Teknologi

Data SO2 dan PM2.5 Imbas Erupsi Anak Krakatau, Ini Artinya buat Kamu di Jakarta

Gas sulfur dioksida (SO2) dan sisa abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih terpantau di atas langit Banten, Jabodetabek, dan Lampung hingga Selasa, 8 September 2026.

Yang bikin bingung banyak orang bukan cuma peta satelit yang tiba tiba berwarna merah, tapi juga angka angka teknis seperti ppm, PM2.5, dan AOD yang dipakai otoritas buat menjelaskan situasinya.

Tulisan ini menerjemahkan angka angka itu jadi sesuatu yang lebih mudah kamu pakai buat memutuskan pakai masker atau tidak hari ini.

Kenapa Peta Satelit Berwarna Merah

Menurut CNN Indonesia, Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa warna merah pada peta satelit menunjukkan sebaran SO2 dari erupsi Anak Krakatau sudah sampai ke wilayah Banten, Jabodetabek, dan Lampung. Badan Geologi menegaskan warna merah itu tidak otomatis berarti udara di permukaan berbahaya. Peta satelit merekam total SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas yang benar benar kamu hirup di jalan.

Patokan yang lebih relevan buat kamu adalah indra penciuman. Badan Geologi meminta masyarakat baru waspada kalau mulai tercium bau menyerupai belerang. Kalau bau itu muncul, langkah yang disarankan tiga: pakai masker, tetap di dalam ruangan, dan jangan minum air hujan karena berpotensi mengandung zat asam dari SO2.

Ada angka konkret yang bisa jadi pegangan tentang berapa batas aman SO2. Badan Geologi menyebut konsentrasi SO2 di bawah 5 part per million (ppm) masih aman bagi kesehatan. Di atas angka itu, gas ini bisa memicu batuk, sesak napas, iritasi mata, serta iritasi saluran napas dan paru, dan efeknya lebih berat buat kamu yang punya asma. SO2 sendiri terbentuk dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur, dan kalau konsentrasinya tinggi di atmosfer, gas ini juga jadi salah satu penyebab hujan asam yang merusak tanaman dan ekosistem air.

Data PM2.5 dan Kenapa Abu Betah Lama di Udara

Selain SO2, ada indikator lain yang dipantau BMKG, yaitu PM2.5, partikel halus yang lebih berkaitan dengan polusi harian. BMKG mencatat lonjakan konsentrasi PM2.5 pada 5 September, lalu intrusi debu vulkanik berupa partikel kasar meningkat pada 6 September sebelum mulai meluruh pada 7 September. Data Senin (7/9) pagi menunjukkan dua titik dengan angka berbeda.

LokasiKonsentrasi PM2.5 (µg/m3)
Pesawaran, Lampung30,6
Kemayoran, Jakarta25,3

Angka Jakarta itu sebenarnya sudah relatif tinggi sejak sebelum erupsi karena polusi kota yang biasa terjadi, jadi kenaikan akibat abu vulkanik menumpuk di atas baseline yang sudah tidak rendah. Untuk membedakan partikel abu vulkanik dari polusi biasa, BMKG memakai parameter Angstrom Exponent (AE) yang berkaitan dengan ukuran partikel di udara.

Pada pukul 06.00 sampai 07.30 WIB, nilai AE berada di titik terendah dan turun di bawah 1,0, yang menunjukkan dominasi partikel kasar dari erupsi. Menjelang siang, nilai AE naik lagi karena abu mulai mengendap dan udara kembali bercampur dengan emisi partikel halus dari kendaraan dan industri.

Alasan abu ini betah lama di langit sederhana, yakni hujan belum turun di puncak musim kemarau. Tanpa hujan yang biasanya menyapu partikel dari udara, material vulkanik itu bercampur dengan polusi perkotaan, terutama di Jakarta, dan melayang lebih lama daripada kondisi normal.

Teknologi di Balik Keputusan Tutup Buka Bandara

Data satelit dan sensor kualitas udara ini juga jadi dasar keputusan yang berdampak lebih luas, salah satunya penutupan sementara sejumlah bandara imbas sebaran abu sejak akhir pekan lalu. Sebuah analisis yang tayang di kumparan.com menjelaskan bahwa sebaran abu dideteksi lewat citra satelit Himawari-9, dianalisis silang dengan data Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin di Australia, lalu dikonfirmasi lewat uji lapangan langsung di landasan pacu.

Begitu abu terkonfirmasi, AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang jadi dasar hukum penutupan ruang udara secara presisi, baik dari sisi waktu maupun wilayah, bukan penutupan total berhari hari tanpa dasar data. Analisis itu juga mencatat, sebagai perbandingan skala, sekitar 170 pesawat sempat parkir inap semalam di apron Bandara Soekarno-Hatta akibat penutupan tersebut.

Data di atas tidak berarti langit Jakarta hari ini otomatis aman, tapi juga tidak berarti kamu harus panik tiap kali melihat langit berkabut. BMKG sendiri mengingatkan supaya masyarakat, khususnya di Jakarta, jangan lepas masker hanya karena mengira kabut yang terlihat itu polusi biasa, sebab kondisinya sekarang tergolong paparan ganda antara abu vulkanik dan polusi kota.

Kalau kamu belum mencium bau belerang dan angka PM2.5 di wilayahmu belum jauh di atas kondisi normal, aktivitas luar ruangan masih bisa dilakukan dengan masker sebagai langkah pencegahan. Kalau bau belerang mulai tercium, itu sinyal buat masuk ruangan dan berhenti dulu.

Roni Eka Setiawan

Roni Eka Setiawan

Editor

Menulis kanal Teknologi di Berita.co. Backend engineer di Airpaz, sebelumnya web platform engineer di Bank Rakyat Indonesia dan Kompas Gramedia, jadi spesifikasi dan komparasi gadget di sini ditulis dari sudut orang yang tiap hari bekerja dengan teknologinya.

linkedin.com View all articles