Pemilik mobil niaga seperti Gran Max, Carry, Avanza, dan Sigra punya alasan konkret buat mampir ke Pasar Asem Reges, Jakarta Barat, sebelum ke bengkel resmi. Untuk komponen gardan saja, selisih harganya bisa mencapai jutaan rupiah dibanding beli baru.
Menurut penelusuran kumparan.com, Awang, salah satu pedagang spare part mobil bekas di kawasan itu, mengatakan konsumen tokonya memang didominasi pemilik mobil niaga. Wawancara berlangsung langsung di lokasi pada Senin (24/8).
Kenapa mobil niaga jadi pelanggan utama
Awang menjelaskan, mobil niaga seperti Gran Max, Carry, Avanza, dan Sigra dipakai harian untuk ojol atau bisnis angkut, sehingga komponennya lebih cepat mencapai usia pakai. Itu yang membuat permintaan onderdil untuk jenis kendaraan ini rutin datang ke tokonya.
Suku cadang yang paling sering dicari antara lain:
- Silinder head
- Kruk as
- Gardan
- Transmisi
Dari daftar itu, gardan disebut jadi komponen paling laris untuk Avanza dan mobil niaga sejenis.
Selisih harga onderdil copotan versus bengkel resmi

Alasan utama konsumen memilih komponen copotan ketimbang barang baru adalah harga. Untuk gardan, selisihnya bisa mencapai jutaan rupiah antara toko copotan dan bengkel resmi.
| Komponen | Harga di Pasar Asem Reges | Harga di Bengkel Resmi |
|---|---|---|
| Gardan (copotan) | Rp 3 juta | Rp 8 juta sampai Rp 9 juta |
Barang yang dijual mayoritas berasal dari copotan kendaraan Singapura maupun kendaraan lokal, dan diperiksa lebih dulu sebelum ditawarkan ke konsumen.
Awang menegaskan tidak semua onderdil bekas layak dijual kembali. Komponen dari mobil bekas tabrakan, menurutnya, tidak dibeli karena kandungan besinya sudah tergerus sekitar 80% sehingga tidak layak pakai.
“Mungkin ada ya pedagang yang begitu, kami jaga kualitas dan kuantitas juga, nggak mungkin jualan barang asal-asalan.”
Kalau barang yang dibeli ternyata tidak cocok atau berbunyi setelah dipasang, toko menyediakan opsi tukar sebagai bentuk garansi.
Penjualan turun 70% sejak e-commerce, tapi toko tetap bertahan
Di sisi lain, kehadiran platform jual beli online ikut menekan transaksi tatap muka di Pasar Asem Reges. Awang mengaku jumlah konsumennya berkurang sekitar 70%, tren yang menurutnya mulai terasa sejak sekitar 2019.
Meski begitu ia memilih tidak berjualan lewat platform online. Alasannya, transaksi langsung dinilai lebih menguntungkan konsumen karena mereka bisa membawa mekanik sendiri untuk mengecek kondisi dan kecocokan komponen sebelum membayar, mengingat kondisi spare part copotan berbeda-beda meski berasal dari mobil yang sama.
Awang tetap punya pelanggan dari luar Jakarta, termasuk Jambi dan Singkawang, umumnya pemilik bengkel langganan lama. Untuk pengiriman ke luar pulau seperti Sumatra, pemesanan disebut masih rutin datang beberapa kali dalam sebulan, dengan pilihan pengiriman lewat pesawat untuk cepat atau kapal laut untuk yang lebih murah. Ia juga mengandalkan jaringan sesama pedagang di pasar itu untuk mencari komponen yang sulit ditemukan di tokonya sendiri.
Kalau prioritas kamu harga semurah mungkin dan kamu bisa datang langsung untuk cek fisik barang atau bawa mekanik sendiri, opsi seperti di Pasar Asem Reges masuk akal, terutama untuk komponen mahal seperti gardan yang selisihnya bisa jutaan rupiah. Tapi kalau kamu butuh kepastian tanpa harus datang ke lokasi, jalur ini punya keterbatasan karena pedagang seperti Awang sendiri mengaku tidak melayani transaksi online, hanya lewat telepon untuk pemesanan dari luar kota.