Data Center Jatiluhur dan Batam Disorot Soal Kebutuhan Air dan Energi
Proyek data center di Jatiluhur dan Batam disorot soal kebutuhan air dan energi. Komdigi, pengamat, dan penyedia air bicara soal cara menyeimbangkannya.
Berita.co – Pembangunan data center di Jatiluhur dan Batam sedang jadi perhatian, bukan soal seberapa cepat proyeknya berdiri, tapi soal seberapa besar kebutuhan air dan energi yang menyertainya.
Proyek data center BDx di Jatiluhur, Purwakarta, dilaporkan dihentikan pembangunannya, sementara proyek sejenis di Batam juga menghadapi pertanyaan yang sama soal dampak ke sumber daya air dan listrik di sekitarnya.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menyoroti persoalan di awal Oktober 2026. Menurutnya, kebutuhan data center di Indonesia akan terus naik seiring pertumbuhan pengguna internet dan makin beragamnya platform digital yang dipakai masyarakat. Konsekuensinya, kebutuhan listrik dan air untuk sistem pendingin data center ikut naik.
Bukan Cuma Soal Investasi dan Kapasitas
Nailul menekankan, pembangunan data center tidak cukup dilihat dari sisi investasi dan kapasitas komputasi saja. Sumber air yang dipakai harus dipastikan tidak mengganggu ekosistem sekitar, dan kebutuhan listriknya sebaiknya dibarengi energi baru terbarukan (EBT).
Buat dia, kasus BDx di Jatiluhur jadi pengingat bahwa ambisi mempercepat ekonomi digital perlu berjalan seiring dengan kepatuhan lingkungan dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, apalagi kebutuhan komputasi makin besar karena AI dan cloud computing.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid ikut bicara soal ini. Ditemui wartawan di Gedung Komdigi, Jakarta Pusat, pada Rabu (7/10/2026), Meutya menyebut kebutuhan komputasi Indonesia memang wajar diimbangi pembangunan data center. Tapi kecukupan energi dan air untuk layanan publik tidak boleh terganggu karenanya.
Meutya menjelaskan, penentuan lokasi data center harus memperhitungkan ketersediaan air, besar kebutuhan energi di area itu, sampai ketersediaan sinyal. Ia menyebut Batam dan Jatiluhur sebagai dua lokasi yang sudah jadi perdebatan publik soal keseimbangan ini.
Pembangunan data center menurutnya tetap bisa dipertimbangkan buat Indonesia, yang pertumbuhan digitalnya masih cepat, asalkan lokasinya dipilih dengan ketat dan tidak mengorbankan kebutuhan air serta energi masyarakat sekitar.
Dari Sisi Penyedia Air, Peluang Bukan Cuma Beban
Dilihat dari penyedia air, situasinya tidak sesederhana besar atau kecilnya air tersisa. Direktur Utama Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu, Riana Afriadi, dalam keterangan resmi pada Kamis (8/10/2026), menyebut kehadiran data center sebagai pelanggan industri besar justru bisa jadi peluang buat memperkuat layanan air bersih.
Pendapatan dari pelanggan industri bisa dipakai buat memperbarui infrastruktur dan memperluas cakupan layanan ke masyarakat, asalkan kebutuhan air industri dan rumah tangga dikelola dari alokasi yang berbeda sejak awal.
Contoh konkretnya ada di Purwakarta. Pemerintah daerah di sana menyebut masih ada alokasi air baku untuk sistem penyediaan air minum yang belum sepenuhnya terpakai, sehingga sebagian bisa dialokasikan ke industri tanpa mengganggu prioritas kebutuhan masyarakat.
Teknologi pendinginan data center juga ikut menentukan seberapa besar air yang dipakai, mulai dari cooling tower dan evaporative cooling yang menguapkan air, sampai opsi yang lebih hemat seperti air-cooled chiller, economizer, atau sistem closed-loop dan dry cooling.
Anggota Dewan Energi Nasional, Satya Yudha, menambahkan bahwa ketersediaan air dan energi terbarukan Indonesia justru bisa jadi keunggulan buat menarik investasi data center, bukan penghalangnya.
Jadi, data center bukan cuma server dan rak di gedung tertutup. Dia bagian dari jaringan yang menopang hampir semua layanan digital yang kamu pakai setiap hari, mulai dari aplikasi berbasis AI sampai layanan cloud. Makin banyak orang pakai layanan itu, makin besar pula kebutuhan komputasi, dan makin besar juga kebutuhan air serta listrik di baliknya.
Tiga sudut pandang di atas, pengamat, regulator, dan penyedia air, sebenarnya mengarah ke satu titik yang sama: lokasi dan sumber daya data center tidak bisa ditentukan sembarangan.
Masalahnya bukan apakah Indonesia butuh lebih banyak data center atau tidak, tapi bagaimana kebutuhan air dan energinya dipenuhi tanpa mengorbankan akses masyarakat sekitar. Belum ada jawaban tunggal soal itu, dan kasus Jatiluhur serta Batam menunjukkan tarik ulurnya masih berlangsung.

