Motor

Insentif Molinas Dievaluasi, Ini yang Perlu Dicek Sebelum Kredit Motor Listrik

Kalau kamu lagi mempertimbangkan kredit motor listrik lewat program Motor Listrik Nasional (Molinas), ada beberapa hal yang perlu kamu cek dulu sebelum ambil keputusan. Pemerintah saat ini tengah mengevaluasi skema insentif Molinas, termasuk wacana uang muka atau down payment (DP) 0 persen yang sempat disinggung saat peluncuran program pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Cikarang, Bekasi.

Pemerintah Evaluasi Mekanisme Penyaluran Insentif

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, evaluasi ini mencakup mekanisme penyaluran insentif sampai tingkat realisasinya di lapangan. Menurut dia, besaran insentif bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan program, kemudahan akses juga penting. Keterangan itu disampaikan Susiwijono saat ditemui di Jakarta, dikutip Senin, 24 Agustus 2026, seperti dilaporkan KOMPAS.com.

“Kalau ada dalam praktiknya penyerapan masih belum tinggi, ya kita review apakah karena mekanismenya yang perlu kita sederhanakan, persyaratan dan administrasinya dan sebagainya,” kata Susiwijono.

Susiwijono menjelaskan, sektor otomotif dan properti termasuk dua sektor yang konsisten mendapat dukungan insentif pemerintah sejak periode setelah pandemi Covid-19, karena kontribusinya ke produk domestik bruto (PDB) tergolong signifikan. Insentif motor listrik jadi bagian dari strategi itu, dengan harapan bukan cuma mendongkrak penjualan tapi juga memberi efek berganda ke ekonomi. Meski begitu, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kemampuan fiskal negara.

Wacana DP 0 Persen, Kenapa Perlu Hati-hati

Rencana DP 0 persen untuk Molinas dinilai perlu dikaji matang sebelum diterapkan secara luas. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, secara teknis skema itu bisa dieksekusi, tapi dari sisi manajemen risiko perbankan menyimpan potensi bahaya kalau dijadikan hak otomatis buat semua pembeli. Pernyataan ini disampaikan Josua kepada kumparan pada Jumat, 21 Agustus 2026.

“Secara teknis skema tersebut mungkin dilakukan. Namun, dari sisi kehati-hatian, uang muka nol persen seharusnya merupakan fasilitas bagi debitur berkualitas baik, bukan hak otomatis setiap pembeli Molinas,” kata Josua.

Menurut Josua, uang muka bukan sekadar syarat administratif, tapi instrumen penting buat menekan risiko kredit. Kalau konsumen bayar DP di awal, jumlah pinjaman jadi lebih kecil sehingga komitmen melunasi cicilan lebih kuat. Sebaliknya, DP 0 persen berarti seluruh harga motor dibiayai kredit sejak hari pertama.

Risiko ini, kata Josua, bisa melonjak khusus buat motor listrik karena harga jual kembali unit bekasnya sangat tergantung kondisi baterai, kecepatan perkembangan teknologi, dan pasar motor listrik bekas yang belum stabil. Kalau terjadi gagal bayar, hasil jual kembali motor bisa jauh lebih kecil dari sisa utang, dan kerugian itu berpindah ke bank atau perusahaan pembiayaan. Josua mendukung DP 0 persen sebagai fasilitas selektif untuk debitur berkualitas baik, bukan sebagai kebijakan massal untuk semua pembeli Molinas.

Saat peluncuran Molinas di Cikarang, Presiden Prabowo Subianto sempat menyampaikan bahwa penghematan biaya pakai motor listrik dibanding motor bensin bisa mencapai minimal 50 persen. Presiden juga menyebut pemerintah tengah mengupayakan skema pembelian tanpa DP, selain penurunan suku bunga cicilan.

Contoh Skema Kredit yang Sudah Berjalan

Di lapangan, skema kredit motor listrik memang makin kompetitif. Salah satu contohnya adalah Polytron Fox 350, motor listrik dengan harga on the road (OTR) Rp22.500.000. Lewat subsidi Rp6,5 juta yang langsung memotong uang muka, konsumen cukup menyiapkan DP sebesar Rp2 juta. Di ajang GIIAS, motor listrik termurah yang dipamerkan adalah Exotic Sprinter AT dengan banderol Rp9,9 juta.

Model Harga OTR Subsidi/Insentif DP yang Dibayar Konsumen
Polytron Fox 350 Rp22.500.000 Rp6.500.000 Rp2.000.000
Exotic Sprinter AT (termurah di GIIAS) Rp9.900.000 Belum dirinci Belum dirinci

Meski cicilan bulanannya kini bisa sejajar bahkan lebih murah dibanding motor bensin, minat konsumen terhadap kredit motor listrik disebut belum setinggi harapan pemerintah. Ini yang jadi salah satu alasan pemerintah mengevaluasi ulang mekanisme insentif, bukan cuma soal besaran anggaran, tapi juga soal seberapa mudah program ini diakses dan seberapa besar daya tariknya di lapangan.

Yang Perlu Kamu Cek Sebelum Ambil Kredit Molinas

Kalau kamu berencana beli motor listrik lewat skema Molinas, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu konfirmasi dulu ke dealer atau lembaga pembiayaan.

  • Skema DP yang berlaku untuk unit dan wilayahmu, apakah masih pakai DP minimal atau sudah masuk kategori DP 0 persen, dan syarat kualifikasinya apa saja.
  • Besaran subsidi resmi yang dipotong dari harga OTR, seperti contoh Rp6,5 juta pada Polytron Fox 350, dan pastikan angka itu masih berlaku di dealer tempatmu membeli.
  • Simulasi cicilan bulanan dengan asumsi tenor dan suku bunga yang jelas, lalu bandingkan dengan cicilan motor bensin setara.
  • Kebijakan resale atau nilai jual kembali dari lembaga pembiayaan, mengingat harga motor listrik bekas masih fluktuatif menurut ekonom Permata Bank.

Kalau prioritasmu menekan cicilan bulanan seminimal mungkin dan kamu yakin dengan kondisi keuangan jangka panjang, skema DP rendah atau 0 persen bisa dipertimbangkan asal kamu paham risikonya. Tapi kalau kamu ingin menghindari risiko nilai jual kembali yang belum stabil, DP yang lebih besar tetap jadi pilihan lebih aman sampai pemerintah merampungkan evaluasi mekanisme insentif ini.

Rendy Andriyanto

Rendy Andriyanto

Administrator

Menulis kanal Otomotif di Berita.co. Praktisi SEO dengan pengalaman 8 tahun lebih di industri berita, otomotif, dan produk finansial, termasuk dua tahun menangani Hyundai Motorstudio Senayan Park dan membangun situsnya, hyundai.motorstudio.co.id.

linkedin.com View all articles