TERKINI
Hari Kesehatan Nasional 12 November: Sejarah, dan Keistimewaannya/// Cita Tenun Indonesia Bawa Tenun Lampung, Kalimantan Barat, dan Bangka ke Panggung Utama JFW 2027/// Silmy Karim Didakwa Peras Pemohon Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar, Terima Rp1,2 Miliar/// DJP Tegaskan PPN Pembalut Bukan Pajak Menstruasi, Begini Hitungannya/// Bos Bulog Bongkar Modus Pengoplos Beras SPHP, Borong 8 Ton dalam Dua Hari/// Hari Kesehatan Nasional 12 November: Sejarah, dan Keistimewaannya/// Cita Tenun Indonesia Bawa Tenun Lampung, Kalimantan Barat, dan Bangka ke Panggung Utama JFW 2027/// Silmy Karim Didakwa Peras Pemohon Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar, Terima Rp1,2 Miliar/// DJP Tegaskan PPN Pembalut Bukan Pajak Menstruasi, Begini Hitungannya/// Bos Bulog Bongkar Modus Pengoplos Beras SPHP, Borong 8 Ton dalam Dua Hari///
Teknologi

Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet, Ini Artinya buat Paket Kamu

Komdigi menerbitkan SE Menkomdigi Nomor 4 Tahun 2026 yang melarang operator menghanguskan sisa kuota berbayar dan menarik biaya tambahan untuk mempertahankannya. Aturan ini tidak otomatis membuat semua paket jadi rollover, yang wajib disediakan adalah pilihan layanannya.

Sisa kuota internet yang sudah kamu bayar sekarang punya dasar perlindungan yang jelas. Pemerintah menerbitkan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 4 Tahun 2026 tentang Kewajiban Pemenuhan Pilihan Layanan dan Perlindungan Sisa Kuota pada 28 Agustus 2026.

Lewat aturan itu, operator seluler dilarang menghanguskan sisa kuota pelanggan secara sepihak, dan dilarang menarik biaya tambahan supaya kuota tersebut bisa dipertahankan atau dipakai.

Dalam keterangan resmi Komdigi, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan kuota yang sudah dibeli adalah milik pelanggan. “Kuota yang sudah dibayar oleh pelanggan adalah hak pelanggan. Sisa kuota tidak boleh begitu saja hangus dan operator tidak boleh mengenakan biaya tambahan untuk mempertahankan sisa kuota tersebut,” kata Meutya.

Aturannya turun dari putusan MK

SE ini bukan kebijakan yang berdiri sendiri. Statusnya tindak lanjut dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 273/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan pada 23 Juli 2026. Dalam putusan itu MK mengabulkan sebagian permohonan dan menyatakan penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi wajib menyediakan pilihan layanan yang menjamin sisa kuota pengguna tetap aktif dan bisa digunakan.

Seperti dilaporkan Teknologi.id, surat edaran tersebut terbit karena pemerintah masih menerima aduan masyarakat soal operator yang belum sepenuhnya memenuhi ketentuan perlindungan sisa kuota.

Bukan berarti semua paket otomatis rollover

Ini bagian yang paling sering salah dibaca. Larangan menghanguskan sisa kuota tidak sama dengan kewajiban rollover untuk semua paket. Yang diwajibkan adalah tersedianya pilihan layanan, jadi kamu yang menentukan mekanisme mana yang cocok dengan pola pemakaianmu.

Bentuk perlindungan sisa kuota yang boleh disediakan operator:

  • akumulasi kuota atau rollover
  • tanpa akumulasi kuota atau non-rollover
  • perpanjangan masa aktif
  • pengalihan manfaat
  • kompensasi
  • pengembalian dana atau refund
  • mekanisme perlindungan lain yang tidak merugikan pelanggan
Baca Juga:  RAM Makin Mahal, Harga Laptop Diproyeksikan Naik di 2027

Artinya dua paket dengan harga sama bisa punya perlakuan sisa kuota yang berbeda. Buat kamu yang kuotanya sering bersisa di akhir masa aktif, mekanisme akumulasi kuota atau perpanjangan masa aktif jelas lebih berguna. Buat kamu yang kuotanya selalu habis sebelum masa aktif berakhir, poin ini praktis tidak mengubah apa pun.

Informasi paket wajib lebih terbuka

Operator juga diwajibkan menjelaskan isi paketnya secara sederhana dan mudah dipahami. Yang harus disampaikan mencakup harga paket, jumlah atau volume kuota, masa berlaku, segmentasi penggunaan, ketentuan pemakaian secara wajar, waktu berakhirnya layanan, dan perlakuan terhadap sisa kuota.

Operator juga harus menyediakan kanal pemantauan terintegrasi supaya kamu bisa mengecek pemakaian dan sisa kuota dari layanan yang kamu pilih.

Seluruh operator, termasuk Telkomsel dengan Simpati, byU, dan Halo, Indosat Ooredoo Hutchison dengan IM3 dan Tri, serta XLSmart dengan XL, AXIS, dan Smartfren, diberi waktu sampai 28 September 2026 untuk menyampaikan laporan pemenuhan kewajiban kepada Komdigi, lalu melaporkan perkembangannya sekali setiap bulan, menurut pemberitaan KOMPAS.com.

Tanggal itu adalah batas pelaporan, bukan tanggal aturannya baru mulai berlaku. Surat edarannya sendiri sudah terbit lebih dulu pada 28 Agustus 2026.

Yang perlu kamu cek sebelum beli paket berikutnya

Tradeoffnya jelas. Aturan ini memberi kamu hak atas sisa kuota, tapi tidak memilihkan mekanismenya untukmu. Jadi sebelum membeli paket berikutnya, baca dulu perlakuan sisa kuota yang tertulis di paket itu, bukan cuma harga dan besaran kuotanya.

Kalau pemakaianmu naik turun tiap bulan, paket dengan akumulasi kuota lebih masuk akal meski harganya sedikit lebih tinggi. Kalau pemakaianmu stabil dan kuotanya selalu habis, paket termurah dengan mekanisme perlindungan apa pun sudah cukup.

Baca Juga:  Hari Bhakti Postel ke-81: ATSI dan Komdigi Serukan Penguatan Kolaborasi Industri Telekomunikasi

Berita Terkait

Teknologi · Komdigi