Ratusan santri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami gejala keracunan makanan setelah makan siang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 1 September 2026. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo per Rabu, 2 September 2026, mencatat total korban naik menjadi 566 orang, dari data sebelumnya sebanyak 531 orang.
Menurut Katadata, insiden bermula saat santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, menyantap menu MBG yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah selepas salat Zuhur pada 1 September 2026. Beberapa jam kemudian, sejumlah santri mulai mengeluh mual, muntah, pusing, dan lemas.
Abdul Wahid Harun, pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, mengatakan keluhan mulai muncul sekitar waktu salat Asar. Jumlah santri yang mengalami gejala serupa terus bertambah sampai mereka harus dievakuasi dan mendapat penanganan medis.
Pada Selasa malam, sedikitnya 120 santri sudah dibawa ke rumah sakit, tersebar di RSUD Sidoarjo, RS Siti Hajar, RS Delta Surya, dan RS Pusura Gelam. Jumlah itu terus bertambah keesokan harinya.
Data korban naik jadi 566 orang, BGN sempat catat 512
Pada Rabu pagi, 2 September 2026, jumlah santri yang mendapat penanganan medis tercatat sekitar 500 orang di delapan rumah sakit di Sidoarjo. Data ini kemudian diperbarui Dinas Kesehatan setempat menjadi 566 orang pada hari yang sama, setelah 35 kasus baru ditemukan dan ditangani.
Angka itu berbeda dari data awal Badan Gizi Nasional (BGN), yang sebelumnya menyebut 512 santri terdampak di ponpes tersebut. Perbedaan angka ini menunjukkan proses pendataan korban masih berjalan sampai pertengahan pekan ini.
Rincian penanganan korban di rumah sakit, Rabu pagi (2/9)
| Status penanganan | Jumlah santri |
|---|---|
| Sudah diperbolehkan pulang | 320 orang |
| Masih rawat inap | 65 orang |
| Masih dalam observasi | 115 orang |
Badan Gizi Nasional bekukan dapur penyedia 30 hari
Suara.com melaporkan BGN sudah membekukan operasional dapur atau SPPG yang diduga jadi sumber makanan penyebab keracunan itu selama 30 hari, sambil menyelidiki sampel makanannya. Pejabat BGN, Ketut Sumedana, mengonfirmasi setidaknya 512 siswa mengalami gejala keracunan, dengan puluhan di antaranya masih membutuhkan perawatan intensif.
“Fokus utama kami saat ini adalah menyelamatkan kesehatan anak-anak kita yang dirawat di beberapa rumah sakit,” kata Ketut Sumedana.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, mengonfirmasi dapur yang dibekukan itu adalah pemasok katering untuk ponpes terkait. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya turut turun tangan menyelidiki kasus ini, sementara Bupati Sidoarjo Subandi menyebut 31 dari total 170 SPPG di wilayahnya belum mengantongi izin operasional.
Sampai Rabu, 2 September 2026, penyebab pasti keluhan kesehatan para santri masih dalam proses penyelidikan. Pemerintah dan pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan untuk memastikan apakah gejala itu benar-benar berasal dari menu MBG.
Sorotan media internasional dan konteks nasional program MBG
Insiden ini juga disorot sejumlah media internasional, termasuk Reuters, Channel NewsAsia, Media Selangor, dan Asia News Network, yang menyoroti dampak kesehatan pada anak-anak sekaligus tantangan tata kelola program MBG secara nasional.
Media asing itu mengutip data lembaga pengawas independen Network for Education Watch, yang mencatat puluhan ribu dugaan kasus keracunan makanan terhubung dengan rantai pasok program MBG dalam beberapa bulan terakhir. Kesalahan penyimpanan bahan baku dan keterlambatan distribusi makanan matang disebut jadi pemicu utama penurunan kualitas makanan. Kepemimpinan baru BGN disebut sudah menutup ratusan dapur penyedia yang terbukti melanggar standar kualitas dan higienitas.
Kalau anak atau keluarga kamu jadi penerima menu MBG, khususnya dari SPPG di wilayah yang sama, ada beberapa hal yang perlu kamu cek langsung ke sumber resmi sebelum menyimpulkan sendiri:
- Pantau gejala seperti mual, muntah, pusing, atau lemas beberapa jam setelah makan, dan segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat kalau muncul.
- Cek status izin operasional SPPG yang menyuplai makanan ke sekolah atau ponpes anak kamu lewat pihak sekolah atau BGN setempat.
- Ikuti update resmi dari Dinas Kesehatan setempat dan BGN, karena angka korban dan hasil investigasi masih bisa berubah.
- Simpan kontak SPPG dan pihak sekolah supaya kamu bisa langsung melapor kalau menemukan gejala serupa pada anak lain.
Sampai laporan ini ditulis, penyebab pasti keracunan masih diselidiki BBPOM dan BGN, jadi informasi soal jumlah korban dan status dapur penyedia berpotensi terus diperbarui.