TERKINI
Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam/// Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam///
Teknologi

Trump Ganti Istilah AI Jadi Super Intelligence untuk Dokumen Pemerintah AS

Trump meminta dokumen pemerintah AS memakai istilah baru super intelligence untuk AI. Istilah itu ternyata sudah punya definisi teknis sendiri di riset AI, dan berbeda dari kemampuan AI yang ada sekarang.

Berita.co – Super intelligence, disingkat SI, resmi jadi istilah baru yang dipakai Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyebut artificial intelligence alias kecerdasan buatan (AI).

Trump mengumumkan pergantian istilah ini dalam pidatonya di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Selasa (22/9/2026) waktu setempat atau Rabu (23/9/2026) waktu Indonesia.

Ia mengatakan mulai sekarang dokumen-dokumen pemerintah AS akan memakai kata super untuk menggantikan buatan.

Apa yang sebenarnya diumumkan Trump?

Alasan Trump sederhana. Menurutnya, kata artificial atau buatan membuat teknologi ini terdengar palsu, padahal ia menilai AI adalah teknologi nyata yang perlu dikembangkan dengan hati hati.

Ia juga berharap negara lain ikut memakai istilah super intelligence, meski itu baru harapan, bukan ketentuan yang mengikat negara mana pun. Sejauh ini yang dipastikan hanya perubahan istilah di dokumen pemerintah AS.

Sebelum pidato itu, Trump sempat menggelar polling di media sosial Truth Social dan X. detikInet melaporkan ia meminta pengikutnya memilih nama baru untuk AI dari tiga opsi, yaitu Superior Intelligence, Extreme Intelligence, dan Supreme Intelligence.

Setelah beberapa putaran pemungutan suara, super intelligence yang akhirnya dipakai, meski Trump tidak pernah menjelaskan secara rinci pertimbangan di balik pilihan akhir itu.

Apa bedanya artificial dan super

Di sinilah kebingungan mulai muncul. Kata artificial intelligence sudah dipakai puluhan tahun sebagai istilah teknis untuk sistem yang meniru sebagian kemampuan berpikir manusia, mulai dari mengenali gambar sampai menyusun kalimat.

Kata super intelligence bukan istilah baru. Dalam riset AI, istilah ini sudah punya definisi sendiri, yaitu sistem kecerdasan hipotetis yang kemampuannya melampaui manusia di hampir semua bidang, bukan sekadar AI generasi berikutnya yang lebih canggih dari sekarang.

Definisi ini dipopulerkan filsuf Nick Bostrom lewat buku Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies pada 2014. Bostrom memakai istilah itu untuk menggambarkan kecerdasan yang jauh di atas manusia di hampir semua bidang, bukan cuma unggul di satu tugas spesifik. Sampai sekarang, kecerdasan pada level itu masih teori, belum ada sistem AI yang dianggap para pakar sudah mencapainya.

Dosen etika digital dari University of Melbourne, Simon Coghlan, mengatakan sistem kecerdasan super, jika benar benar terwujud, akan dianggap para ahli sebagai teknologi paling penting yang pernah dibuat.

Ben Leong, dosen ilmu komputer di National University of Singapore, punya catatan senada. Menurutnya, kalangan profesional akan lebih memilih memakai istilah SI untuk level AI yang lebih tinggi, bukan untuk AI yang ada sekarang, karena teknologinya belum sampai ke tahap itu.

Sejauh ini yang dipastikan Trump adalah dokumen dokumen pemerintah Amerika Serikat akan memakai istilah super intelligence untuk menyebut AI.

Belum jelas bagaimana perubahan ini akan diterapkan secara administratif di seluruh instansi pemerintah AS. Axios melaporkan Gedung Putih belum memberi penjelasan lebih lanjut soal penerapannya.

Artinya, ini lebih tepat dipahami sebagai penggantian istilah di lingkup pemerintahan AS, bukan pergantian nama AI secara global. Istilah artificial intelligence sendiri tetap dipakai secara luas oleh peneliti, perusahaan teknologi, dan industri di seluruh dunia.

Tidak ada indikasi standar teknis, spesifikasi produk, atau definisi akademis soal AI ikut berubah hanya karena satu negara mengganti sebutan resminya.

AS menolak perlambat pengembangan AI

Pergantian istilah ini muncul bersamaan dengan pernyataan Trump soal sikap AS terhadap regulasi AI. Ia menegaskan pemerintah AS tidak akan menghambat pertumbuhan AI, dan menolak upaya membangun mekanisme global untuk mengendalikan teknologi itu.

Reuters melaporkan bahwa dalam pidatonya, Trump menolak regulasi baru yang akan memperlambat perkembangan AI, tapi menyebut pemerintah AS tetap akan mengawasi lewat Departemen Kehakiman jika terjadi penyalahgunaan.

Trump juga menyebut AS unggul jauh dari China dalam pengembangan AI. Perlu dicatat, ini klaim dari pidato Trump sendiri, bukan hasil pengukuran independen soal seberapa besar jarak AS dengan China di bidang ini.

Untuk kamu yang memakai AI sehari-hari, baik lewat asisten virtual, aplikasi produktivitas, atau alat coding, tidak ada yang berubah dari sisi teknis.

Model yang kamu pakai hari ini tetap AI dalam pengertian riset yang sudah mapan, bukan kecerdasan super seperti didefinisikan Bostrom. Penggantian istilah oleh satu pemerintah tidak mengubah cara kerja, kemampuan, atau batasan model itu.

Yang masih belum jelas ada dua hal. Pertama, apakah istilah super intelligence akan benar benar dipakai konsisten di semua dokumen resmi AS, mengingat Gedung Putih sendiri belum menjelaskan penerapannya. Kedua, apakah industri teknologi dan komunitas riset di luar pemerintah AS akan ikut memakai istilah itu, atau tetap bertahan dengan artificial intelligence yang sudah mapan.

Sampai ada kejelasan di dua hal itu, aman untuk menganggap ini pergantian label di level kebijakan, bukan pergantian generasi teknologi.

Berita Terkait

Teknologi · Donald Trump