Teknologi

Malware Menyamar Jadi ChatGPT dan Claude Palsu, Kaspersky: Perusahaan Indonesia Ikut Diincar

Kecerdasan buatan yang makin banyak dipakai di kantor ternyata juga jadi kedok baru buat malware. Peneliti keamanan siber menemukan puluhan ribu serangan yang menyamar sebagai aplikasi AI populer, dan sebagian di antaranya sudah menyasar perusahaan di Indonesia.

92.000 Serangan Menyamar Sebagai ChatGPT, Claude, dan Gemini

Tim riset keamanan Kaspersky, GReAT, mencatat 92.000 serangan siber yang menyamar sebagai layanan AI populer. Data ini dipublikasikan lewat keterangan resmi Kaspersky pada Senin, 24 Agustus 2026, seperti dilaporkan Suara.com.

Dari total serangan itu, hampir separuhnya, 49 persen, menyamar sebagai aplikasi ChatGPT. Layanan yang meniru Claude dan Gemini masing masing menyumbang 18 persen.

Layanan AI yang ditiru Porsi dari 92.000 serangan
ChatGPT 49%
Claude 18%
Gemini 18%

Modusnya, kata peneliti keamanan Kaspersky GReAT, Sojun Ryu, memanfaatkan rasa percaya pengguna terhadap aplikasi AI yang sudah dikenal luas.

“Ketika kecepatan melampaui verifikasi, kecepatan tersebut justru dapat memperbesar risiko,” kata Ryu dalam keterangan resminya, Senin (24/8/2026).

Aplikasi atau layanan palsu ini dibuat mirip produk AI resmi, tapi sebenarnya membawa malware ke perangkat korban begitu diunduh dan dijalankan. Jenisnya beragam, mulai dari trojan, spyware, exploit, downloader, dropper, sampai backdoor. Kalau berhasil aktif, malware ini bisa dipakai buat mencuri data internal atau membuka akses kendali jarak jauh ke perangkat korban.

Kaspersky juga menemukan lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak agentic AI, kategori AI yang bisa menjalankan tugas sendiri lewat berbagai aplikasi dan API. Artinya, bukan cuma chatbot biasa yang jadi umpan, agen AI yang lebih otonom pun mulai dipakai penjahat siber sebagai kedok.

Kelompok SilverFox Sebar Aplikasi Claude Palsu, Incar Perusahaan di Indonesia

Selain temuan skala global itu, Kaspersky GReAT juga membongkar taktik kelompok peretas SilverFox, salah satu kelompok Advanced Persistent Threat (APT) paling aktif di Asia Pasifik. Kelompok ini kedapatan menyebarkan aplikasi Claude palsu, chatbot AI buatan Anthropic, untuk sistem operasi Windows, macOS, dan Linux, menurut laporan detikInet.

Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GReAT, Ye Jin, menyebut kelompok ini membidik perusahaan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, India, Afrika Selatan, dan Rusia. Sektornya mencakup industri, konsultasi, sampai transportasi.

“Analisis terbaru kami menunjukkan bahwa mereka sekarang mendistribusikan Claude palsu untuk memanfaatkan tren penggunaan AI di perusahaan guna meretas pertahanan keamanan target mereka,” kata Ye Jin.

Sebelum beralih ke aplikasi AI palsu, modus awal SilverFox memakai email phishing yang menyamar sebagai pemberitahuan audit pajak resmi. Lebih dari 1.600 email berisi dokumen “daftar pelanggaran pajak” fiktif disebar sepanjang Januari hingga Februari 2026.

Secara global, lebih dari 90 persen serangan SilverFox masih menyasar China, disusul Myanmar, Kamboja, dan Singapura. Sektor manufaktur jadi industri yang paling banyak diserang, lebih dari sepertiga dari total serangan, diikuti layanan TI, kesehatan, dan keuangan.

Malware yang Digerakkan AI Sepenuhnya Mulai Muncul

Kaspersky turut menyoroti kemunculan ancaman siber yang seluruh prosesnya dijalankan AI, bukan lagi cuma dibantu AI. Salah satunya JADEPUFFER, yang disebut sebagai ransomware berbasis large language model atau agen AI pertama di dunia.

Agen AI di balik JADEPUFFER bisa mendiagnosis kegagalan serangannya sendiri, memperbaiki pendekatannya, lalu meluncurkan serangan baru secara mandiri hanya dalam 31 detik, jauh lebih cepat dari respons kebanyakan tim keamanan siber.

Dua contoh lain yang ditemukan Kaspersky adalah ChatGPhish, teknik yang menyembunyikan instruksi berbahaya di halaman web sehingga asisten AI yang diminta meringkas halaman itu tanpa sadar meneruskan tautan berbahaya ke pengguna, dan VoidLink, malware yang kodenya hampir seluruhnya dibuat otomatis oleh AI generatif.

Langkah Mitigasi yang Disarankan Kaspersky

Menghadapi serangan yang makin otonom dan cepat, Kaspersky merekomendasikan empat langkah mitigasi buat perusahaan.

  • Pertahanan proaktif lewat perburuan ancaman (threat hunting) berbasis AI.
  • Arsitektur zero trust, memverifikasi ketat setiap permintaan akses di jaringan internal.
  • Pertahanan sistematis, dari titik akhir (endpoint), jaringan, aplikasi, sampai data.
  • Memakai model AI berskala besar buat mendeteksi dan merespons ancaman secara real time.

Buat kamu yang kerja di perusahaan dan mulai pakai AI, baik itu chatbot biasa maupun agen AI yang bisa jalan sendiri, cek dulu sumber unduhan aplikasinya. Aplikasi Claude, ChatGPT, atau Gemini resmi cuma diunduh lewat situs resmi atau app store resmi, bukan lewat tautan yang dikirim email atau pesan yang asalnya tidak jelas.

Roni Eka Setiawan

Roni Eka Setiawan

Editor

Menulis kanal Teknologi di Berita.co. Backend engineer di Airpaz, sebelumnya web platform engineer di Bank Rakyat Indonesia dan Kompas Gramedia, jadi spesifikasi dan komparasi gadget di sini ditulis dari sudut orang yang tiap hari bekerja dengan teknologinya.

linkedin.com View all articles