Oleh-oleh Khas Jogja Berstatus Warisan Budaya, dari Bakpia ke Perak
Bakpia, gudeg, kipo, yangko, kopi joss, sampai perak Kotagede sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda. Ini daftar oleh-oleh khas Jogja beserta tempat membeli dan hal yang perlu kamu cek sebelum belanja.
Berita.co – Sedang menyusun daftar belanja oleh-oleh di Jogja? Pegangan yang bisa dicek adalah daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang ditetapkan pemerintah. Banyak oleh-oleh khas Jogja, dari bakpia sampai kerajinan perak Kotagede, ternyata sudah tercatat di daftar itu.
Perlu diketahui bahwa gudeg, bakpia, kipo, kerajinan perak Kotagede, yangko, dan kopi joss sudah ditetapkan sebagai WBTb. Panduan ini memakai daftar tersebut sebagai acuan, bukan selera penulis.
Jogja hanya satu dari banyak daerah yang punya kuliner khas untuk dibawa pulang. Kalau kamu ingin melihat gambaran yang lebih luas, buka juga daftar makanan khas Indonesia.
Oleh-oleh makanan khas Jogja
Bagian ini membahas enam makanan dan minuman khas Jogja yang bisa kamu pertimbangkan sebagai oleh-oleh. Setiap item disertai tahun penetapan WBTb-nya, kecuali geplak yang tercatat di portal budaya tingkat provinsi.
Tahun penetapan berguna sebagai penanda bahwa item tersebut memang diakui sebagai bagian dari budaya setempat. Informasi ini juga membantu kamu memilah mana oleh-oleh tradisional dan mana produk kreasi baru.
1. Bakpia

Bakpia ditetapkan sebagai WBTb pada 2016 dan tercatat dalam domain kerajinan tradisional. Status ini membuat bakpia jadi salah satu oleh-oleh Jogja yang punya dasar pencatatan resmi.
Resep bakpia sendiri dibawa oleh Kwik Sun Kwok pada 1940-an. Liem Bok Sing mulai membuat bakpia pada 1948, lalu pindah ke Pathuk di Jalan Aipda KS Tubun Nomor 75 pada 1955.
Kepindahan itu menjadi cikal bakal sentra industri bakpia di Kampung Pathuk. Jadi, kalau kamu mendengar nama Pathuk saat mencari bakpia, latar belakangnya berasal dari sejarah ini.
Soal harga, termasuk untuk Bakpia Pathok 25, angkanya berbeda per gerai dan per varian isi. Panduan ini sengaja tidak mencantumkan angka karena tidak ada daftar harga resmi yang bisa dijadikan pegangan.
2. Gudeg
Gudeg tercatat sebagai WBTb pada 2015, paling awal di antara oleh-oleh yang dibahas di sini. Karena gudeg adalah makanan siap santap, cara membawanya pulang perlu dipikirkan lebih dulu.
Untuk perjalanan jauh, cari gudeg dalam kemasan yang memang dirancang untuk dibawa bepergian. Tanyakan langsung ke penjual berapa lama produknya bertahan dan bagaimana cara menyimpannya, karena setiap produsen punya ketentuan sendiri.
3. Geplak

Menurut portal budaya Dinas Kebudayaan DIY, geplak adalah kelapa parut yang diberi gula dan terkenal dari Bantul. Portal itu memasukkan geplak ke kategori kuliner tradisional.
Geplak tidak muncul di daftar milik Kota Yogyakarta, sebab Bantul adalah kabupaten tersendiri di DIY. Kalau rute perjalananmu melewati Bantul, geplak bisa jadi tambahan untuk daftar belanja.
4. Kipo
Kipo ditetapkan sebagai WBTb pada 2019. Kipo bisa masuk daftar kalau kamu mencari kudapan tradisional yang sudah punya pencatatan resmi.
Kalau kamu ingin membawanya sebagai oleh-oleh, tanyakan ke penjual soal daya tahan dan cara penyimpanannya. Cek juga tanggal produksi di kemasan supaya kamu tahu sisa waktu konsumsinya.
5. Yangko

