Telkom Indonesia resmi mengubah struktur bisnisnya menjadi strategic holding dengan empat pilar utama. Perubahan ini diumumkan di sela Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu (26/8/2026), dan berjalan beriringan dengan pemangkasan jumlah anak usaha dari 67 menuju target 19 perusahaan.
Empat Pilar Bisnis di Balik Struktur Baru
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Indonesia Seno Soemadji menjelaskan, di bawah struktur strategic holding ini bisnis Telkom ditopang empat pilar. Pilar pertama consumer atau B2C, pilar kedua digital infrastructure yang mencakup fiber, kabel laut, satelit, power, dan pusat data. Pilar ketiga enterprise, dan pilar keempat international untuk bisnis Telkom di pasar luar negeri, menurut detikInet.
Angka empat pilar ini bukan sekadar label baru di atas kertas. Menurut Seno, tiap pilar akan beroperasi lebih independen dan transparan karena fokus bisnisnya lebih spesifik, sementara Telkom sebagai induk berfungsi sebagai strategist yang menentukan arah strategi, kebijakan, dan tata kelola portofolio, bukan lagi terjun langsung ke operasional harian tiap unit bisnis.
Tujuan dari penyederhanaan struktur ini, kata Seno, mengurangi potensi kompetisi antarbisnis di dalam Telkom Group sendiri, supaya energi perusahaan lebih terarah menghadapi kompetisi dari luar.
Anak Usaha Dipangkas dari 67 Jadi 19, Dipastikan Tanpa PHK
Di sisi lain, Telkom juga menjalankan proses streamlining anak usaha. Jumlahnya berkurang dari 67 perusahaan menjadi 48 per Juni 2026, dengan target akhir 19 anak usaha pada akhir tahun ini. Seno mengakui proses ini punya kompleksitas dan dinamika tinggi, sehingga sebagian kemungkinan masih berlanjut hingga tahun depan.
Meski jumlah anak usaha dipangkas signifikan, Seno menegaskan proses ini tidak melibatkan pemutusan hubungan kerja. Tantangan utama dalam perampingan ini justru soal budaya perusahaan dan kepentingan berbagai pihak yang terlibat, bukan soal jumlah karyawan.
Salah satu langkah konkret dalam proses ini adalah carve-out InfraNexia. Sekitar 50 persen proses pemindahannya sudah dilakukan sejak Desember tahun lalu, dan tahap berikutnya ditargetkan rampung akhir September 2026. Setelah itu, Telkom akan melanjutkan proses carve-out serupa pada bisnis enterprise.
Telkom 30, Peta Jalan Lima Tahun Menuju 2030
Restrukturisasi ini merupakan bagian dari program transformasi bernama Telkom 30, yang dirancang berjalan selama lima tahun menuju 2030. Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini menyampaikan program ini dibangun di atas empat pilar berbeda dari empat pilar bisnis di atas, yaitu operational excellence, streamlining portofolio, unlocking value dari aset infrastruktur, serta perubahan model operasional menuju strategic holding itu sendiri.
Dian menyebut transformasi ini bukan lagi opsional bagi Telkom, melainkan sesuatu yang esensial di tengah pertumbuhan kecerdasan buatan dan infrastruktur digital. Fokus investasi diarahkan ke pembangunan pusat data yang siap mendukung AI, penguatan infrastruktur domestik, serta konektivitas internasional lewat kabel laut dan layanan wholesale.
Ambisi besarnya, kata Dian, membawa Telkom bergerak dari sekadar penyedia konektivitas menjadi pemimpin infrastruktur digital, lalu pada akhirnya penggerak ekosistem AI di Indonesia.
Target 19 anak usaha belum tercapai. Per Juni 2026 realisasinya baru 48, jadi masih ada jarak cukup jauh menuju target akhir tahun. Proses carve-out enterprise juga baru akan menyusul setelah tahap InfraNexia rampung akhir September 2026.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan sektor infrastruktur digital dan data center di Indonesia, angka-angka ini baru menandai awal proses, bukan hasil akhirnya, jadi realisasi di lapangan pada kuartal berikutnya yang lebih layak ditunggu.