Pesangon PHK Menurut PP 35/2021: Tabel Masa Kerja, Pengali per Alasan, dan Cara Menghitung
Hitung pesangon PHK dari tabel masa kerja PP 35/2021, pengali per alasan PHK, dan contoh masa kerja 10 serta 20 tahun. Lengkap dengan status Putusan MK dan UU Pelindungan Ketenagakerjaan.
Berita.co – Saat kena PHK, hakmu terdiri dari uang pesangon (UP), uang penghargaan masa kerja (UPMK), dan uang penggantian hak (UPH). Besar UP dan UPMK ditentukan oleh dua hal, yaitu masa kerja dan alasan PHK.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021, ketiga komponen itu dihitung dari upah sebulan dan tabel masa kerja yang baku. Peraturan ini masih menjadi acuan hitungan pesangon sampai aturan penggantinya resmi berlaku.
Angka upah adalah dasar semua hitungan di bawah. Panduan UMP dan cara membacanya membantu kamu mengecek apakah upah yang kamu terima masuk akal.
UP dan UPMK dihitung dari tabel masa kerja, sedangkan UPH dihitung dari hak yang belum kamu terima. UPH mencakup cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur, ongkos pulang, serta hal lain yang diatur di perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
Aturan ini punya satu pengecualian penting untuk usaha mikro dan kecil. Di usaha mikro dan kecil, besarannya ditetapkan berdasarkan kesepakatan, jadi tabel di bawah berlaku penuh untuk perusahaan di luar kelompok itu.
Tabel UP dan UPMK per masa kerja
UP mulai dari 1 bulan upah untuk masa kerja kurang dari 1 tahun sampai 9 bulan upah untuk masa kerja 8 tahun atau lebih. UPMK mulai dihitung pada masa kerja 3 tahun, dari 2 bulan upah sampai 10 bulan upah untuk masa kerja 24 tahun atau lebih.
| Masa kerja | UP (bulan upah) | UPMK (bulan upah) |
|---|---|---|
| Kurang dari 1 tahun | 1 bulan | Belum ada |
| 1 tahun | 2 bulan | Belum ada |
| 2 tahun | 3 bulan | Belum ada |
| 3 tahun | 4 bulan | 2 bulan |
| 4 tahun | 5 bulan | 2 bulan |
| 5 tahun | 6 bulan | 2 bulan |
| 6 tahun | 7 bulan | 3 bulan |
| 7 tahun | 8 bulan | 3 bulan |
| 8 tahun | 9 bulan | 3 bulan |
| 9 sampai 11 tahun | 9 bulan | 4 bulan |
| 12 sampai 14 tahun | 9 bulan | 5 bulan |
| 15 sampai 17 tahun | 9 bulan | 6 bulan |
| 18 sampai 20 tahun | 9 bulan | 7 bulan |
| 21 sampai 23 tahun | 9 bulan | 8 bulan |
| 24 tahun atau lebih | 9 bulan | 10 bulan |
Angka tahun di tabel berarti tahun penuh, jadi 5 tahun mencakup 5 tahun sampai kurang dari 6 tahun. Contohnya, masa kerja 5 tahun 8 bulan memberi UP 6 bulan upah dan UPMK 2 bulan upah.
Pengali per alasan PHK
Angka di tabel UP belum final, karena PP 35/2021 mengalikan UP sesuai alasan PHK. UPMK tidak ikut dikalikan dan tetap dibayar 1 kali pada semua alasan di tabel berikut.
| Alasan PHK | Pengali UP |
|---|---|
| Efisiensi karena perusahaan rugi | 0,5 kali |
| Tutup karena rugi 2 tahun berturut-turut | 0,5 kali |
| Tutup karena keadaan memaksa (force majeure) | 0,5 kali |
| PKPU karena perusahaan rugi | 0,5 kali |
| Perusahaan pailit | 0,5 kali |
| Pengambilalihan dengan perubahan syarat kerja | 0,5 kali |
| Pelanggaran setelah surat peringatan ketiga | 0,5 kali |
| Keadaan memaksa tanpa perusahaan tutup | 0,75 kali |
| Efisiensi untuk mencegah kerugian | 1 kali |
| Tutup bukan karena rugi | 1 kali |
| Penggabungan perusahaan (merger) | 1 kali |
| PKPU bukan karena perusahaan rugi | 1 kali |
| Permohonan PHK oleh pekerja | 1 kali |
| Pensiun | 1,75 kali |
| Sakit berkepanjangan | 2 kali |
| Meninggal dunia | 2 kali |
Ada juga alasan PHK yang sama sekali tidak memberi UP dan UPMK. Resign atas kemauan sendiri, mangkir selama 5 hari kerja, dan pelanggaran bersifat mendesak hanya memberi UPH ditambah uang pisah.
