Kebutuhan bandwidth untuk mendukung komputasi AI di Indonesia disebut melonjak 10 sampai 20 kali lipat dibanding kondisi sebelumnya. Angka itu jadi salah satu alasan Telkom Indonesia menaikkan porsi belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk infrastruktur digital, termasuk pusat data yang siap menampung beban kerja AI.
Rencana ini disampaikan dalam rangkaian Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Bali. Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini memaparkannya dalam keynote pembukaan acara pada Rabu (26/8/2026), sebagaimana diberitakan detikInet. Dian mengatakan Telkom Group menjadikan pembangunan infrastruktur pusat data siap AI sebagai salah satu dari tiga inisiatif utama perusahaan, di luar bisnis mobile broadband dan fixed broadband. Inisiatif ini dijalankan lewat anak usaha data center Telkom, NeutraDC.
Menurut Dian, kebutuhan infrastruktur digital sekarang tidak lagi sekadar menghubungkan satu titik ke titik lain. Jaringan internasional harus tersambung dengan jaringan domestik, pusat data, kapasitas komputasi, sampai layanan digital berbasis AI. NeutraDC diposisikan untuk memperkuat posisi Telkom di sektor pusat data sekaligus mendukung generasi AI berikutnya, mulai dari kapasitas, konektivitas, sampai kemitraan strategis.
Titik Sebar Pusat Data dan Angka Capex
Sehari sebelum keynote itu, dalam keterangan pers pada Selasa (25/8/2026) di lokasi yang sama, Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba menjelaskan pertumbuhan data center di Indonesia untuk mendukung AI saat ini paling terlihat di dua kota, yaitu Jakarta dan Batam. Konektivitas jadi salah satu faktor yang memungkinkan ekspansi tersebut.
Budi juga menyebut kebutuhan konektivitas untuk aktivitas komputasi AI naik lebih dari 10 kali, atau 10 sampai 20 kali dibanding sebelumnya. Angka serupa turut disampaikan Telin, anak usaha Telkom untuk kabel laut internasional, lewat Direktur Utama Telin Abdul Rahman Ansyori, yang menyebut kebutuhan bandwidth untuk AI mencapai 10 kali lipat, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Soal capex, Dian menyebut rasio belanja modal Telkom terhadap pendapatan perusahaan berada di kisaran 18 sampai 20 persen. Dana itu dialokasikan tidak hanya untuk satu jenis infrastruktur, melainkan tersebar ke pembangunan jaringan seluler, fiber network domestik, kabel laut internasional, sampai power dan data center. Besaran investasi ditentukan antara lain dengan mempertimbangkan potensi pendapatan dan lama waktu balik modal.
Kenapa Kabel Laut Jadi Titik Krusial
Salah satu ilustrasi yang dipakai Budi untuk menggambarkan lonjakan permintaan itu adalah kabel laut Bifrost yang menghubungkan Singapura sampai Amerika Serikat. Pembangunan sistem kabel ini butuh waktu sekitar lima tahun, tapi kapasitasnya disebut sudah habis terpakai kurang dari setahun setelah rampung.
Bagi kamu yang bertanya kenapa detail kabel laut ini relevan buat pembahasan AI, jawabannya ada di rantai infrastruktur. Model AI dan layanan cloud yang kamu pakai sehari-hari berjalan di server yang butuh koneksi berkapasitas besar antar pusat data, termasuk lintas negara. Kalau kabel penghubungnya penuh lebih cepat dari perkiraan, penyedia layanan harus mempercepat pembangunan kapasitas baru, dan ongkos percepatan itu pada akhirnya tercermin di capex operator seperti Telkom.
Telin sendiri mencatat pendapatan dari bisnis kabel laut internasional tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan, dan perusahaan berencana melanjutkan pengembangan kabel laut internasional ke depan.
Tradeoff yang Perlu Diperhatikan
Klaim kenaikan kebutuhan bandwidth 10 sampai 20 kali lipat datang langsung dari eksekutif Telkom dan Telin dalam forum internal perusahaan, bukan dari lembaga riset independen, jadi perlu dibaca sebagai argumen bisnis untuk menjustifikasi kenaikan capex, bukan angka yang sudah diverifikasi pihak ketiga. Yang lebih terukur adalah pola nyatanya, kapasitas kabel Bifrost yang dibangun lima tahun tapi habis dalam waktu kurang dari setahun, dan rasio capex 18-20 persen dari pendapatan yang jadi acuan resmi perusahaan.
Bagi pengguna layanan digital di Indonesia, dampaknya baru terasa belakangan, lewat ketersediaan dan stabilitas layanan berbasis AI serta cloud yang bergantung pada kapasitas pusat data dan jaringan backbone ini. Soal apakah kenaikan capex sebesar itu akan langsung menekan tarif layanan Telkom ke konsumen, belum ada penjelasan rinci dari manajemen dalam paparan di BATIC 2026.