Apa Itu Web3? Pengertian, Cara Kerja, Contoh, dan Keterbatasan
Web3 adalah gagasan internet berbasis blockchain yang bisa dibaca, ditulis, dan dimiliki penggunanya. Pahami cara kerjanya, keterbatasannya, posisi aset kripto dalam aturan OJK, dan checklist aman sebelum mencoba aplikasi Web3.
Berita.co – Web3 adalah gagasan internet berbasis blockchain yang bisa dibaca, ditulis, sekaligus dimiliki oleh penggunanya. Istilah ini sering muncul bersama kripto dan NFT, sehingga banyak orang mengira Web3 sama dengan membeli koin.
Artikel ini menjelaskan konsepnya dari sisi teknologi, bukan ajakan membeli aset apa pun. Kalau kamu pertama kali mendengar istilah token di blockchain, penjelasan tentang apa itu NFT bisa membantu sebagai titik awal.
Dari Web 1.0 ke Web3
Cara termudah memahami Web3 adalah melihat urutan perubahan internet dari satu era ke era berikutnya. Perbedaan tiap era terletak pada apa yang bisa dilakukan pengguna terhadap konten dan datanya.
| Era | Periode | Ciri utama |
|---|---|---|
| Web 1.0 | 1990 sampai 2004 | Hanya-baca (read-only), pengguna sebatas membaca konten |
| Web 2.0 | Sejak 2004 | Baca-tulis (read-write), pengguna ikut membuat konten |
| Web3 | Tidak dicantumkan rentang tahunnya | Baca-tulis-miliki (read-write-own), pengguna ikut memiliki aset dan datanya |
Perbedaan Web 2.0 dan Web3 ada di kata terakhir, yaitu miliki. Di Web 2.0 kamu bisa membuat konten, tetapi akun dan datanya tetap berada di server platform, sedangkan Web3 mencoba memindahkan kepemilikan itu ke tangan pengguna lewat blockchain.
Istilah Web 3.0 diperkenalkan oleh Gavin Wood tak lama setelah Ethereum diluncurkan pada 2014. Nama Ethereum disebut di sini sebagai bagian dari sejarah istilah, bukan rekomendasi untuk memakai atau membeli apa pun.
Cara kerja Web3
Web3 berdiri di atas tiga komponen yang saling bergantung, yaitu blockchain, wallet, dan smart contract. Masing-masing punya peran berbeda, jadi memahami ketiganya membantu kamu melihat di bagian mana risikonya ada di tangan kamu sendiri.
1. Blockchain sebagai buku catatan bersama
Blockchain adalah buku besar terdistribusi yang mencatat transaksi di banyak komputer sekaligus. Karena catatannya tersebar dan saling dicocokkan, tidak ada satu otoritas pusat yang memegang kendali penuh atas data tersebut.
Konsep buku besar terdistribusi ini juga dipakai OJK ketika mendefinisikan aset kripto, dan detailnya dibahas di bagian aturan di bawah. Bagi kamu sebagai pengguna, artinya catatan kepemilikan tidak disimpan oleh satu perusahaan yang bisa kamu hubungi kalau ada masalah.
2. Wallet sebagai pintu masuk
Pintu masuk ke Web3 adalah wallet, bukan akun yang dibuat di sebuah platform. Dalam POJK 27 Tahun 2024, OJK mendefinisikan wallet sebagai media yang dipergunakan untuk menyimpan aset keuangan digital.
Di banyak aplikasi Web3, wallet juga dipakai sebagai cara masuk, jadi kamu tidak perlu mendaftar memakai email dan kata sandi. Kunci akses wallet sepenuhnya ada di tangan pemiliknya, sehingga siapa pun yang memegang kunci itu bisa mengendalikan aset di dalamnya.
3. Smart contract sebagai aturan otomatis
Smart contract adalah program yang berjalan di atas blockchain dan menjalankan aturan secara otomatis ketika syaratnya terpenuhi. Kodenya tidak bergantung pada satu server perusahaan, tetapi kalau ada celah di kode itu, kesalahannya ikut berjalan otomatis.
