Telkom Rampungkan Spin-off InfraCo Tahap 2, Nanang Hendarno Jadi Dirut Baru
Telkom resmi merampungkan pemisahan bisnis wholesale fiber ke InfraNexia dan menunjuk Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama baru, sementara InfraNexia mengarahkan ekspansinya ke konektivitas pusat data untuk kebutuhan AI.
Berita.co – Telkom resmi merampungkan tahap kedua pemisahan bisnis wholesale fiber connectivity ke anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia.
Persetujuan datang dari pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 30 September 2026.
Dalam RUPSLB yang sama, susunan direksi Telkom berubah, dengan Nanang Hendarno naik menjadi Direktur Utama menggantikan Dian Siswarini.
Apa Itu Spin-off dan Kenapa Telkom Melakukannya
Spin-off di sini artinya Telkom memisahkan aset dan bisnis jaringan fiber-nya jadi perusahaan sendiri, bukan menjualnya ke pihak luar.
InfraNexia tetap berada di bawah kendali Telkom, dengan kepemilikan saham 99,9 persen.
Yang berubah adalah strukturnya, dari satu perusahaan besar yang mengurus semua lini bisnis, jadi perusahaan induk yang punya anak usaha fokus per bidang.
Aset yang dipisahkan di tahap kedua ini bernilai sekitar Rp49,9 triliun, dan itu nilai aset, bukan pendapatan atau kas yang langsung masuk ke Telkom.
Setelah konsolidasi, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya ada di Telkom kini resmi berpindah ke InfraNexia.
Skalanya sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 kilometer kabel laut domestik, dengan total nilai transaksi sekitar Rp85,7 triliun untuk keseluruhan konsolidasi ini, bukan cuma tahap kedua saja.
Carrier-neutral, Artinya Jaringan Ini Dipakai Bareng
Istilah carrier-neutral sering muncul di pemberitaan InfraNexia. Artinya sederhana, InfraNexia membuka akses jaringannya ke berbagai operator telekomunikasi dan penyedia layanan, bukan cuma dipakai sendiri oleh Telkom Group
Model bisnisnya terbagi dua, Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx, mencakup konektivitas kapasitas tinggi sampai akses jaringan serat optik yang bisa disewa pihak lain.
Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyebut tingkat pemanfaatan aset fiber ini sebenarnya masih rendah meski investasi pembangunannya sudah keluar.
Membuka akses ke lebih banyak operator jadi salah satu cara InfraNexia mendorong utilisasi jaringan yang sudah ada tersebut.
Fokus Baru, Konektivitas Antarpusat Data untuk AI
Bagian yang paling relevan buat kamu yang mengikuti perkembangan infrastruktur AI di Indonesia ada di sini. InfraNexia sedang memetakan kebutuhan hyperscaler, sebutan untuk penyedia layanan komputasi skala besar seperti penyedia cloud dan data center, lewat sesuatu yang disebut AI heatmap.
Peta ini dipakai sebagai dasar ekspansi jaringan konektivitas antarpusat data, atau DC-to-DC connectivity, yang menjadi fokus pengembangan berikutnya.
Dengan kata lain, kalau sebelumnya fokus InfraNexia lebih ke jaringan akses biasa, ke depan porsi jaringan yang menghubungkan satu pusat data ke pusat data lain bakal ikut digarap.
Ini relevan karena kebutuhan AI dan komputasi awan butuh jalur data berkapasitas besar antar lokasi, bukan cuma jalur ke rumah atau kantor pengguna.
Kontribusi pendapatan dari pelanggan eksternal Telkom Group sudah di atas 15 persen hingga semester pertama 2026, tumbuh lebih dari 30 persen secara tahunan.
Direksi Baru dan Instruksi Percepatan Streamlining
Selain urusan InfraNexia, RUPSLB ini juga mengubah jajaran direksi Telkom. Nanang Hendarno, yang sebelumnya menjabat Direktur Network, naik jadi Direktur Utama menggantikan Dian Siswarini.
Posisi Direktur Network kemudian diisi Budi Satria Dharma Purba, Direktur Wholesale and International Service diisi Radita Ali Putra, dan Direktur IT Digital diisi Kharim I. G. Siregar menggantikan Faizal Rochmad Djoemad.
Dalam konferensi pers Rabu malam, 30 September 2026, Nanang menyampaikan arahan dari Danantara untuk mempercepat program streamlining atau perampingan anak usaha Telkom, dengan target bisa rampung di tahun ini hingga awal tahun depan, menurut CNBC Indonesia.
Fokus direksi baru ini disebut akan melanjutkan strategi TLKM 30, mencakup operational and service excellence, streamlining, unlocked value, dan modus operandi system.
