TERKINI
Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam/// Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam///
Teknologi

El Nino Super Resmi Terjadi, Anomali Suhu Pasifik Pecah Rekor 2015

Anomali suhu di Pasifik mencapai 3,05 derajat Celsius pada September 2026, melampaui rekor 2015, dan lembaga meteorologi memperingatkan risiko kekeringan meluas di kawasan ASEAN hingga awal 2027.

Berita.co – Fenomena El Nino tahun ini resmi memasuki fase sangat kuat, yang biasa disebut “super El Nino”, mulai minggu kedua September 2026.

Sejumlah lembaga meteorologi dan ilmuwan iklim melaporkan angka anomali suhu yang mendekati atau bahkan melampaui rekor tahun 2015, tahun terakhir super El Nino tercatat.

Angka anomali yang jadi acuan

Tercatat anomali suhu di Samudra Pasifik sudah mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020. Angka ini melewati rekor sebelumnya, 3,02 derajat Celsius, yang tercatat akhir November 2015.

Penting dipahami, angka 3,05 derajat itu bukan kenaikan suhu rata-rata seluruh Bumi. Angka tersebut mengukur selisih suhu di satu wilayah pemantauan khusus El Nino di Pasifik, dibandingkan rata-rata acuannya sendiri. Jadi ini bukan ukuran pemanasan global, melainkan ukuran seberapa jauh wilayah itu menyimpang dari kondisi normalnya.

Ukuran lain yang lebih sering dipakai ahli meteorologi disebut ONI, diukur di wilayah Nino 3.4. Menurut laporan yang sama, angka ONI saat ini hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015. ONI memakai rata-rata acuan 30 tahun yang diperbarui berkala supaya perhitungan pemanasan global akibat aktivitas manusia ikut terkoreksi. Kedua ukuran ini bersandar pada data Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA).

Sebagai patokan kategori, El Nino dengan anomali di atas 2 derajat Celsius sudah masuk kelas sangat kuat alias “super El Nino”. Dengan angka 3,05 derajat, fenomena tahun ini sudah jauh melewati ambang itu.

Proyeksi sampai akhir tahun

Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model iklim yang rata-rata memproyeksikan anomali bisa mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember 2026, menurut analisis yang diterbitkan Carbon Brief dan dikutip laporan itu. Hausfather menyebut analisis terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah mengindikasikan belum ada El Nino yang mencapai tingkat tersebut dalam kurun sekitar 1.000 tahun terakhir.

Fase super El Nino kali ini tercatat sebagai yang keenam dalam lebih dari 70 tahun terakhir yang mencapai intensitas setinggi ini, menurut laporan SindoNews. Untuk periode Oktober sampai Desember 2026, intensitasnya diperkirakan tetap sangat kuat dan kemungkinan mencapai puncak yang setara dengan musim kemarau 2015-2016, salah satu musim kekeringan terparah yang pernah tercatat di kawasan itu. Memasuki Januari sampai Maret 2027, intensitas El Nino diperkirakan masih sangat kuat meski probabilitasnya berangsur menurun.

Dampak yang sudah dilaporkan di ASEAN

Di Vietnam, wilayah Tengah, Dataran Tinggi Tengah, dan Selatan disebut berisiko mengalami kekeringan parah serta kekurangan air untuk kebutuhan domestik, produksi, dan pembangkit listrik. Curah hujan dari sekarang sampai akhir 2026 diperkirakan defisit sekitar 20 sampai 40 persen di wilayah Pesisir Selatan Tengah, Dataran Tinggi Tengah, dan Selatan, dengan musim hujan yang berakhir lebih awal dari biasanya.

Suhu rata-rata musim dingin 2026-2027 di kawasan itu diperkirakan 1 sampai 2,5 derajat Celsius lebih tinggi dibanding rata-rata beberapa tahun terakhir, dan cuaca panas awal 2027 diperkirakan datang lebih cepat dengan hari panas yang lebih banyak dibanding 2026.

Di Indonesia, kondisi panas dan kering yang dipicu El Nino sebelumnya sudah memicu kebakaran yang memecahkan rekor serta polusi udara pada tingkat mematikan, menurut laporan yang mengutip data historis. Dampak juga meluas ke sektor pangan di kawasan lain, hujan monsun yang penting bagi pertanian berkurang di India, sementara kekeringan di Amerika Tengah dan Karibia menyebabkan gagal panen.

Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan pada Agustus 2026 bahwa dampak El Nino berpotensi mendorong sekitar 50 juta orang mengalami kelaparan akut dan meningkatkan harga pangan.

Profesor Friederike Otto dari Imperial College London, dikutip dari The Guardian, menjelaskan fenomena ini menyebabkan redistribusi energi dalam jumlah besar di dalam sistem iklim yang sudah semakin hangat akibat aktivitas manusia.

“Di banyak tempat di dunia, kita akan menyaksikan panas ekstrem yang belum pernah dialami sebelumnya, dengan segala konsekuensinya terhadap kesehatan, ketahanan pangan, dan tekanan terhadap ketersediaan air,” kata Otto.

Otto juga mengingatkan bahwa El Nino datang dan pergi, tetapi pembakaran bahan bakar fosil membuat fenomena itu berlangsung pada suhu dasar Bumi yang terus meningkat, sehingga konsekuensinya menjadi lebih sulit dihadapi masyarakat.

Kalau kamu bukan orang teknis di bidang iklim, cara paling sederhana membaca angka-angka di atas begini. Anomali 3,05 derajat Celsius itu bukan berarti suhu di sekitar kamu naik segitu, angka itu ukuran penyimpangan suhu laut di satu titik pemantauan khusus, bukan suhu udara harian.

Yang lebih relevan buat kehidupan sehari-hari adalah dampak turunannya yang sudah disebut di atas, yaitu risiko kekeringan, defisit curah hujan, dan potensi kenaikan harga pangan, karena itu angka yang langsung terasa di kantong dan aktivitas harian.

Angka probabilitas dan proyeksi model pada laporan ini juga bukan kepastian. Sumbernya adalah rata-rata dari 14 model iklim berbeda dan prakiraan resmi lembaga meteorologi, jadi rentang hasilnya bisa berubah seiring data baru masuk sampai fenomena ini benar-benar mencapai puncaknya, yang diperkirakan berlangsung sampai awal 2027.

Berita Terkait

Teknologi · ASEAN