BMKG: Puncak Musim Kemarau Bertahan sampai Akhir Oktober 2026, Yogyakarta 131 Hari Tanpa Hujan
BMKG memprakirakan puncak musim kemarau masih bertahan sampai akhir Oktober 2026, sementara deret hari tanpa hujan terpanjang sudah menembus 131 hari di Yogyakarta. Ini arti angka-angka tersebut untuk beberapa pekan ke depan.
Berita.co – Dua angka soal kemarau tahun ini gampang tertukar artinya: “puncak musim kemarau sampai akhir Oktober” dan “131 hari tanpa hujan”. Keduanya berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tetapi mengukur hal yang berbeda, dan cuma satu yang menggambarkan kondisi sebuah wilayah hari ini.
Puncak kemarau diprakirakan bertahan sampai akhir Oktober 2026
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Pernyataan itu disampaikan lewat keterangan di laman resmi BMKG pada Kamis, 17 September 2026, dan dikutip CNN Indonesia.
Durasi musim kemarau tahun ini diprakirakan tiga sampai tujuh bulan, tergantung wilayahnya. Kemarau berpotensi lebih panjang di 437 Zona Musim (ZOM), setara 48,77 persen luas daratan Indonesia. ZOM adalah pembagian wilayah berdasarkan pola hujannya, jadi satu provinsi bisa terdiri atas beberapa zona dengan jadwal musim yang tidak sama.
Untuk periode Dasarian III September sampai Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan rendah sampai menengah, sekitar 0 sampai 150 mm per dasarian. Dasarian adalah satuan waktu 10 harian yang dipakai BMKG. Buat kamu yang menunggu hujan, angka itu artinya hujan masih mungkin turun sesekali, tetapi pasokan uap air belum cukup untuk membentuk hujan yang rutin.
Wilayah dengan deret hari tanpa hujan terpanjang
Angka yang lebih terasa di lapangan adalah Hari Tanpa Hujan (HTH), yaitu jumlah hari berturut-turut tanpa hujan di satu wilayah. Berdasarkan pemutakhiran data BMKG per 10 September 2026 yang dirangkum CNBC Indonesia pada Jumat, 18 September 2026, deret terpanjang tercatat di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan 131 hari, atau lebih dari empat bulan.
Berikut wilayah dengan Hari Tanpa Hujan terpanjang menurut data tersebut:
- DI Yogyakarta: 131 hari
- Jawa Tengah: 130 hari
- Jawa Timur: 129 hari
- Nusa Tenggara Timur: 118 hari
- Nusa Tenggara Barat: 115 hari
- Bali: 113 hari
- Jawa Barat: 110 hari
- Banten: 108 hari
- Sulawesi Selatan: 102 hari
- Maluku: 94 hari
- Sulawesi Barat: 91 hari
- Kalimantan Selatan: 89 hari
- Kalimantan Tengah: 89 hari
- Sulawesi Tenggara: 89 hari
- Gorontalo: 89 hari
- Sulawesi Utara: 88 hari
- Maluku Utara: 86 hari
Pada periode data yang sama, 564 ZOM atau 80,7 persen wilayah masih berada di musim kemarau, sementara baru 22 ZOM atau 3,1 persen yang sudah masuk musim hujan. Jadi status “sudah masuk musim hujan” baru berlaku untuk bagian kecil Indonesia.
El Nino sangat kuat jadi alasan keringnya bertahan
Kondisi kering yang bertahan ini dikaitkan BMKG dengan El Nino kategori sangat kuat, yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia. Efek lanjutannya bukan cuma hujan yang telat: risiko kebakaran hutan dan lahan ikut naik, dan sejumlah daerah memang masih menghadapi karhutla saat ini.
Di skala global, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan ada 90 persen kemungkinan 2026 menghasilkan El Nino terkuat dalam 150 tahun terakhir, bertepatan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. IOD adalah selisih suhu antara Samudra Hindia tropis bagian barat dan timur, dan selisih itu ikut menentukan curah hujan serta angin di negara-negara sekitarnya.
Ahli pemodelan iklim dari Institut Meteorologi Tropis India, Ankur Srivastava, seperti dikutip jurnal Nature pada 8 September 2026, menjelaskan dampak pertemuan dua anomali iklim ini bergantung pada seberapa kuat masing-masing fenomena dan ada tidaknya fenomena cuaca lain pada periode yang sama. Penjelasan itu berangkat dari kasus monsun India, bukan dari kondisi Indonesia, jadi jangan langsung dibaca sebagai prakiraan untuk daerah kamu.
BMKG lewat akun Instagram resminya mengingatkan dua hal sekaligus: wilayah kering tetap hemat air, dan wilayah yang sudah sering hujan memastikan selokan bersih supaya aliran air lancar.
Tradeoff-nya ada di masa transisi seperti sekarang. Kalau kamu tinggal di wilayah dengan HTH panjang, hemat air masih relevan beberapa pekan ke depan karena puncak kemarau diprakirakan belum lewat. Tetapi membereskan saluran air lebih awal juga tidak sia-sia, karena peralihan musim tidak terjadi serempak di seluruh Indonesia dan zona di sekitarmu bisa masuk musim hujan lebih dulu daripada perkiraanmu.
