Persaingan mobil listrik mungil di Jepang semakin ramai. Suzuki resmi memperkenalkan e Sky sebagai versi produksi dari konsep Vision e-Sky, dan mobil ini siap dipasarkan di Jepang mulai musim gugur 2026. Kehadirannya membuat lini EV mungil makin ketat, karena harus bersaing dengan BYD Racco yang sudah lebih dulu mendapat sambutan hangat di pasar Jepang. Di Indonesia sendiri, Wuling Aira EV sudah dijual duluan dan jadi pembanding kalau nanti Racco atau e Sky ikut masuk ke pasar Tanah Air.
Suzuki e Sky, kei car listrik ketiga dari Suzuki

Menurut OtoDream, e Sky menjadi mobil listrik produksi ketiga Suzuki setelah e Vitara dan e Every, sekaligus kendaraan listrik pertama merek ini yang masuk segmen kei car di Jepang. Dimensinya kompak, panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, tinggi 1.625 mm, dengan jarak sumbu roda 2.460 mm. Karena berstatus kei car, tenaga motor listriknya dibatasi regulasi maksimal 64 PS atau sekitar 47 kW, dan Suzuki belum mengumumkan angka pastinya.
Baterainya berjenis lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 26 kWh yang ditempatkan di bawah lantai kabin. Dengan kapasitas itu, jarak tempuh yang ditarget mencapai 310 km. Bobot e Sky tercatat sekitar 1.030 kg. Untuk pengisian daya, baterai butuh sekitar 8 jam pakai listrik rumah standar, atau sekitar 4,5 jam kalau pakai wallbox 6 kW. Pengisian cepat DC 50 kW bisa mengisi baterai sampai 80 persen dalam 25 menit. Mobil ini juga dibekali fitur Vehicle-to-Home (V2H) plus soket AC 1.500 watt buat menyalakan perangkat rumah tangga.
Setelah meluncur di Jepang, Suzuki berencana memperluas penjualan e Sky ke Eropa dan Inggris pada 2027, di mana rivalnya jadi Renault Twingo E-Tech dan Dacia Spring. Belum ada sinyal e Sky bakal masuk Indonesia.
BYD Racco, standar yang harus dilewati e Sky di Jepang

Salah satu rival langsung e Sky di Jepang adalah BYD Racco. OtoDriver mencatat Racco dirancang sesuai regulasi kei car Jepang dan punya fitur pintu geser belakang, yang jadi salah satu pembeda dibanding EV mungil lain di kelasnya. Racco dijual dalam dua varian baterai, Racco 200 dengan baterai 22,4 kWh berjarak tempuh 210 km WLTC, dan Racco 300 dengan baterai 35,84 kWh berjarak tempuh 320 km WLTC.
Di Jepang, harga Racco varian 200 mulai 2,145 juta yen sudah termasuk pajak, dengan harga sebelum pajak dan subsidi sekitar 1,95 juta yen. Sampai saat ini BYD belum mengumumkan harga resmi Racco untuk pasar Indonesia, karena model ini memang baru dipasarkan di Jepang.
Wuling Aira EV, satu-satunya yang sudah bisa dibeli di Indonesia

Beda dari Racco dan e Sky yang masih terbatas di Jepang, Wuling Aira EV sudah resmi dijual di Indonesia. Mobil ini tampil dengan konfigurasi empat pintu yang membuat akses penumpang belakang lebih praktis dibanding Wuling Air ev generasi sebelumnya. Harga resminya bertingkat sesuai jarak tempuh, Rp214 juta untuk varian Lite 200 km, Rp251 juta untuk varian Lite 300 km, dan Rp307 juta untuk varian Pro 300 km.
Bandingkan baterai, jarak tempuh, dan harga
| Model | Baterai | Jarak tempuh (WLTC) | Harga |
|---|---|---|---|
| BYD Racco 200 | 22,4 kWh | 210 km | mulai 2,145 juta yen (Jepang, termasuk pajak) |
| BYD Racco 300 | 35,84 kWh | 320 km | belum diumumkan terpisah (Jepang) |
| Suzuki e Sky | 26 kWh (LFP) | 310 km (target) | belum diumumkan |
| Wuling Aira EV Lite 200 km | belum diumumkan | 200 km | Rp214 juta |
| Wuling Aira EV Lite 300 km | belum diumumkan | 300 km | Rp251 juta |
| Wuling Aira EV Pro 300 km | belum diumumkan | 300 km | Rp307 juta |
Kalau kamu memang butuh EV mungil sekarang juga di Indonesia, pilihan yang nyata baru satu, Wuling Aira EV, karena harga dan variannya sudah jelas. Racco dan e Sky masih berstatus model Jepang, jadi belum bisa jadi opsi beli yang konkret di sini.
Kalau kamu sekadar memantau tren EV mungil buat referensi jangka panjang, angka jarak tempuh Racco 300 dan e Sky sama-sama di atas 300 km WLTC, jadi lebih unggul di atas kertas dibanding varian termurah Aira EV yang cuma 200 km. Tapi selisih itu belum tentu terasa penting buat pemakaian harian di dalam kota, di mana jarak 200 km pun biasanya sudah cukup.