Contoh penerapan Web3
Penerapan Web3 lebih mudah dipahami lewat kategori umum daripada lewat nama produk tertentu. Empat kategori berikut adalah contoh yang umum dibahas, dan semuanya bertumpu pada blockchain serta wallet.
- Aset kripto dan stablecoin, yaitu aset digital yang dicatat dan dipindahkan di blockchain.
- NFT, yaitu token yang mewakili kepemilikan atas satu item digital tertentu.
- Identitas dan login berbasis wallet, sehingga satu wallet bisa dipakai untuk masuk ke beberapa aplikasi.
- Penyimpanan terdesentralisasi, yaitu file yang disimpan tersebar di banyak komputer, bukan di satu server.
Kategori pertama paling dekat dengan keseharian pengguna kripto, karena setiap aset di dalamnya tersimpan di wallet. Kalau kamu ingin tahu jenis wallet dan cara memilihnya, penjelasan wallet crypto membahasnya lebih rinci.
Kategori di atas adalah gambaran konsep, bukan daftar aplikasi yang direkomendasikan. Artikel ini sengaja tidak menyebut nama token, proyek, atau platform supaya fokusnya tetap pada cara kerja teknologinya.
Keterbatasan Web3 yang perlu kamu tahu
Web3 menjanjikan internet yang lebih terbuka, tetapi penerapannya tidak selalu semulus janjinya. Tabel berikut hanya memuat keempat poin itu, bukan seluruh kritik terhadap Web3.
| Janji | Kenyataan |
|---|---|
| Terbuka untuk siapa saja | Biaya transaksi bisa memberatkan, sehingga tidak semua orang mampu ikut serta |
| Pengguna memegang kendali | Pengalaman pengguna rumit, mulai dari menyimpan kunci wallet sampai memahami biaya transaksi |
| Siapa pun bisa ikut memakai | Butuh edukasi, karena konsep seperti wallet dan kunci akses terasa asing bagi banyak orang |
| Tanpa pihak pusat | Sebagian infrastruktur yang dipakai aplikasi Web3 tetap terpusat |
Dalam penilaian penulis, keempat poin ini saling terkait karena biaya dan kerumitan mendorong pengguna kembali ke layanan perantara yang terpusat.
Dari kacamata teknis, Web3 lebih tepat dibaca sebagai arah pengembangan daripada pengganti internet yang sudah jadi.
Web3 dan aturan di Indonesia
Regulasi yang dibahas di bagian ini mengatur aset kripto, bukan istilah Web3 itu sendiri. Aturan utamanya adalah POJK 27 Tahun 2024 sebagaimana diubah dengan POJK 23 Tahun 2025.
Menurut POJK 23 Tahun 2025, aset kripto adalah representasi digital dari nilai yang memakai buku besar terdistribusi seperti blockchain. Definisi yang sama menegaskan bahwa aset kripto tidak dijamin oleh otoritas pusat seperti bank sentral.
Bagian terakhir definisi itu penting buat kamu, karena tidak ada bank sentral yang menjamin nilai aset kripto. Kalau nilainya turun atau asetnya hilang, risikonya ada di tangan pemegang aset itu sendiri.
Soal tempat bertransaksi, OJK menerbitkan siaran pers tentang whitelist penyelenggara perdagangan aset keuangan digital dan aset kripto berizin pada 19 Desember 2025.
Isinya menegaskan bahwa transaksi aset kripto hanya dilakukan lewat pedagang aset keuangan digital (PAKD) atau calon pedagang (CPAKD) yang tercantum di whitelist tersebut.
Whitelist ini memudahkan kamu memeriksa legalitas sebelum memakai aplikasi apa pun yang melibatkan transaksi aset kripto. Kalau nama platformnya tidak ada di daftar itu, transaksinya berada di luar jalur yang diakui OJK.
Bisakah Web3 menghasilkan uang?
