Social Climber di Kota Besar: Tanda yang Perlu Dicek dan Cara Menjaga Batas Pergaulan
Istilah social climber sering dipakai buat menilai orang yang dianggap mengejar status lewat pergaulan. Laporan Fimela dan Liputan6 pada 17 September 2026 menjelaskan bedanya membangun relasi dan mengejar pengakuan sosial, lengkap dengan tanda yang perlu dicek dan langkah menjaga batas.
Berita.co – Istilah social climber makin sering dipakai buat menggambarkan orang yang dianggap terlalu mengejar status lewat pergaulan. Sebelum ikut menempelkan label itu ke orang di sekitarmu, atau khawatir circle sendiri dianggap begitu, ada beberapa hal yang perlu dicek dulu.
Apa yang dimaksud social climber?
Social climber merujuk pada seseorang yang berusaha meningkatkan posisi sosialnya lewat lingkungan pergaulan, relasi, atau gaya hidup yang dianggap lebih bergengsi. Laporan itu mengutip American Psychological Association (APA) soal social capital, yaitu aspek hubungan dengan orang lain, termasuk dukungan sosial dan jaringan, yang bisa membantu seseorang mencapai tujuan tertentu. Jaringan sosial disebut bisa memberi akses ke informasi, peluang, dan sumber daya yang sebelumnya sulit dijangkau.
APA juga menjelaskan status sosial ekonomi seseorang dibentuk oleh banyak faktor: pendidikan, pekerjaan, pendapatan, keterampilan, dan akses terhadap sumber daya. Jadi status seseorang tidak otomatis naik hanya karena berteman dengan kalangan tertentu. Poin ini penting supaya istilah social climber tidak dipakai sembarangan. Punya teman dari latar belakang berbeda, atau menghadiri lingkungan yang lebih eksklusif, bukan bukti otomatis seseorang sedang mengejar status.
Kenapa fenomena ini lebih terasa di kota besar
Fenomena ini semakin mudah ditemukan di kota besar, khususnya di ibu kota, karena lingkungan pertemanan juga bisa jadi bagian dari cara seseorang membentuk citra diri dan menunjukkan posisi sosial. Laporan itu, yang dipublikasikan Kamis, 17 September 2026, mengutip Psychology Today soal dorongan orang yang sangat memperhatikan status.
Mereka bisa mencurahkan banyak usaha untuk naik atau mempertahankan posisi, merasa tertekan kalau kedudukannya terancam, dan merasa puas kalau berhasil mencapai posisi yang diinginkan.
Laporan yang sama juga mengutip tulisan Alain de Botton di BBC pada 2011, yang menyebut social climbing bisa berangkat dari rasa ingin tahu terhadap dunia sosial yang lebih luas, bukan selalu dari niat buruk. Memperluas jaringan, bertemu lingkungan baru, sampai membuka peluang karier disebut bisa jadi bagian dari proses itu. Masalah baru muncul ketika relasi mulai dipandang hanya berdasarkan manfaat sosial yang bisa diberikan.
Tanda yang perlu dicek, bukan cuma satu perilaku
Menurut laporan yang sama, social climber tidak selalu mudah dikenali karena mereka bisa tampil ramah dan mudah bergaul. Satu perilaku saja belum cukup untuk menyimpulkan seseorang sebagai social climber. Beberapa tanda yang disebut perlu diperhatikan secara pola, bukan sekali lihat:
- Perhatian yang sangat besar terhadap status, misalnya sering membicarakan siapa yang dikenal, lingkungan mana yang dianggap bergengsi, atau seberapa tinggi posisi seseorang.
- Usaha mempertahankan atau meningkatkan posisi sosial yang terlihat lewat media sosial, penampilan, pekerjaan, dan konsumsi barang yang menunjukkan status.
- Pola relasi yang berubah, misalnya kedekatan dengan seseorang jadi renggang begitu orang itu dianggap tidak lagi berguna.
Poin terakhir ini yang disarankan untuk dicermati secara konsisten, bukan cuma dari pakaian, jumlah teman, pekerjaan, atau lingkungan pergaulan seseorang saja.
Langkah menjaga relasi tanpa kehilangan batas
Berada di sekitar orang yang mengejar status, menurut laporan itu, bukan berarti harus langsung menjauh atau curiga. Berikut langkah yang disarankan:
- Pahami dulu pola hubungannya. Apakah kedekatan terasa tulus, atau hanya muncul ketika ada sesuatu yang bisa diperoleh dari kamu.
- Tetapkan batas yang sehat kalau mulai merasa dimanfaatkan. Tidak semua ajakan atau permintaan perlu diikuti demi mempertahankan pergaulan.
- Jaga hubungan dengan orang yang menghargai diri kamu, bukan hanya posisi atau koneksi yang kamu punya.
Memperluas pergaulan sendiri bukan hal yang salah. Mengenal orang baru, membangun koneksi, dan masuk ke lingkungan berbeda tetap jadi bagian wajar dari kehidupan sosial, selama relasi itu dibangun dengan saling menghargai.