Jadi, alasan PHK yang tertulis di surat menentukan pengali yang kamu pakai. Pastikan alasan itu jelas sebelum kamu mulai menghitung.
Surat PHK itu juga penting di luar urusan pesangon, karena PHK bisa membuka hak uang tunai bulanan dari BPJS Ketenagakerjaan. Syarat dan cara klaimnya ada di panduan JKP BPJS Ketenagakerjaan.
Contoh hitungan 10 dan 20 tahun
Simulasi berikut adalah hitungan penulis dengan upah contoh Rp6.000.000 sebulan, memakai rumus UP dikali pengali ditambah UPMK. Angkanya hipotetis dan belum termasuk UPH.
Untuk masa kerja 10 tahun, UP-nya 9 bulan upah atau Rp54.000.000 dan UPMK-nya 4 bulan upah atau Rp24.000.000. Hasil per alasan PHK ada di tabel berikut.
| Pengali | Contoh alasan | UP | UPMK | Total |
|---|---|---|---|---|
| 0,5 kali | Efisiensi karena rugi | Rp27.000.000 | Rp24.000.000 | Rp51.000.000 |
| 0,75 kali | Force majeure tanpa tutup | Rp40.500.000 | Rp24.000.000 | Rp64.500.000 |
| 1 kali | Efisiensi untuk mencegah rugi | Rp54.000.000 | Rp24.000.000 | Rp78.000.000 |
| 1,75 kali | Pensiun | Rp94.500.000 | Rp24.000.000 | Rp118.500.000 |
| 2 kali | Meninggal dunia | Rp108.000.000 | Rp24.000.000 | Rp132.000.000 |
Untuk masa kerja 20 tahun, UP tetap 9 bulan upah karena sudah melewati batas 8 tahun. UPMK naik menjadi 7 bulan upah atau Rp42.000.000, seperti terlihat di tabel ini.
| Pengali | Contoh alasan | UP | UPMK | Total |
|---|---|---|---|---|
| 1 kali | Efisiensi untuk mencegah rugi | Rp54.000.000 | Rp42.000.000 | Rp96.000.000 |
| 1,75 kali | Pensiun | Rp94.500.000 | Rp42.000.000 | Rp136.500.000 |
Tambahan masa kerja dari 10 ke 20 tahun hanya menambah Rp18.000.000 pada pengali 1 kali. Pengali alasan PHK jauh lebih menentukan, karena pada masa kerja 10 tahun selisih pengali 0,5 kali dan 2 kali mencapai Rp81.000.000.
Kalau upahmu berbeda, ganti Rp6.000.000 dengan upah sebulanmu. Kalau asumsimu beda, hasilnya ikut berubah.
Pesangon bukan satu-satunya dana yang perlu kamu urus setelah PHK. Untuk JHT, langkahnya ada di panduan cara klaim JHT.
Aturan mana yang berlaku untuk pesangonmu?
Status aturan pesangon bergeser beberapa kali sejak 2021. Timeline berikut merangkum perubahan yang memengaruhi hitunganmu.
- 2 Februari 2021, PP 35/2021 berlaku.
- 31 Oktober 2024, Mahkamah Konstitusi memaknai tabel pesangon UU Cipta Kerja sebagai batas paling sedikit dan meminta undang-undang ketenagakerjaan baru paling lama 2 tahun.
- 6 Oktober 2026, DPR menyetujui RUU Pelindungan Ketenagakerjaan di Rapat Paripurna ke-9.
- Undang-undang itu belum bernomor, sehingga tabel PP 35/2021 tetap dipakai.
