Snowflake, perusahaan AI data cloud, mengingatkan bahwa AI yang bekerja tanpa konteks bisnis yang tepat justru bisa merugikan perusahaan, bukan membantu. Peringatan ini muncul bersamaan dengan langkah Telkomsel Enterprise menghadirkan produk data baru bernama Big Data Telco Insight di platform Snowflake Marketplace pada 3 September 2026.
Menurut wawancara eksklusif Regional Vice President & Managing Director ASEAN Snowflake, Satchit Joglekar, dengan KOMPAS.com di ajang Snowflake World Tour Jakarta, Hotel Raffles Jakarta, Rabu (2/9/2026), AI yang tidak dibekali informasi dan data relevan berisiko mengambil keputusan yang keliru. “AI tanpa konteks bisa menjadi liabilitas, dan AI seperti ini bisa memberikan respons atau mengambil keputusan yang justru merugikan perusahaan,” ujar Satchit.
Istilah “AI data cloud” sendiri, dalam kasus Snowflake, artinya platform tempat perusahaan menyimpan data mereka sekaligus menjalankan analitik dan model AI di satu lingkungan yang sama, tanpa perlu memindah-mindahkan data ke sistem lain.
Contoh yang dipakai Snowflake: pelanggan telko yang salah dikirimi promosi
Satchit memberi contoh sederhana dari industri telekomunikasi. Seorang pelanggan baru saja memutuskan kontraknya setelah mengalami pengalaman buruk dengan operator, tetapi informasi itu tidak terhubung dengan sistem pemasaran. Beberapa hari kemudian, sistem AI yang membantu tim pemasaran justru merekomendasikan agar pelanggan tersebut dikirimi promosi baru.
Bagi sistem AI Agent, rekomendasi itu bisa saja terlihat masuk akal karena hanya mengikuti pola data yang ada. Tapi buat pelanggan yang baru saja kecewa, pesan promosi itu terasa mengganggu, dan berisiko memperburuk reputasi perusahaan kalau dibagikan ke media sosial. Ini contoh paling gampang soal kenapa “AI punya banyak data” berbeda jauh dari “AI paham konteks”.
Persoalan konteks makin rumit karena tiap perusahaan, bahkan tiap divisi dalam satu perusahaan, punya bahasa dan definisi kerja sendiri. Satchit mencontohkan kata “pertumbuhan”. Chief Revenue Officer biasanya mengartikannya sebagai peningkatan pendapatan, direktur pemasaran melihatnya dari pertumbuhan pelanggan atau penjualan, sementara Chief Financial Officer memperhitungkan biaya dan margin dulu sebelum menyebut bisnis tumbuh.
Ketika ketiga orang itu menanyakan pertanyaan yang sama ke AI, jawabannya seharusnya tidak selalu sama, karena AI perlu tahu siapa yang bertanya dan definisi apa yang dipakai orang tersebut.
Jawaban konkret dari Telkomsel: Big Data Telco Insight
Kalau bagian di atas masih terasa abstrak, produk yang diumumkan Telkomsel Enterprise pada 3 September 2026 memberi gambaran lebih konkret soal “konteks tambahan” itu. Menurut Selular, Telkomsel Enterprise menghadirkan Big Data Telco Insight lewat Snowflake Marketplace, yaitu semacam etalase digital tempat organisasi yang sudah pakai Snowflake bisa menemukan dan langsung memakai data pihak ketiga tanpa harus memindahkannya secara manual.
Produk ini mengolah sinyal jaringan Telkomsel dalam skala besar menjadi informasi tingkat wilayah, mencakup pola mobilitas populasi, komposisi demografis, keterlibatan digital, dan tren pasar, dengan cakupan nasional di Indonesia. “Skala dan keragaman Indonesia membutuhkan informasi yang benar-benar mencerminkan perubahan masyarakat, bisnis, dan pasar di seluruh negeri,” kata Jockie Heruseon, Vice President of Data Solutions and Digital Financial Services, Telkomsel Enterprise, sebagaimana dikutip Selular.
Idenya, data wilayah dari Telkomsel ini dipakai berdampingan dengan data internal perusahaan sendiri di lingkungan Snowflake, sehingga tim data tidak perlu mencari dan mengintegrasikan data eksternal secara terpisah setiap kali butuh konteks pasar.
Bagaimana data pelanggan dijaga
Karena sumbernya adalah data jaringan telekomunikasi, pertanyaan soal privasi wajar muncul. Telkomsel menyatakan seluruh wawasan dalam Big Data Telco Insight sudah melalui proses agregasi dan anonimisasi, artinya data individual pelanggan sudah digabung dan dilepas identitasnya sebelum diolah jadi informasi tingkat wilayah, bukan data personal per pelanggan. Pengolahan ini disebut mengikuti kerangka tata kelola data Telkomsel yang diselaraskan dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
Director of Partnerships & Alliances ASEAN Snowflake, Angela Koh, menambahkan bahwa data internal suatu organisasi hanya memberi sebagian gambaran, terutama ketika bisnis beroperasi di pasar seskala dan seberagam Indonesia. Telkomsel Enterprise menyebut dirinya sebagai perusahaan telekomunikasi pertama di Indonesia yang menyediakan kapabilitas wawasan telekomunikasi lewat Snowflake Marketplace, klaim yang datang langsung dari perusahaan dan belum diverifikasi pihak independen dalam laporan ini.
Kalau kamu di tim data atau marketing, apa artinya ini?
Dua kabar ini sebenarnya saling mengunci. Snowflake bilang AI tanpa konteks bisa salah ambil keputusan, dan Telkomsel menjawabnya dengan menjual konteks tambahan dalam bentuk data wilayah yang bisa disandingkan dengan data internal perusahaan, mulai dari ritel, properti, pariwisata, jasa keuangan, hingga sektor publik.
Trade-off-nya jelas. Data agregat seperti Big Data Telco Insight bisa memberi gambaran pola wilayah yang mungkin tidak dimiliki perusahaan sendiri, tapi ia tetap data pihak ketiga yang perlu digabung dan diinterpretasikan dengan hati-hati, bukan jawaban otomatis atas masalah konteks yang disebut Snowflake. Perusahaan yang cuma menambah sumber data tanpa memperbaiki cara timnya mendefinisikan istilah kerja sendiri, seperti contoh “pertumbuhan” tadi, kemungkinan besar masih akan menghadapi masalah yang sama.