3.800 Guru Ikut Program AI Telkomsel, Hanya 12 yang Lolos ke Pelatihan Intensif
Program pelatihan AI untuk guru dari Telkomsel mengklaim menjangkau 3.800 pendidik, tapi cuma 12 orang yang benar-benar sampai ke pelatihan intensif tatap muka. Ini alur seleksinya dan apa yang belum diketahui dari klaim itu.
Berita.co – Angka 3.800 guru muncul di berbagai pemberitaan begitu Telkomsel menutup program pelatihan AI untuk pendidik bertajuk Terpujilah Guru 2026.
Angka itu sendiri belum menjelaskan berapa banyak dari 3.800 guru itu yang benar-benar mendapat pelatihan mendalam soal AI, dan berapa yang cuma sempat ikut sesi pengenalan singkat.
Menurut CNBC Indonesia, Vice President Corporate Communications and Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menyebut target awal program ini sebenarnya cuma 1.000 sampai 2.000 guru.
Realisasinya, program yang berjalan sejak Mei 2026 ini menjangkau lebih dari 3.800 guru jenjang SMA, SMK, dan MA lewat roadshow di 10 kota serta kelas daring.
Dari 3.800 turun ke 12, begini alur seleksinya
Dari 3.800 guru itu, Telkomsel menyeleksi 1.500 guru terpilih. Dari 1.500 itu, 400 guru masuk akademi daring, lalu 80 guru mendapat pendampingan lanjutan, dan hanya 12 finalis yang dibawa ke pelatihan intensif tatap muka di Jakarta.
Enam guru dengan skor tertinggi kemudian diumumkan sebagai yang terbaik dalam acara Puncak Anugerah di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Kalau kamu membaca angka 3.800 sebagai tanda 3.800 guru sudah mahir memakai AI, itu kurang tepat. Sebagian besar dari mereka cuma sempat ikut roadshow atau kelas daring pengenalan.
Pelatihan yang benar-benar intensif, dengan pendampingan dan karya akhir yang dinilai, hanya dirasakan puluhan sampai ratusan guru saja dari total 3.800 itu.
Materi pelatihannya soal apa
Materi yang diajarkan berpusat pada apa yang disebut Telkomsel sebagai AI yang berpusat pada manusia, atau human-centered AI, istilah yang dalam praktiknya berarti AI dipakai sebagai alat bantu, bukan pengganti keputusan guru di kelas.
Peserta belajar menulis instruksi atau prompt ke AI, semacam perintah tertulis yang menentukan hasil apa yang dikeluarkan sistem AI, untuk membuat video pembelajaran, desain visual, dan soal asesmen digital.
Mengutip dari A. Arief Rachman, guru Teknik Jaringan Komputer dan Rekayasa Perangkat Lunak di SMKN 1 Garut, yang mengaku gaya mengajarnya berubah dari dominan berdiri di depan kelas menjadi lebih partisipatif, muridnya kini membuat infografis dan video sesuai minat masing-masing. Arief menambahkan catatan penting, AI tidak dijadikan acuan utama, logika guru tetap harus memegang kendali.
Guru kedua, Tressya Litaay, mengajar Matematika di SMA Negeri 38 Maluku Tengah, wilayah dengan akses internet terbatas. Ia memakai AI untuk membuat video animasi kubus dan materi program linear soal optimasi penjualan roti bakar. Kedua guru ini juga masuk daftar enam guru terbaik yang diumumkan Telkomsel.
Empat nama lain dalam daftar enam terbaik versi Telkomsel, seperti dilaporkan Liputan6, adalah Sofie Mellyani F. dari SMAN 4 Surabaya, Irvia Mariza dari SMAN 15 Bandung, Merlin Hitalessy dari SMKN 1 Ambon, dan Winda Risnawati dari SMAN 5 Pematangsiantar.
Program ini juga mendapat tanggapan dari Direktur Jenderal Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Nunuk Suryani, yang menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru secara bijak di tengah pesatnya adopsi AI, sekaligus berharap pengetahuan dari program ini bisa dibagikan ke guru lain di luar peserta.
