Teknologi

Adam Mosseri Bersaksi Sidang Kecanduan Medsos, Fitur Take a Break Nyaris Tak Terpakai

Adam Mosseri, bos Instagram, memberikan kesaksian di persidangan federal Amerika Serikat pada Rabu, 26 Agustus 2026, terkait tuduhan bahwa Instagram dirancang membuat remaja kecanduan media sosial.

Persidangan berlangsung di Pengadilan Federal Oakland, California, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia. Gugatan ini diajukan jaksa agung dari 29 negara bagian AS terhadap Meta Platforms, induk usaha Instagram dan Facebook. Penggugat menuduh Meta sengaja merancang kedua platform itu agar anak-anak kecanduan demi keuntungan perusahaan.

Empat dari 29 negara bagian itu, yaitu California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey, secara spesifik menuding desain platform memicu kecemasan, depresi, hingga perilaku bunuh diri pada remaja. Sebanyak 29 negara bagian itu juga menuduh Meta melanggar hukum federal karena mengumpulkan data pribadi anak di bawah 13 tahun tanpa izin. Meta membantah tuduhan itu dan menyatakan riset internal mereka tidak menunjukkan hubungan sebab akibat yang jelas antara pemakaian medsos dan penurunan kesejahteraan remaja.

Data internal yang diduga disembunyikan

Materi persidangan menampilkan presentasi internal tim desain Instagram dari 2023, sebagaimana dilaporkan Liputan6. Dokumen itu mencatat proporsi remaja yang menonton konten soal bunuh diri, melukai diri sendiri, dan gangguan makan 2,5 kali lebih besar dibanding pengguna dewasa. Konten yang tergolong “tidak direkomendasikan” juga ditonton remaja dengan rasio 1,5 kali lebih tinggi. Pesan internal yang terungkap di persidangan menyebut seorang pengacara Meta meminta tim menghapus sebagian data itu sebelum sampai ke Mosseri, dengan alasan membatasi “paparan informasi” kepadanya.

Direktur Desain Produk Instagram, Francesco Fogu, memberikan keterangan lain soal presentasi 2023 itu di persidangan. Menurutnya, timnya sempat menghapus data dari slide yang menunjukkan remaja terpapar konten perundungan, kekerasan, dan ketelanjangan 1,5 kali lebih banyak dibanding pengguna dewasa, sebelum akhirnya data itu tetap disampaikan secara lisan ke pimpinan. Presentasi itu, menurut Fogu, menjadi salah satu pemicu lahirnya fitur Akun Remaja (Teen Accounts) di Instagram.

Mosseri membantah pernah memerintahkan penyembunyian data. “Saya tidak pernah menyuruh tim menyembunyikan apa pun,” katanya di persidangan. Ia menyebut keterlibatan tim hukum Meta murni untuk memastikan akurasi data dan kepatuhan hukum sebelum informasi itu sampai ke pimpinan.

Fitur “Take a Break”: ada, tapi hampir tidak dipakai

Bagian paling relevan dari kesaksian Mosseri buat kamu yang pakai Instagram sehari-hari bukan soal siapa menyembunyikan apa, tapi soal satu fitur keselamatan bernama “Take a Break” atau Istirahat Sejenak. Fitur ini dirancang mendorong pengguna menutup aplikasi setelah durasi tertentu, dan resmi meluncur Desember 2021. Masalahnya, fitur ini butuh diaktifkan sendiri oleh pengguna alias opt-in, bukan menyala otomatis.

Hasilnya bisa ditebak. Mosseri mengakui persentase remaja yang benar-benar mengaktifkan fitur ini ada di angka satu digit, alias di bawah 10 persen. Mantan ilmuwan data Meta, George Volichenko, menyebut angka pastinya lebih ekstrem lagi, hanya 0,165 persen remaja yang mengaktifkan fitur ini saat awal peluncuran, baru naik tipis ke 0,2 persen setelahnya. Secara keseluruhan pengguna, termasuk dewasa, tingkat aktivasi fitur ini cuma 1,8 persen saat pertama kali dirilis.

Angka-angka ini menjelaskan satu hal teknis yang sering luput dari pengguna biasa. Fitur keselamatan yang harus dicari dan dinyalakan sendiri, hampir selalu berakhir tidak dipakai, sebagus apa pun rancangannya. Baru setelah Meta mengubah “Take a Break” menjadi pengaturan default untuk Akun Remaja pada September 2024, hampir tiga tahun sejak fitur ini pertama kali dirilis, penggunaannya otomatis berlaku ke seluruh akun remaja tanpa perlu diaktifkan manual. Bedanya bukan soal fiturnya jadi lebih canggih, tapi soal siapa yang harus mengambil langkah pertama, penggunanya atau sistemnya.

Di persidangan, Hakim Yvonne Gonzalez Rogers sempat menegur Fogu karena tidak mengetahui angka adopsi tertinggi fitur tersebut sebelum jadi default. Mosseri sendiri menanggapi sorotan ini dengan nada frustrasi, menilai persidangan terlalu berfokus pada satu fitur yang gagal, padahal menurutnya Meta terus melakukan perbaikan pada Akun Remaja yang kini wajib bagi pengguna di bawah 16 tahun.

Ancaman sanksi dan kelanjutan persidangan

Soal potensi denda, angka yang beredar di pemberitaan berbeda-beda tergantung basis hitungannya. Salah satu pemberitaan menyebut penggugat berpotensi mengincar denda hingga sekitar Rp22.000 triliun, setara USD 1,4 triliun. Pemberitaan lain menyebut sanksi perdata gabungan dari 29 negara bagian bisa mencapai hampir Rp3.500 triliun, setara USD 200 miliar. Kedua angka itu belum final karena persidangan sendiri diproyeksikan masih berlangsung selama enam pekan ke depan, dengan Hakim Gonzalez Rogers yang akan menentukan keputusan akhir soal sanksi maupun kemungkinan perombakan desain Instagram dan Facebook.

Kesaksian Mosseri menandai awal dari rangkaian kesaksian eksekutif Meta lainnya. CEO Meta, Mark Zuckerberg, dijadwalkan turut bersaksi dalam persidangan ini.

Meta sebelumnya juga menghadapi tekanan hukum serupa di kasus lain. Juri di Los Angeles memutus Meta dan Alphabet (Google) bersalah atas kelalaian desain dan mewajibkan ganti rugi USD 6 juta kepada seorang wanita berusia 20 tahun yang disebut kecanduan sejak kecil. Di New Mexico, hakim memerintahkan Meta membayar USD 567 juta untuk penanganan kesehatan mental remaja, setelah platformnya dinilai sebagai gangguan publik.

Roni Eka Setiawan

Roni Eka Setiawan

Editor

Menulis kanal Teknologi di Berita.co. Backend engineer di Airpaz, sebelumnya web platform engineer di Bank Rakyat Indonesia dan Kompas Gramedia, jadi spesifikasi dan komparasi gadget di sini ditulis dari sudut orang yang tiap hari bekerja dengan teknologinya.

linkedin.com View all articles