Angka ini yang bikin banyak orang tua resah, sekitar satu dari enam anak muda usia 10 sampai 24 tahun di Singapura menunjukkan tanda-tanda pemakaian media sosial yang bermasalah. Sebagian bahkan menghabiskan enam sampai tujuh jam sehari di medsos dan masih membuka aplikasi sampai dini hari. Penyebabnya bukan cuma soal kemauan anak, tapi juga cara platform dirancang supaya kamu terus menggulir, mengeklik, dan balik lagi.
Data itu disampaikan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, dalam pidato National Day Rally 2026 yang disiarkan lewat kanal YouTube Prime Minister’s Office, Singapore, Senin (24/8). Menurut laporan kumparan.com, Wong bilang otak anak dan remaja masih berkembang sehingga lebih gampang terpengaruh tekanan sosial dan fitur aplikasi yang memang dirancang bikin ketagihan.
Singapura Mau Perketat Verifikasi Usia
Wong menyebut batas usia minimum 13 tahun saja tidak cukup, karena selama ini kebanyakan platform cuma mengandalkan pengguna mengaku sendiri umurnya saat bikin akun. Ia mengaku melihat langsung banyak anak sekolah dasar di Singapura yang sudah pakai medsos saat berkunjung ke sejumlah sekolah.
Karena itu pemerintah Singapura akan mewajibkan platform menerapkan sistem pemeriksaan usia yang lebih kuat, dan tidak menutup kemungkinan menaikkan batas usia minimum akses medsos ke atas 13 tahun kalau langkah yang ada sekarang masih dianggap kurang.
Perlindungan juga bakal diperluas buat remaja yang sudah di atas 13 tahun, lewat kewajiban proteksi tambahan dari platform yang melayani pengguna muda.
Indonesia Sudah Lebih Dulu Jalan lewat PP Tunas
Di Indonesia, aturan serupa sebenarnya sudah lebih dulu berjalan. Sejak 28 Maret 2026, pemerintah memberlakukan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang biasa disingkat PP Tunas. Aturan turunannya, Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026, memperjelas kewajiban itu jadi standar operasional, bukan sekadar imbauan.
Praktiknya, platform wajib memverifikasi usia pengguna lebih jauh dari sekadar mengisi tanggal lahir, dan mengelompokkan anak ke rentang usia spesifik mulai dari 3 sampai 5 tahun hingga 16 sampai 18 tahun. Anak di bawah 13 tahun cuma boleh mengakses layanan berisiko rendah yang memang dirancang untuk mereka.
Platform juga wajib menyediakan fitur kontrol orang tua, meminta persetujuan orang tua untuk pendaftaran akun anak, dan memberi opsi bagi orang tua untuk menolak penggunaan layanan. Platform yang tidak patuh terancam sanksi mulai dari teguran tertulis, denda, penghentian sementara layanan, sampai pemutusan akses.
Di Amerika Serikat, Eks Petinggi Meta Buka Suara di Pengadilan
Tekanan yang sama juga muncul dari arah berbeda. Menurut laporan detikInet yang mengutip NBC, mantan direktur teknik Meta Platforms, Arturo Bejar, bersaksi di persidangan federal di Oakland, California, yang diperkirakan berlangsung enam minggu. Bejar bersaksi mewakili koalisi negara bagian yang menggugat Meta, termasuk California, Colorado, Kentucky, New Jersey, dan 25 negara bagian lain.
Gugatan itu menuduh Meta sengaja mendesain Facebook dan Instagram supaya menjerat pengguna muda sehingga memicu kecemasan, depresi, bahkan risiko bunuh diri, sekaligus menyesatkan konsumen soal keselamatan mereka. Negara-negara bagian itu juga menuduh Meta melanggar hukum federal karena mengumpulkan dan memakai data pribadi anak di bawah 13 tahun.
Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers yang menangani perkara ini nantinya akan menentukan bersalah tidaknya Meta berdasarkan putusan juri, sekaligus hukuman dan perubahan yang harus dilakukan Facebook dan Instagram kalau terbukti bersalah.
Bejar bekerja di Meta pada 2009 sampai 2015, lalu kembali sebagai kontraktor pada 2019 sampai 2021 untuk meneliti kesejahteraan remaja pengguna Instagram. Ia menyebut Zuckerberg sangat terlibat dalam banyak keputusan, sampai-sampai perubahan desain produk cuma terjadi kalau Zuckerberg sendiri yang memerintahkan.
Ia juga membantah pernyataan Zuckerberg pada Oktober 2021 yang saat itu mengaku Meta konsisten memakai riset untuk memperbaiki produknya, menyusul tuduhan whistleblower Frances Haugen bahwa Meta tahu produknya tidak aman bagi anak tapi tidak bertindak.
Salah satu contoh yang diungkap Bejar di persidangan adalah pengalaman putrinya sendiri. Putrinya ingin punya ruang untuk diskusi soal mobil di Instagram, tapi malah dapat komentar bernada misoginis. Bejar mengaku putrinya tetap mendapat banyak pengikut, tapi harus membayarnya dengan tekanan mental.
Verifikasi Usia yang Lebih Kuat Itu Artinya Apa buat Kamu
Sebagai orang yang kerja di bidang software, aku lihat istilah verifikasi usia yang lebih kuat ini sering bikin bingung karena kedengarannya abstrak. Simpelnya, sistem lama cuma percaya isian tanggal lahir yang bisa diisi bebas oleh siapa saja. Sistem yang diminta regulator sekarang harus bisa mengecek usia lewat cara yang lebih sulit dipalsukan, misalnya lewat verifikasi dokumen, penaksiran usia dari foto wajah, atau kerja sama dengan pihak ketiga yang sudah punya data identitas.
Buat kamu yang orang tua, ini berarti proses bikin akun anak bakal lebih ribet karena ada lapisan pengecekan tambahan. Buat platform, ini berarti biaya dan kompleksitas sistem naik, karena mereka harus menyimpan atau memproses data yang lebih sensitif dari sekadar tanggal lahir.
Di sinilah letak kompromi yang perlu kamu sadari. Verifikasi usia yang ketat memang bikin anak di bawah umur lebih susah masuk ke layanan berisiko tinggi, tapi juga berarti platform mengumpulkan data identitas yang lebih banyak, yang kalau bocor justru jadi risiko baru buat privasi anak.
Regulasi seperti PP Tunas di Indonesia dan rencana Singapura sama-sama mendorong platform buat lebih bertanggung jawab soal desain fiturnya, tapi belum ada satu aturan pun yang bisa menghilangkan risiko itu sepenuhnya. Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah tetap aktif mengecek pengaturan kontrol orang tua yang sudah tersedia, karena aturan sekencang apa pun tetap butuh pengawasan langsung di rumah.