TERKINI
Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam/// Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam///
Teknologi

BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan 2026/2027, Ini Arti Rekor 131 Hari Tanpa Hujan buat Kamu

BMKG memaparkan data di balik kemarau ekstrem 2026, dari rekor 131 hari tanpa hujan di Bantul dan anomali suhu El Nino, sampai jadwal bertahap puncak musim hujan 2026/2027 dan wilayah yang perlu waspada bencana hidrometeorologis.

Berita.co – Angka 131 hari tanpa hujan yang muncul dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pekan ini gampang disalahpahami. Itu bukan berarti hujan tidak akan pernah turun lagi, melainkan rekor jeda terpanjang yang tercatat di satu titik pengamatan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akibat fenomena El Nino yang saat ini berkategori sangat kuat. BMKG memaparkan data ini dalam konferensi pers pada Selasa, 22 September 2026.

Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, menjelaskan tren Hari Tanpa Hujan (HTH), yakni jumlah hari berturut-turut tanpa curah hujan tercatat, memang sedang meluas. Menurut paparan yang dilaporkan CNN Indonesia, banyak pos pengamatan di 25 provinsi mencatat HTH berturut-turut lebih dari 60 hari, dengan Bantul memegang rekor 131 hari.

Kenapa El Nino bikin angka ini melonjak

Penyebabnya adalah anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik, yang selama Juli sampai September 2026 tercatat menembus angka plus 2,63. Angka ini yang jadi patokan BMKG untuk menyatakan El Nino sekarang berkategori sangat kuat, bukan sekadar kuat atau moderat. Semakin tinggi anomali suhu itu, semakin besar potensi kemarau meluas dan berkepanjangan di wilayah Indonesia.

Dampaknya kelihatan di 556 Zona Musim (ZOM), atau 61,91 persen luas daratan Indonesia, yang sampai sekarang masih terjebak musim kemarau panjang. ZOM sendiri adalah satuan pembagian wilayah versi BMKG berdasarkan pola musim, bukan wilayah administratif seperti provinsi atau kabupaten, sehingga satu provinsi bisa terbagi jadi beberapa ZOM dengan jadwal musim yang berbeda beda. Bahkan 98 dari 110 ZOM yang biasanya basah sepanjang tahun kali ini ikut berbalik mengalami kemarau.

Jatim jadi contoh nyata dampaknya

Kondisi ini terasa langsung di Jawa Timur, yang saat ini berada tepat di puncak musim kemarau. Staf Analisa dan Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Firda Amalia, mengonfirmasi wilayah itu masih harus bersiap menghadapi cuaca kering setidaknya sampai dua bulan ke depan. Curah hujan Oktober diperkirakan cuma 0 sampai 50 milimeter per bulan, kategori terendah dalam skala BMKG. Baru pada November angkanya naik tipis ke kisaran 51 sampai 100 milimeter, dan lonjakan yang berarti, sampai 300 sampai 400 milimeter per bulan, diperkirakan baru terjadi Desember.

Firda menambahkan hujan tetap bisa turun sesekali di tengah kemarau ini. Faktor lokal seperti topografi pegunungan dan kelembapan udara tinggi, atau faktor regional seperti gangguan gelombang Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO), bisa memicu hujan tiba tiba meski wilayah itu sedang tercatat kering.

Kapan hujan beneran datang

Untuk skala nasional, BMKG memperkirakan awal musim hujan mulai masuk bertahap, dimulai November 2026 di 185 ZOM dan disusul Desember 2026 di 266 ZOM. Titik puncaknya sendiri tersebar dalam tiga gelombang, Desember 2026 di 155 ZOM (36,94 persen luas daratan), Januari 2027 di 162 ZOM (25,68 persen luas daratan), dan Februari 2027 di 190 ZOM (16,79 persen luas daratan). Artinya, puncak musim hujan tahun ini tidak serentak, jadwalnya tergantung kamu tinggal di ZOM yang mana.

Meski datangnya terlambat dari kebiasaan, akumulasi curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia diprediksi tetap berada di kategori normal. El Nino sendiri diproyeksikan bertahan sampai kuartal pertama 2027, jadi transisi dari kemarau ke musim hujan kemungkinan tidak berlangsung mulus.

Yang perlu diwaspadai saat hujan mulai turun

Ardhasena mengingatkan lonjakan curah hujan di puncak musim hujan berpotensi memicu bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor. Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyebut wilayah yang secara historis rawan meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua, dan sebagian Maluku.

Menurutnya periode musim hujan kali ini cenderung pendek, tapi curah hujannya lebih tinggi dari normal, sehingga hujan bisa jatuh secara intens dalam waktu singkat. BMKG mengimbau optimalisasi sistem drainase dan kesiapan evakuasi sebagai antisipasi.

Kalau kamu tinggal di wilayah yang sekarang tercatat kering panjang, angka HTH dan anomali suhu Nino 3.4 menjelaskan kenapa kemarau terasa lebih lama dari biasanya, bukan sinyal bahwa musim hujan tidak akan datang. Sebaliknya, kalau kamu ada di ZOM yang masuk jadwal puncak hujan Desember sampai Februari, angka curah hujan tinggi itu justru jadi alasan buat menyiapkan drainase dan jalur evakuasi lebih awal, bukan cuma menunggu hujan reda.

Berita Terkait

Teknologi · BMKG