Teknologi

92 Juta Pekerjaan Terancam Digeser AI pada 2030, PHK Teknologi Sudah Dimulai

Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan sekitar 92 juta pekerjaan di seluruh dunia bakal tergeser oleh otomatisasi berbasis AI pada 2030. Proyeksi itu kini mendapat pembanding nyata, gelombang PHK di sektor teknologi dan jasa keuangan sepanjang 2026 menunjukkan pergeseran itu sudah mulai berjalan.

Proyeksi WEF: 92 Juta Tergeser, 170 Juta Tercipta

Menurut laporan yang dikutip Liputan6 pada Rabu (26/8/2026), WEF memperkirakan otomatisasi berbasis AI juga akan menciptakan 170 juta lapangan kerja baru pada periode yang sama. Selisihnya, 92 juta peran lama diproyeksikan hilang, sehingga secara neto WEF masih memproyeksikan penambahan lapangan kerja, bukan pengurangan total.

WEF juga memperkirakan 39 persen keterampilan yang dipakai pekerja saat ini akan usang atau berubah bentuk pada 2030. Angka ini proyeksi WEF untuk skala global, bukan kepastian yang berlaku sama di tiap negara atau sektor.

Generative AI yang dimaksud dalam laporan itu kini bisa menjalankan tugas kompleks seperti menulis, memvalidasi data, menyusun kode program, dan menerjemahkan bahasa. Kemampuan itu membuat sejumlah pekerjaan kerah putih ikut masuk daftar berisiko tergeser, bukan cuma pekerjaan manual atau repetitif seperti pada gelombang otomatisasi sebelumnya.

PHK di Meta, Nike, dan Snap Jadi Bukti di Lapangan

Data yang lebih dekat ke kondisi saat ini datang dari laporan CNBC Indonesia yang terbit Rabu (26/8/2026). Meta memangkas sekitar 8.000 karyawan atau 10 persen dari total tenaga kerjanya untuk mengalihkan anggaran ke investasi AI. Nike memangkas 1.400 pekerja atau 2 persen, sebagian besar dari divisi teknologi. Snap memangkas 1.000 pekerja atau 16 persen dengan alasan efisiensi.

Firma konsultan Janco Associates, mengutip data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, mencatat tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi AS naik ke 3,8 persen pada April 2026, dari 3,6 persen di bulan sebelumnya. Sektor telekomunikasi dan pengolahan data secara akumulatif kehilangan 11 persen atau sekitar 342.000 pekerjaan sejak puncak krisis akhir 2022.

CEO Janco Associates, Victor Janulaitis, yang dikutip dari Wall Street Journal, mengatakan banyak perusahaan kini menahan anggaran perekrutan tenaga TI baru di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Menurutnya, perusahaan mempertanyakan urgensi merekrut spesialis AI untuk pekerjaan yang belum tentu langsung menghasilkan keuntungan.

Kenapa Pekerja Bergaji Tinggi yang Duluan Kena Efisiensi

Selama masa tech boom, software engineer, data scientist, dan product manager jadi posisi paling diperebutkan dengan gaji dan opsi saham besar. Era suku bunga tinggi membuat aliran modal ventura mengetat, sehingga perusahaan teknologi dan startup melakukan efisiensi agresif. Pekerja dengan gaji tertinggi jadi sasaran pertama karena pengurangan mereka paling terasa dampaknya pada neraca perusahaan.

Pekerja senior yang kena PHK biasanya punya beban finansial tinggi, misalnya cicilan rumah dan sekolah anak, yang disesuaikan dengan gaji lama mereka. Proses mencari kerja baru bagi kelompok ini juga lebih lama, karena perusahaan yang sedang berhemat cenderung menghindari kandidat overqualified dengan ekspektasi gaji tinggi.

Skill yang Diproyeksikan Jadi Kunci Bertahan

Merespons proyeksi WEF itu, sejumlah pendidik mendorong pergeseran fokus pengajaran dari sekadar mengarahkan siswa ke profesi tertentu, menjadi membekali kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi lintas budaya, dan adaptabilitas untuk terus mempelajari keterampilan baru. Kemampuan semacam ini diproyeksikan lebih tahan terhadap otomatisasi dibanding keterampilan teknis yang bisa direplikasi AI dengan biaya lebih murah.

Buat kamu yang bekerja di industri teknologi atau berencana masuk ke sana, dua angka WEF ini perlu dibaca berdampingan. 92 juta pekerjaan terancam tergeser memang riil, tapi 170 juta lapangan baru yang diproyeksikan tercipta juga bagian dari laporan yang sama. Bedanya ada pada 39 persen skill yang diperkirakan berubah, jadi yang menentukan kamu masuk kelompok mana bukan sekadar industri tempatmu bekerja, melainkan seberapa cepat kamu mengisi ulang keterampilan yang dibutuhkan.

Roni Eka Setiawan

Roni Eka Setiawan

Editor

Menulis kanal Teknologi di Berita.co. Backend engineer di Airpaz, sebelumnya web platform engineer di Bank Rakyat Indonesia dan Kompas Gramedia, jadi spesifikasi dan komparasi gadget di sini ditulis dari sudut orang yang tiap hari bekerja dengan teknologinya.

linkedin.com View all articles