaskan apa yang menjaga patokan, anggap hal itu sebagai titik rawan tersendiri.

Pertanyaan seperti apakah XRP termasuk stablecoin bisa dijawab dengan satu kriteria sederhana, yaitu apakah aset itu dirancang dan dijaga untuk mengikuti nilai aset acuan tertentu. Kalau sebuah koin tidak punya patokan dan mekanisme penjaganya, koin itu bukan stablecoin, seberapa pun populer namanya.

Risiko yang tetap ada di tangan kamu

Patokan nilai bisa lepas, kondisi yang disebut depeg, ketika pasar meragukan cadangan atau ketika mekanisme algoritmiknya gagal bekerja. Saat itu terjadi, token yang dirancang stabil bisa bergerak jauh dari aset acuannya dalam waktu singkat.

Baca Juga:  Cara Cek SLIK OJK Online lewat iDebKu, Gratis, plus Cara Membaca Hasilnya

Stablecoin dari penerbit terpusat juga punya fitur yang jarang disadari, yaitu kemampuan penerbit membekukan token di alamat tertentu lewat smart contract. Artinya, kendali atas token itu tidak sepenuhnya ada di tangan pemegangnya, meskipun token tersimpan di wallet milik kamu sendiri.

Risiko berikutnya datang dari kode itu sendiri, karena smart contract yang keliru ditulis bisa dieksploitasi dan token di dalamnya ikut terdampak. Stablecoin juga berjalan di jaringan blockchain tertentu, jadi mengirimnya lewat jaringan yang salah bisa membuat token tidak bisa diakses.

Sisi yang sepenuhnya jadi tanggung jawab kamu adalah private key dan seed phrase yang membuka wallet tersebut. Panduan wallet crypto menjelaskan cara menyimpannya, karena tidak ada customer service yang bisa mengembalikan aset di dalamnya kalau kunci itu hilang.

Posisi stablecoin dalam aturan di Indonesia

Definisi aset kripto terdukung tadi tercantum di POJK 27/2024 sebagaimana diubah POJK 23/2025, yang ditetapkan pada 31 Oktober 2025 dan diundangkan pada 10 November 2025. Ringkasan aturan induknya bisa kamu baca di artikel POJK 27 tahun 2024.

Menurut Bank Indonesia dalam siaran persnya, virtual currency tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia. Dasarnya adalah UU 7/2011 tentang Mata Uang, yang mewajibkan transaksi pembayaran di Indonesia memakai Rupiah.

Arti praktisnya, stablecoin di Indonesia diperlakukan sebagai aset kripto yang diperdagangkan, bukan sebagai alat bayar. Patokannya ke mata uang tidak mengubah status itu, jadi stablecoin tidak sah dipakai untuk membayar barang atau jasa.

Aturan terpisah yang khusus mengatur stablecoin belum bisa dipastikan dari dokumen regulator. Selama itu, rujukan yang jelas tetap definisi aset kripto terdukung dan posisi alat pembayaran di atas.

Baca Juga:  Crypto Halal atau Haram? Isi Keputusan Ijtima Ulama MUI dan Bedanya dengan Status Legal di Indonesia

Stabil bukan berarti bebas risiko

Stabil dalam stablecoin berarti ada mekanisme yang berusaha menjaga patokan, bukan berarti asetnya bebas risiko. Tradeoff-nya jelas, kamu mendapat nilai yang dirancang lebih tenang, tetapi ikut menanggung risiko penerbit, risiko kode, dan risiko keamanan wallet sekaligus.

Sebelum menyentuh stablecoin apa pun, baca dokumen penerbitnya soal cadangan dan cek kembali aturan aset kripto di sumber primernya. Kalau kamu sudah memegang aset kripto, pembahasan pajak kripto menjelaskan sisi pajak yang ikut berlaku saat kamu bertransaksi.

Pertanyaan yang sering muncul

Dua pertanyaan ini paling sering muncul setelah orang pertama kali melihat stablecoin di aplikasi kripto. Jawabannya mengacu pada aturan di atas, bukan pada produk atau platform tertentu.

Apakah ada stablecoin di Indonesia?

Dari sisi aturan, stablecoin masuk ke cakupan aset kripto karena definisi dalam POJK mencakup aset kripto terdukung. Statusnya tetap bukan alat pembayaran, sesuai posisi bank sentral soal kewajiban memakai Rupiah.

Berapa harga stablecoin?

Artikel ini sengaja tidak membahas harga, kurs, atau nilai pasar stablecoin apa pun. Bagian yang dirancang stabil adalah patokannya, dan patokan itu adalah target sebuah mekanisme, bukan jaminan nilai.

Berita Terkait

Crypto · OJK