TERKINI
Menhub Minta Aplikator Ojol Awasi Keselamatan dan Perawatan Motor Mitra/// Polisi Dalami Peran Tiga Orang Lain di Kasus Dugaan Pencabulan Santriwati Bekasi/// MK Nyatakan Tak Ada Bukti Ijazah Setara SMA Gibran, Pansus DPR Diusulkan/// Kejagung Limpahkan 5 Tersangka Dugaan Korupsi Motor Listrik MBG, Kerugian Negara Rp863,8 Miliar/// UGM Naik ke Kelompok 801-1000 Dunia di THE WUR 2027, UIN Sunan Kalijaga Unggul di Jogja-Jateng/// Menhub Minta Aplikator Ojol Awasi Keselamatan dan Perawatan Motor Mitra/// Polisi Dalami Peran Tiga Orang Lain di Kasus Dugaan Pencabulan Santriwati Bekasi/// MK Nyatakan Tak Ada Bukti Ijazah Setara SMA Gibran, Pansus DPR Diusulkan/// Kejagung Limpahkan 5 Tersangka Dugaan Korupsi Motor Listrik MBG, Kerugian Negara Rp863,8 Miliar/// UGM Naik ke Kelompok 801-1000 Dunia di THE WUR 2027, UIN Sunan Kalijaga Unggul di Jogja-Jateng///
Bisnis

Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto blak-blakan soal tiga syarat RI jadi markas data center AI dan faktor yang membuat ekonomi RI masih di kisaran 5 persen, sementara Vietnam sudah mencapai hampir 10 persen pada kuartal III 2026.

Berita.co – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka tiga syarat utama supaya Indonesia bisa jadi basis atau markas industri data center di tengah perlombaan global pengembangan artificial intelligence (AI), sekaligus menjelaskan kenapa pertumbuhan ekonomi RI masih tertahan di kisaran 5% sementara Vietnam sudah melaju ke kisaran 9%.

Dua pernyataan ini disampaikan Airlangga di forum ekonomi Jakarta pada Selasa (6/10/2026). Kalau kamu sedang menimbang peluang di sektor data center, hilirisasi, atau cuma ingin paham posisi daya saing RI dibanding Vietnam, berikut poin-poin konkretnya.

Tiga Syarat Jadi Markas Data Center AI

Airlangga menyebut tiga kunci yang harus dipenuhi Indonesia untuk menangkap peluang industri data center, yaitu ketersediaan lahan, listrik, dan air. Kebutuhan data center dinilai terus meningkat seiring perlombaan negara-negara mengembangkan industri AI.

  • Lahan, dengan skala yang memadai untuk infrastruktur data center.
  • Listrik, karena pengembangan data center butuh dukungan kapasitas besar.
  • Air, sebagai faktor pendukung operasional skala besar.

Salah satu kawasan yang sudah disiapkan pemerintah untuk industri digital adalah kawasan ekonomi khusus (KEK) digital di Bintan, Kepulauan Riau. Kawasan itu disebut sudah penuh atau sold out, sehingga pemerintah menyiapkan kawasan lain di Karawang, Jawa Barat, yang dinilai strategis karena dekat pasar domestik.

Dari sisi listrik, tambahan kapasitas nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan diperkirakan mencapai sekitar 500 megawatt. Airlangga juga menyebut pengembangan AI butuh dukungan data yang kredibel, karena tanpa itu teknologi AI tidak bisa bekerja optimal.

Kenapa Ekonomi RI Masih di Kisaran 5%, Vietnam Sudah 9%

Pada forum yang sama di Jakarta Selatan, Airlangga menjelaskan sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertahan di rata-rata 5%, sementara Vietnam sudah mencapai kisaran 9%.

Airlangga menyebut Indonesia perlu mendorong digitalisasi, semikonduktor, dan AI kalau ingin mengejar laju Vietnam, karena ketiga sektor itu sudah lebih dulu digarap Vietnam.

“Dan kesempatan untuk (pertumbuhan ekonomi) naik dari 5, kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9%, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI. Jadi itu seluruhnya leverage yang Vietnam sudah lakukan lebih dulu dari Indonesia.”

Menurut detikFinance, Airlangga mengibaratkan pengaruh industri berteknologi tinggi terhadap ekonomi nasional seperti tangga eskalator. Indonesia saat ini masih tertahan di level industri menengah dan belum melompat ke sektor jasa modern serta digitalisasi seperti Vietnam dan India. Kalau lompatan itu terjadi, pertumbuhan 8% dinilai bisa dicapai.

Kawasan Ekonomi Khusus dan Perjanjian Dagang, RI Masih di Belakang Vietnam

Dari sisi kawasan ekonomi khusus, luas KEK Indonesia saat ini sekitar 24.000 hektare, jauh di bawah Vietnam yang mencapai sekitar 2 juta hektare. Airlangga menilai Vietnam lebih masif, lebih berani, dan memberikan kepastian serta pelayanan investasi yang lebih baik ke investor.

Vietnam juga sudah lebih dulu menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa, serta mendapat perlakuan tarif dan nontarif yang lebih menguntungkan dari Amerika Serikat dibanding Indonesia.

Airlangga menyebut itu salah satu alasan ekspor Vietnam melaju lebih cepat, meski negara itu tidak punya pasar domestik sebesar Indonesia sehingga investasi di sana memang didorong untuk ekspor.

Angka pembanding yang dipakai Airlangga bukan tanpa dasar. Berdasarkan data dari Kantor Statistik Nasional di Hanoi yang dirilis Sabtu (3/10/2026), produk domestik bruto Vietnam naik 9,95% pada periode Juli-September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini merupakan yang tercepat sejak kuartal III 2022, melampaui median perkiraan 8,65% dari survei Bloomberg terhadap delapan ekonom, dan naik dari angka revisi pertumbuhan 8,81% pada kuartal II 2026.

Di sisi hilirisasi, pemerintah menargetkan hilirisasi pada 28 komoditas dengan kebutuhan investasi diperkirakan mencapai USD 618 miliar.

Airlangga menyebut investasi itu diharapkan mendorong nilai ekspor naik menjadi USD 857 miliar, dengan nilai tambah sebesar USD 235,9 miliar. Saat ini nilai ekspor Indonesia mendekati USD 500 miliar, artinya target itu setara hampir dua kali lipat dari posisi sekarang.

Berita Terkait

Bisnis · Airlangga Hartarto