Laba BCA Rp45,2 Triliun di Kuartal III 2026, Kredit Tembus Rp1.063 Triliun
BCA mencatat laba bersih Rp45,2 triliun di kuartal III 2026 dengan kredit tumbuh 12,6 persen. Kenaikan NIM ke 5,6 persen ditopang kredit produktif dan dana murah.
Berita.co – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membukukan laba bersih Rp45,2 triliun di kuartal III 2026, tumbuh 4,2 persen secara tahunan. Angka itu disampaikan manajemen BCA dalam paparan kinerja secara virtual pada Selasa (27/10/2026).
Penopang utamanya adalah kredit sebesar Rp1.063 triliun per September 2026, naik 12,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Marjin bunga bersih (NIM) juga naik dari 5,3 persen di kuartal II menjadi 5,6 persen di kuartal III 2026.
Kredit tumbuh lebih cepat dari laba
Dihitung mundur dari persentase pertumbuhannya, laba BCA setahun sebelumnya berada di kisaran Rp43,4 triliun dan kreditnya di kisaran Rp944 triliun. Artinya, BCA menambah sekitar Rp119 triliun kredit dalam setahun, sementara labanya bertambah sekitar Rp1,8 triliun.
Kredit produktif menjadi motor dengan nilai Rp831 triliun, tumbuh 17,2 persen secara tahunan. Porsinya sekitar 78 persen dari total kredit, sehingga sisanya, sekitar Rp232 triliun, berada di luar segmen produktif.
Rincian kredit produktif BCA per September 2026:
- Korporasi Rp528,1 triliun, naik 20,9 persen.
- Komersial Rp154,1 triliun, naik 7,8 persen.
- UKM Rp149,2 triliun, naik 15,4 persen.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyebut penyaluran kredit dilakukan ke korporasi, komersial, hingga UKM dengan prinsip kehati-hatian. “BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional, dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perseroan,” ujarnya.
BCA juga mencatat kredit berkelanjutan sebesar Rp280,3 triliun, tumbuh 16,3 persen. Nilai itu setara 26,4 persen dari total portofolio pembiayaan perseroan.
Dana murah menahan biaya dana
Dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 8 persen menjadi Rp1.301 triliun per September 2026. Dana giro dan tabungan (CASA) di dalamnya naik 10,4 persen menjadi Rp1.103 triliun.
Dengan komposisi itu, sekitar 84,8 persen DPK BCA berupa dana murah. Direktur BCA Vera Lim menjelaskan giro tumbuh 14,9 persen dan tabungan 7,4 persen secara tahunan.
Menurut Vera, biaya dana yang relatif stabil dari kuartal I hingga kuartal III ikut mendorong kenaikan NIM. Pertumbuhan kredit produktif menjadi faktor pendukung lainnya.
Perbandingan kredit terhadap DPK berada di kisaran 81,7 persen, hasil hitungan sederhana Rp1.063 triliun dibagi Rp1.301 triliun. Gambarannya, dari setiap Rp100 dana nasabah, sekitar Rp82 tersalurkan sebagai kredit.
Dari sisi kualitas, rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat 1,8 persen pada kuartal III 2026. Rasio loan at risk (LAR) berada di level 4,6 persen.
Bunga KMU untuk pelaku UKM
BCA menyatakan pertumbuhan kredit UKM-nya konsisten di atas rata-rata industri perbankan nasional hingga kuartal III 2026. Untuk segmen ini, BCA menawarkan Kredit Multiguna Usaha (KMU) Hari UMKM 2026 dengan bunga mulai 5,81 persen efektif per tahun.
Program ini berlaku 1 Juli 2026 hingga Januari 2027, dengan jangka waktu kredit lebih panjang. Sebagai gambaran, pinjaman Rp100 juta dengan bunga 5,81 persen efektif per tahun menghasilkan bunga sekitar Rp484 ribu di bulan pertama, sebelum pokoknya berkurang.
Angka 5,81 persen adalah batas bawah, jadi bunga final tetap bergantung pada penilaian bank atas usahamu. Pelaku UKM bisa membandingkan penawaran ini dengan skema lain, termasuk KUR, sebelum memilih sumber pembiayaan.
Pelaku usaha yang butuh tenor lebih panjang punya waktu sampai Januari 2027 untuk mengajukan lewat program ini. Di luar kebutuhan itu, skema pembiayaan lain tetap bisa jadi pembanding.