Klaim penghasilan di Web3 umumnya terkait dengan aset yang harganya naik turun tajam, sehingga potensi untung selalu berpasangan dengan potensi rugi. Artikel ini tidak memberi angka imbal hasil, karena tidak ada angka yang bisa dijamin untuk aset yang volatil.
Aturan pemasarannya pun tegas, dan ketentuannya ada di Pasal 124 ayat (2) POJK 27 Tahun 2024. Materi pemasaran aset kripto wajib memuat peringatan risiko dan volatilitas harga, tidak boleh memberi kesan imbal hasil tinggi dan pasti, serta tidak boleh menyarankan pembelian memakai utang.
Artinya, tawaran yang menjanjikan untung pasti dari aset kripto tidak sejalan dengan aturan pemasaran tersebut. Kalau kamu menemukan tawaran seperti itu, anggap sebagai tanda bahaya, bukan peluang.
Imbauan OJK dalam siaran pers whitelist juga meminta masyarakat waspada terhadap kegiatan edukasi atau komunitas yang mengajak bertransaksi di platform tidak berizin. Kedok edukasi seperti ini mudah terdengar meyakinkan karena dibungkus materi belajar, padahal ujungnya bisa mengarahkan dana ke tempat yang tidak diawasi.
Jalur yang lebih masuk akal untuk menghasilkan uang dari Web3 adalah bekerja di bidangnya, bukan menebak harga aset. Daftar pekerjaan berikut adalah penilaian penulis berdasarkan komponen teknologinya, tanpa angka gaji karena tidak ada sumber resmi yang dipakai untuk itu.
- Developer smart contract, yang menulis dan menguji program di blockchain.
- Auditor keamanan, yang memeriksa celah di kode smart contract sebelum dipakai publik.
- Desainer produk, yang menyederhanakan pengalaman pengguna aplikasi Web3.
- Pengelola komunitas, yang menjaga komunikasi antara proyek dan penggunanya.
Pekerjaan teknis ini tetap butuh dasar pemrograman dan keamanan yang sama dengan bidang perangkat lunak lain. Bedanya, kesalahan di kode yang sudah berjalan di blockchain biasanya jauh lebih sulit diperbaiki.
Persiapan sebelum mencoba aplikasi Web3
Sebelum menghubungkan wallet ke aplikasi apa pun, ada beberapa langkah sederhana yang bisa mengurangi risiko. Checklist berikut disusun dari imbauan OJK, ditambah saran keamanan wallet yang merupakan penilaian penulis.
- Cek nama platform di whitelist OJK, lalu pastikan nama entitas, nama aplikasi, dan alamat website cocok dengan yang tercantum.
- Cocokkan domain dengan teliti, karena OJK mengingatkan adanya domain yang dibuat mirip dengan milik penyelenggara berizin.
- Simpan seed phrase secara offline, yaitu deretan kata cadangan untuk memulihkan wallet, dan jangan pernah mengetiknya di situs atau chat.
- Mulai dari nominal yang siap hilang, karena nilai aset kripto tidak dijamin otoritas pusat.
- Jangan klik tautan dari grup atau akun yang tidak jelas, termasuk yang mengaku sebagai komunitas edukasi.
Dari sisi teknis, poin ketiga paling krusial karena seed phrase adalah kunci terakhir atas seluruh isi wallet. Kalau seed phrase bocor, tidak ada customer service yang bisa mengembalikan aset di dalamnya.
Web3 paling aman dipahami dulu sebagai teknologi, yaitu blockchain, wallet, dan smart contract yang bekerja bersama. Keputusan memakai atau membeli aset di dalamnya tetap tanggung jawab kamu, dan yang perlu dicek di sumber primer adalah status izin platform di whitelist OJK serta isi regulasinya.
Tradeoff-nya jelas, kendali penuh atas aset berarti tanggung jawab penuh atas keamanannya. Kalau kamu ingin lanjut ke salah satu jenis aset kripto yang sering muncul di aplikasi Web3, penjelasan stablecoin adalah bisa jadi bacaan berikutnya.