Menurut basis data JDIH BPK, PP 35/2021 berlaku sejak 2 Februari 2021 tanpa peraturan pemerintah pengubah. UU Pelindungan Ketenagakerjaan juga belum tercantum sebagai undang-undang bernomor di daftar 2026 basis data itu.
Menurut Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023 yang dibacakan 31 Oktober 2024, tabel pesangon dalam UU Cipta Kerja dimaknai sebagai batas paling sedikit. Artinya, perusahaan boleh membayar di atas tabel, tetapi tidak boleh di bawahnya.
Menurut laporan Okezone, DPR menyetujui RUU Pelindungan Ketenagakerjaan dalam Rapat Paripurna ke-9 pada Selasa, 6 Oktober 2026. Persetujuan DPR belum sama dengan undang-undang yang sudah diundangkan dan bernomor.
Mengutip CNBC Indonesia, Menteri Ketenagakerjaan menyatakan pengali 0,5 dihapus sehingga pesangon minimal 1 kali. Pernyataan itu belum punya konfirmasi resmi dalam teks undang-undang bernomor, jadi pengali di artikel ini tetap mengikuti PP 35/2021.
Bagi kamu yang sedang menghitung, pakai tabel PP 35/2021 sebagai dasar dan ingat bahwa perusahaan boleh membayar di atasnya. Kalau undang-undang pengganti diundangkan, aturan peralihannya akan menentukan PHK mana yang masih memakai pengali PP 35/2021.
Prosedur PHK dan hakmu menolak
PHK tidak langsung berlaku begitu surat diterima, karena PP 35/2021 mengatur urutan langkahnya. Timeline berikut memakai hitungan hari kerja, bukan hari kalender.
- Pengusaha menyampaikan surat pemberitahuan PHK paling lama 14 hari kerja sebelum PHK.
- Kalau tidak setuju, kamu menyampaikan penolakan tertulis paling lama 7 hari kerja setelah pemberitahuan diterima.
- Perselisihan diselesaikan lewat perundingan bipartit antara kamu dan pengusaha.
- Kalau bipartit gagal, penyelesaian berlanjut ke mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial (PPHI).
Ada satu pengaman lagi di tahap akhir. Bila bipartit gagal, PHK hanya bisa dilakukan setelah ada penetapan lembaga PPHI yang berkekuatan hukum tetap.
Kalau justru kamu yang ingin berhenti, permohonan resign diajukan tertulis paling lambat 30 hari sebelum tanggal berhenti. Jalur ini tidak memberi UP dan UPMK, seperti dijelaskan di bagian pengali.
Kesalahan umum saat menghitung
Daftar berikut disusun penulis dari aturan di atas. Cek satu per satu sebelum kamu menandatangani kesepakatan apa pun.
- Menganggap UPMK selalu ada, padahal UPMK mulai dihitung pada masa kerja 3 tahun, sehingga masa kerja 2,5 tahun hanya memberi UP 3 bulan upah.
- Menambahkan 15 persen penggantian perumahan dan pengobatan, padahal UPH di PP 35/2021 tidak lagi memuatnya dan permohonan uji materi soal Pasal 156 ayat (4) tidak dapat diterima.
- Menghitung sakit berkepanjangan dengan pengali 1 kali, padahal aturannya 2 kali UP dan 1 kali UPMK.
- Menghitung UPMK untuk resign, padahal resign tidak memberi UP maupun UPMK.
Ringkasnya, tentukan masa kerjamu, cocokkan dengan tabel UP dan UPMK, lalu kalikan UP sesuai alasan PHK. Setelah itu, tambahkan UPH dari cuti yang belum diambil dan hak lain di perjanjian kerjamu.
Kalau alasan PHK-mu efisiensi karena rugi, angka 0,5 kali adalah titik awal yang bisa kamu bawa ke perundingan bipartit. Kalau alasannya pensiun atau sakit berkepanjangan, pastikan pengali 1,75 kali atau 2 kali benar-benar dipakai.
Setelah hitungan pesangon selesai, cek juga posisi dana jaminan hari tuamu lewat panduan cara cek saldo JHT. Dua angka itu bersama-sama menunjukkan dana yang kamu pegang setelah PHK.

