TERKINI
Yamaha Absen di MotoGP Qatar 2026, MotoGP Group Kecewa meski Klaim Ada Jaminan Aman/// Wamenhaj Usul Non-Muslim Jadi Petugas Haji Teknis, MUI Batasi pada Tugas Lapangan/// Pendaftaran MagangHub Batch 3 Ditutup 4 November, Ini Tahapan Setelahnya/// KPK Buka Peluang Hadirkan Ahmad Dhani sebagai Saksi Sidang Korupsi Bea Cukai/// Harga Emas Antam Naik Rp10.000 Jadi Rp2.541.000 per Gram, Buyback Rp2.311.000/// Yamaha Absen di MotoGP Qatar 2026, MotoGP Group Kecewa meski Klaim Ada Jaminan Aman/// Wamenhaj Usul Non-Muslim Jadi Petugas Haji Teknis, MUI Batasi pada Tugas Lapangan/// Pendaftaran MagangHub Batch 3 Ditutup 4 November, Ini Tahapan Setelahnya/// KPK Buka Peluang Hadirkan Ahmad Dhani sebagai Saksi Sidang Korupsi Bea Cukai/// Harga Emas Antam Naik Rp10.000 Jadi Rp2.541.000 per Gram, Buyback Rp2.311.000///
Bisnis

Inflasi Oktober 2026 Capai 3,23 Persen, Cabai Merah Jadi Pendorong Utama

BPS mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan. Cabai merah menyumbang sekitar 59 persen dari kenaikan harga bulanan.

Komoditas pangan dijual di Pasar Gondangdia, Jakarta, pada Jumat 23 Oktober 2026.

Berita.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Oktober 2026 sebesar 3,23 persen, dengan inflasi bulanan 0,22 persen. Harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat menjadi pendorong utama kenaikan bulanan itu.

Angka tersebut diumumkan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers rilis BPS di Jakarta, Senin (2/11/2026). Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.

Dibanding September 2026, IHK naik dari 112,31 menjadi 112,56. Secara tahun kalender, inflasi Januari hingga Oktober 2026 tercatat 2,40 persen.

Cabai merah menyumbang lebih dari separuh inflasi bulanan

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi bulanan 0,51 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi umum. “Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13%, berikutnya cabai rawit sebesar 0,05%, serta tomat sebesar 0,04%,” kata Ateng.

Andil cabai merah sebesar 0,13 persen setara sekitar 59 persen dari total inflasi bulanan 0,22 persen. Artinya, satu komoditas ini menentukan sebagian besar arah harga bulan Oktober.

Komponen harga bergejolak menjadi pendorong utama dengan inflasi 0,77 persen dan andil 0,13 persen. Komponen inti naik 0,12 persen dengan andil 0,07 persen, sedangkan harga yang diatur pemerintah naik 0,09 persen dengan andil 0,02 persen, terutama karena tarif angkutan udara.

Pangan dan transportasi mendorong inflasi tahunan

Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 4,82 persen dengan andil terbesar, 1,40 persen. Penyumbangnya antara lain cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), dan daging sapi.

Kelompok transportasi naik 4,87 persen dengan andil 0,59 persen, didorong bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, servis kendaraan, dan mobil. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 4,52 persen dengan andil 0,32 persen, salah satunya karena harga emas perhiasan.

Baca Juga:  MSCI Buka Konsultasi Status Pasar RI, Ini Respons Pemerintah dan OJK

Menurut komponen, harga bergejolak mencatat inflasi tahunan tertinggi 5,81 persen dengan andil 0,96 persen. Harga yang diatur pemerintah naik 3,24 persen dengan andil 0,63 persen, sedangkan komponen inti naik 2,56 persen dengan andil terbesar, 1,64 persen.

Belanja senilai Rp1 juta pada Oktober 2025 kini rata-rata butuh sekitar Rp1.032.300, mengikuti inflasi tahunan 3,23 persen. Untuk pos makanan, minuman, dan tembakau, tambahannya lebih besar, sekitar Rp48.200 per Rp1 juta belanja.

Sulawesi Utara tertinggi, DKI Jakarta terendah

Inflasi bulanan terjadi di 33 provinsi, sementara lima provinsi mengalami deflasi. Papua Selatan mencatat inflasi bulanan tertinggi 1,12 persen, sedangkan Gorontalo mengalami deflasi terdalam 0,67 persen.

Secara tahunan, seluruh provinsi mengalami inflasi. Sulawesi Utara tertinggi dengan 8,07 persen dan DKI Jakarta terendah dengan 2,52 persen, selisih 5,55 poin persentase.

Untuk menilai daya beli, kamu bisa membandingkan kenaikan gaji dengan inflasi provinsi tempat tinggal, bukan hanya angka nasional. Kenaikan gaji 3 persen masih di atas inflasi Jakarta, tetapi di Sulawesi Utara nilai riilnya justru turun.

Berita Terkait

Bisnis · BPS