Yangko ditetapkan sebagai WBTb pada 2022. Kudapan kenyal ini bisa jadi pilihan kalau kamu mencari oleh-oleh ringan.
Sebelum membeli dalam jumlah banyak, pastikan kemasannya tertutup rapat dan tanggal kedaluwarsanya tercantum jelas. Langkah sederhana ini membantu kamu memastikan yangko tetap layak saat dibagikan di rumah.
6. Kopi joss
Kopi joss ditetapkan sebagai WBTb pada 2024. Berbeda dari item lain di daftar ini, kopi joss lebih cocok dicicipi di tempat daripada dibawa pulang.
Masukkan kopi joss ke itinerary kamu selama di Jogja, lalu alokasikan anggaran oleh-oleh untuk item yang lebih tahan dibawa. Pembagian ini membuat rencana belanja kamu lebih realistis.
Oleh-oleh selain makanan
Oleh-oleh khas Jogja tidak hanya berupa makanan. Kerajinan perak Kotagede ditetapkan sebagai WBTb pada 2021, sehingga perak Kotagede punya dasar pencatatan yang sama dengan bakpia dan gudeg.
Selain perak, batik dan berbagai kerajinan tangan juga sering dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari Jogja. Harga dan kualitasnya beragam, jadi bandingkan beberapa toko sebelum membeli.
Kalau kamu membeli perhiasan perak, tanyakan kadar peraknya dan minta nota pembelian. Informasi ini berguna kalau kamu perlu menukar atau memperbaiki barang di kemudian hari.
Untuk kerajinan, perhatikan juga ukuran dan berat barang sebelum membeli. Barang yang besar atau mudah tergores perlu kemasan tambahan supaya aman di perjalanan.
Kalau perjalananmu mencakup lebih dari satu daerah, daftar per daerah membantu kamu membagi anggaran oleh-oleh. Untuk Bali, kamu bisa memakai daftar makanan khas Bali beserta bahan utamanya.
Di mana membeli oleh-oleh di Jogja?
Untuk bakpia, Kampung Pathuk masuk akal jadi titik awal karena sentra industri bakpia berawal dari kepindahan Liem Bok Sing ke sana pada 1955. Kamu bisa membandingkan beberapa produsen dalam satu kawasan sebelum memutuskan.
Untuk perak, Kotagede adalah tujuan yang sesuai karena kerajinan perak yang tercatat sebagai WBTb memang membawa nama kawasan itu. Sisihkan waktu khusus kalau kamu ingin melihat beberapa toko perak sekaligus.
Banyak wisatawan juga mencari oleh-oleh di sekitar Malioboro. Panduan ini tidak memuat daftar toko di Malioboro karena tidak ada daftar resmi yang bisa dijadikan acuan, jadi bandingkan harga di beberapa toko sebelum membayar.
Pertimbangkan juga jarak antarlokasi saat menyusun rencana belanja. Menggabungkan beberapa titik belanja dalam satu rute membantu kamu menghemat waktu dan biaya transportasi.
Tips memilih oleh-oleh Jogja
Sebelum membayar, cek tanggal kedaluwarsa di setiap kemasan makanan. Pastikan juga kemasannya cukup kuat untuk perjalanan jauh, terutama kalau oleh-oleh akan masuk bagasi.
Harga yang tampil di toko bersifat indikatif dan bisa berubah. Siapkan perkiraan biaya dengan sedikit ruang lebih supaya anggaran tidak terlampaui.
Produk oleh-oleh dengan varian rasa dan kemasan baru juga terus bermunculan di Jogja. Kalau kamu ingin yang benar-benar khas, jadikan item berstatus WBTb sebagai prioritas, lalu tambahkan produk lain sesuai selera.
Buat daftar penerima oleh-oleh sebelum berangkat, lengkap dengan jumlah dan jenis barang untuk masing-masing. Daftar ini mencegah kamu membeli berlebihan atau justru kekurangan saat sudah di toko.
Untuk oleh-oleh yang akan dibagikan ke banyak orang, kemasan kecil biasanya lebih praktis daripada satu kemasan besar. Pilihan ini juga memudahkan kamu membagi oleh-oleh tanpa perlu membuka dan mengemas ulang.
Atur urutan belanja sesuai rute perjalanan, dan beli makanan yang paling cepat basi di hari terakhir. Urutan ini paling masuk akal supaya waktumu tidak habis di jalan.
Kalau kamu ingin oleh-oleh yang benar-benar khas Jogja, mulai dari item yang tercatat sebagai WBTb seperti bakpia, gudeg, kipo, yangko, dan perak Kotagede.
Jogja juga bisa jadi pembanding untuk daerah lain yang ingin kamu kunjungi. Lanjutkan ke panduan kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia untuk menyusun daftar berikutnya.

