Kasus Influenza A Naik di Sejumlah Daerah, Kemenkes Ungkap 3 Subtipe yang Paling Banyak Ditemukan
Kemenkes mencatat kenaikan kasus influenza A di sejumlah daerah per pertengahan September 2026, dengan tiga subtipe virus yang paling banyak ditemukan menurut data surveilans nasional. Berikut yang perlu kamu cek sebelum menilai situasinya berlebihan.
Berita.co – Kasus influenza A dilaporkan naik di sejumlah rumah sakit dan daerah di Indonesia sepanjang September 2026, setelah keluhan demam tinggi pada anak ramai dibagikan orang tua di media sosial. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merespons dengan memastikan kenaikan itu belum menjadi lonjakan besar secara nasional, sekaligus membuka data subtipe virus yang paling banyak beredar saat ini.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membenarkan ada kenaikan kasus influenza saat ditemui di Gedung DPR RI pada Rabu, 16 September 2026. Ia menyebut kenaikan itu wajar karena influenza memang penyakit musiman yang polanya berulang menjelang akhir tahun.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menambahkan penjelasan serupa sehari setelahnya, Kamis, 17 September 2026. Menurutnya, kenaikan kasus di tingkat nasional tidak terlalu signifikan meski di beberapa daerah tertentu memang terlihat naik, dan fasilitas kesehatan nasional masih dalam kondisi aman tanpa tanda overcapacity.
Data surveilans dan tiga subtipe yang dominan
Kemenkes memantau virus influenza melalui Surveilans Sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) periode 2024-2026, yang mencakup 39 puskesmas dan 35 rumah sakit hingga minggu ke-34 tahun ini.
Data tersebut menunjukkan tiga jenis virus paling banyak terdeteksi sepanjang Agustus 2026, yaitu influenza A subtipe H1N1pdm09, influenza A subtipe H3N2, dan influenza B/Victoria. Influenza A (H1N1pdm09) tercatat sebagai subtipe paling dominan, dengan positivity rate pada minggu ke-34 berada di angka 28 persen, masih di bawah musim 2025.
Dokter paru senior sekaligus mantan pejabat WHO SEARO, Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan temuan H1N1pdm09 bukan indikasi pandemi baru. Virus itu adalah varian H1N1 yang sama dengan penyebab pandemi 2009, dan kini beredar sebagai virus musiman biasa. Menurutnya, kewaspadaan lebih tinggi baru relevan kalau yang muncul adalah subtipe yang belum umum ditemukan pada manusia, seperti H5N1 atau H7N9.
Anak usia dini paling banyak terinfeksi
Hasil surveilans juga mencatat kelompok usia 0-4 tahun sebagai kelompok dengan proporsi kasus tertinggi, yaitu 33 persen dari total kasus yang terdeteksi. Kondisi ini sejalan dengan keluhan yang sempat ramai di media sosial, saat sejumlah orang tua membagikan pengalaman anak mereka mengalami demam tinggi dan gejala yang mirip Covid-19.
Kemenkes mengingatkan kelompok balita, anak-anak, dan lansia termasuk yang paling rentan mengalami infeksi influenza, sehingga perlu perhatian ekstra saat muncul gejala batuk atau demam.
Gejala yang perlu kamu kenali
Kalau kamu ingin membedakan flu biasa dengan gejala yang perlu diwaspadai, berikut gejala influenza A yang umum muncul menurut data yang dirangkum:
- Demam atau menggigil
- Batuk
- Sakit kepala
- Nyeri tubuh
- Kelelahan
- Sakit tenggorokan
- Pilek
Pada kelompok berisiko tinggi, seperti anak kecil dan lansia, gejala ini berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, sehingga perlu dipantau kalau tidak membaik dalam beberapa hari.
Kalau kamu ingin memastikan keluargamu tetap aman selama musim kenaikan kasus ini, berikut yang bisa kamu cek dan siapkan:
- Cek riwayat vaksinasi influenza musiman untuk anggota keluarga yang rentan, karena vaksin ini disebut membantu memberi perlindungan terhadap H1N1pdm09 dan H3N2.
- Siapkan masker di rumah, dan gunakan kalau ada anggota keluarga yang sedang bergejala flu.
- Kurangi aktivitas di luar rumah selama masih bergejala, supaya penularan ke orang lain bisa ditekan.
- Pantau gejala pada anak kecil dan lansia lebih ketat, karena keduanya masuk kelompok paling rentan menurut data Kemenkes.
- Konfirmasi informasi terbaru langsung ke kanal resmi Kemenkes atau fasilitas kesehatan terdekat, karena data surveilans dan status kewaspadaan bisa berubah setiap minggu.
