TERKINI
Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam/// Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya Dipicu Kebocoran Gas Elpiji, 5 Orang Luka/// Konser Israel Houghton di Jakarta Dibatalkan, Visa Ditolak Pemerintah Indonesia/// Kericuhan Petasan Maulid Nabi di Pondok Pinang, Begini Proses Hukum dan Mediasinya/// Panduan Darurat Kalau Salah Isi BBM Mobil, Ini yang Harus Dilakukan/// Airlangga Ungkap Syarat RI Jadi Markas Data Center AI dan Sebab Ekonomi RI Tertinggal Vietnam///
Teknologi

Jensen Huang dan Elon Musk Sama-sama Menolak Regulasi Baru untuk AI

CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO xAI Elon Musk kompak menolak pembentukan regulasi pemerintah untuk kecerdasan buatan, meski dengan alasan dan cara yang berbeda.

Berita.co – Jensen Huang, CEO Nvidia, menolak keras usulan pembuatan regulasi baru untuk mengatur laju pengembangan kecerdasan buatan. Sikap serupa disuarakan Elon Musk, CEO xAI, yang menilai industri AI sebaiknya diawasi oleh pelaku industrinya sendiri, bukan oleh pemerintah.

Pernyataan Huang muncul di tengah perdebatan yang dipicu esai CEO Anthropic, Dario Amodei. Amodei mengusulkan agar laboratorium AI terkemuka berkoordinasi mengatur laju pengembangan model canggih, atau bahkan sengaja memperlambatnya, supaya perusahaan punya cukup waktu menguji dan mengamankan produknya sebelum dirilis. Menurut laporan detikInet yang dipublikasikan Kamis, 17 September 2026, usulan itu bahkan disebut mungkin butuh mediasi pemerintah atau pengecualian dari aturan antimonopoli.

Alasan Huang, Keamanan Itu Urusan Rekayasa, Bukan Aturan Hukum

Huang sepakat perusahaan AI perlu serius menangani soal keselamatan. Bedanya, ia yakin masalah itu bisa diselesaikan sendiri oleh industri tanpa aturan baru. Dalam forum Dreamforce yang digelar Salesforce, Huang menegaskan, “Keamanan adalah masalah rekayasa, bukan masalah hukum.”

Ia menjelaskan alasan teknisnya. “Bagaimanapun juga, kita sedang mengembangkan perangkat lunak. Kita sedang mengembangkan sistem komputasi. Ini adalah sistem komputasi yang rumit, tetapi pada akhirnya tetaplah sebuah sistem komputasi,” ujar Huang.

Ia juga menilai aturan yang sudah ada saat ini sudah memadai. “Kita sudah punya banyak undang-undang. Kita punya banyak regulasi yang mengatur keandalan dan fungsionalitas produk,” katanya, sebagaimana dikutip dari pemberitaan CNBC International pada 17 September 2026.

Huang juga menampik peringatan bahwa model AI yang makin kuat akan mengancam eksistensi manusia dalam waktu dekat. “Kita takkan mati pada tahun 2030,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa banyak pihak di dunia sedang membangun berbagai batasan pengaman dan teknologi keamanan untuk AI.

Posisi Elon Musk, Uji Silang Antar Perusahaan, Tapi Tolak Campur Tangan Negara

Elon Musk mengambil jalan yang sedikit berbeda dari Huang. Pada Rabu, 16 September 2026, seperti dilaporkan CNBC International, Musk mengajak semua perusahaan AI, termasuk Anthropic, Google, Meta, dan OpenAI di Amerika Serikat, serta 3 sampai 4 perusahaan terdepan asal China, untuk saling bertukar model dan menguji produk masing-masing sebelum dirilis ke publik. Menurutnya, dengan skema itu, pengecekan produk tidak lagi dilakukan sendiri oleh masing-masing perusahaan, melainkan oleh sesama pesaing yang bisa memberi peringatan kalau menemukan hal yang mencemaskan.

Musk sendiri mengakui ajakannya itu belum disambut perusahaan AI lain. Meski mendorong pengujian silang antar sesama pelaku industri, ia tetap menolak upaya pemerintah menyusun aturan soal AI. Salah satu contohnya, xAI melawan upaya negara bagian Minnesota melarang aplikasi pembuat gambar telanjang, aturan yang muncul sebagai respons atas Grok, chatbot pembuat gambar milik Musk yang sering disalahgunakan untuk membuat konten deepfake tanpa izin pemiliknya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di kubu yang sejalan dengan penolakan regulasi ini. Menurutnya, upaya memperlambat pengembangan AI hanya akan memberi China kesempatan mengungguli AS. CEO Anthropic Dario Amodei, yang justru mengusulkan pengujian oleh pihak ketiga untuk urusan keselamatan, menyebut ketakutan Trump itu sebagai “dilema paling sulit”. Perdebatan ini muncul menjelang pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping, dengan AI diperkirakan jadi salah satu topik utama pembicaraan.

Risiko yang Diingatkan Pengamat Keselamatan

Menyerahkan sepenuhnya urusan keamanan kepada mekanisme pasar bukan tanpa risiko. Sejumlah pengamat mencatat preseden gangguan sistem, seperti insiden lumpuhnya jaringan teknologi global akibat kesalahan pembaruan sistem CrowdStrike. Sejumlah laboratorium AI saat ini juga sudah menghadapi gugatan hukum, mulai dari isu pelanggaran hak cipta sampai dampak psikologis penggunaan chatbot interaktif tanpa pengawasan ketat.

Buat kamu yang memakai produk AI sehari-hari, dalih membiarkan pasar yang mengatur ini punya konsekuensi praktis. Standar keamanan produk AI saat ini masih ditentukan oleh kebijakan internal masing-masing perusahaan pembuatnya, bukan oleh aturan baku yang mengikat semua pemain. Nvidia dan xAI punya kepentingan bisnis langsung supaya regulasi tidak menghambat kecepatan rilis produk mereka, sementara pengamat keselamatan menilai pengawasan independen tetap dibutuhkan mengingat insiden dan gugatan yang sudah terjadi.

Berita Terkait

Teknologi · Elon Musk