Penjualan motor listrik di Indonesia baru mencapai sekitar 19.000 unit sampai Agustus 2026, angka yang jauh di bawah capaian dua tahun sebelumnya. Padahal pemerintah masih memberikan insentif pembelian Rp3 juta per unit sejak awal tahun ini. Data ini berdasarkan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) yang diterbitkan Kementerian Perhubungan.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi menyampaikan angka tersebut kepada KOMPAS.com, Senin (24/8/2026). Menurutnya, tren penjualan motor listrik sempat naik turun sejak mulai dipasarkan tahun 2017.
Pada 2023, saat insentif pemerintah masih berjalan, penjualan motor listrik mencapai sekitar 62.000 unit. Angka itu naik menjadi sekitar 77.000 unit pada 2024, tahun terakhir insentif pembelian berlaku penuh. Pada 2025, tanpa subsidi maupun insentif, penjualan tetap bertahan di kisaran 60.000 unit. Memasuki 2026, dengan insentif Rp3 juta per unit kembali berjalan, penjualan justru turun tajam ke level 19.000 unit hingga Agustus.
| Tahun | Penjualan motor listrik | Status insentif |
|---|---|---|
| 2023 | Sekitar 62.000 unit | Insentif pembelian berjalan |
| 2024 | Sekitar 77.000 unit | Insentif pembelian berjalan |
| 2025 | Sekitar 60.000 unit | Tanpa insentif |
| 2026 (sampai Agustus) | Sekitar 19.000 unit | Insentif Rp3 juta per unit |
Kenapa insentif Rp3 juta dinilai belum cukup
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai insentif yang berjalan saat ini belum cukup mendorong perpindahan konsumen dari motor berbahan bakar minyak (BBM) ke motor listrik. Insentif Rp3 juta per unit itu sendiri lebih rendah dari rencana awal Rp5 juta, dengan dukungan anggaran Rp3 triliun dan target produksi 1 juta motor listrik dalam negeri.
Direktur Transformasi Sistem Energi IESR Deon Arinaldo menyebut besaran insentif perlu ditetapkan berdasarkan dampak yang ingin dicapai, dikutip OtoDream, Rabu (26/8/2026). Insentif yang terlalu kecil, menurutnya, berisiko tidak cukup menutup kesenjangan harga antara motor listrik dan motor BBM.
Pemodelan IESR menunjukkan kombinasi insentif pembelian Rp5 juta, ditambah Rp3 juta melalui skema tukar tambah dan disinsentif motor BBM, berpotensi mendorong adopsi motor listrik hingga 810 ribu unit lebih banyak dibanding skenario tanpa perubahan kebijakan pada 2030. IESR turut menghitung biaya kepemilikan motor listrik berbasis baterai berada di kisaran Rp346 per kilometer, dibanding sekitar Rp506 per kilometer untuk motor BBM.
| Jenis motor | Estimasi biaya per kilometer (versi IESR) |
|---|---|
| Motor listrik (baterai) | Rp346 |
| Motor BBM | Rp506 |
Pembiayaan motor listrik masih dianggap berisiko oleh multifinance
Di sisi pembiayaan, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance mencapai Rp24,60 triliun per Juni 2026, tumbuh 34,7 persen secara tahunan. Namun pertumbuhan itu belum merata ke semua segmen, termasuk motor listrik.
Riset lembaga nirlaba Rocky Mountain Institute (RMI) bertajuk “Mobilizing Electric Two-Wheeler Finance in Indonesia” menemukan pembiayaan motor listrik masih terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan multifinance tertentu, sementara keterlibatan bank komersial masih terbatas. RMI mengidentifikasi tiga hambatan utama, yaitu risiko produk dan teknologi, ketidakpastian nilai jual kembali, serta ketidakpastian permintaan dan kebijakan jangka panjang.
Principal RMI Wini Rizkiningayu mengatakan harga awal motor listrik masih jadi kendala signifikan meski biaya energi dan operasionalnya lebih rendah. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi, Senin (24/8/2026). Ia menambahkan bahwa memperluas pasar pembiayaan motor listrik membutuhkan kepercayaan diri dan dukungan yang lebih besar dari lembaga pembiayaan.
Yang perlu kamu bandingkan sebelum memutuskan
Kalau kamu sedang mempertimbangkan motor listrik, ada tiga hal yang perlu kamu cek lebih dulu, besaran insentif yang masih berlaku saat kamu membeli, skema kredit yang ditawarkan multifinance untuk model incaranmu, dan estimasi biaya per kilometer dibanding motor BBM yang biasa kamu pakai.
Kalau prioritasmu memangkas biaya operasional jangka panjang, angka Rp346 per kilometer berbanding Rp506 per kilometer dari hitungan IESR di atas bisa jadi acuan awal, meski hasil akhirnya tetap tergantung pola pemakaianmu. Tapi kalau prioritasmu adalah kepastian kredit dan nilai jual kembali, data di atas menunjukkan pasar pembiayaan motor listrik masih dalam tahap pematangan, jadi ada baiknya kamu bandingkan dulu simulasi kredit dari beberapa multifinance sebelum menandatangani kontrak.