Data Center AI BDx di Jatiluhur Disetop Sementara, Kebutuhan Air Tembus 33 Juta Liter per Hari
Pemerintah Jawa Barat menahan proyek data center AI BDx senilai Rp3,5 triliun di Jatiluhur karena AMDAL dan PBG belum rampung, sementara kebutuhan airnya berpotensi tembus 33 juta liter per hari saat beroperasi penuh.
Berita.co – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan sementara proyek pembangunan data center AI BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun ini disetop karena sejumlah syarat perizinan, termasuk AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), masih dalam proses.
Penghentian ini muncul di tengah sorotan soal kebutuhan air fasilitas tersebut, yang diperkirakan bisa mencapai 33 juta liter per hari kalau sudah beroperasi penuh.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar mengonfirmasi penghentian ini kepada CNBC Indonesia pada Rabu, 30 September 2026. Menurutnya, proyek dihentikan sampai perizinan dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta terbit, karena masih ada beberapa syarat izin yang belum selesai.
Adi menegaskan Pemprov Jawa Barat pada dasarnya mendukung investasi dan pembangunan data center. Namun, proyek berskala besar tetap harus memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku sebelum lanjut ke tahap berikutnya.
Skala Proyek Data Center AI BDx
Data center ini dibangun di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi dengan rencana pengembangan hingga 11 hektare. Kapasitas listrik awal fasilitas ini 120 megawatt (MW), dengan potensi pengembangan sampai 640 MW kalau seluruh tahap rampung.
Proyek ini diproyeksikan membuka lapangan kerja secara bertahap untuk 2.000 sampai 3.000 orang. Pembangunan disebut mulai berjalan sejak 22 September 2026 dan direncanakan berlangsung selama tiga tahun, dengan gedung pertama ditargetkan mulai beroperasi awal 2027.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, mendapat penjelasan bahwa kebutuhan air data center ini diperkirakan mencapai 384 liter per detik, atau sekitar 0,4 meter kubik per detik, kalau fasilitas sudah berjalan pada kapasitas tertentu. Angka itu, kalau dihitung dalam satu hari penuh, setara sekitar 33 ribu meter kubik atau 33 juta liter air.
Kebutuhan itu tidak langsung muncul di angka maksimal. Pada tahap awal konsumsi air diperkirakan sekitar 6.000 meter kubik per hari, baru meningkat bertahap seiring pengembangan fasilitas menuju kapasitas penuh.
Sumber airnya tetap dari Waduk Jatiluhur, tapi disalurkan lewat PDAM, bukan diambil langsung. Dedi Mulyadi menjelaskan skema ini dengan kalimatnya sendiri.
“Kalau ini kan ngambilnya tetap dari Jatiluhur, tapi masuk di PDAM. Maksudnya ngambil airnya dari Jatiluhur, masuknya ke PDAM, beli airnya dari PDAM,” kata Dedi Mulyadi.
Ia menekankan kebutuhan air harus dihitung secara objektif sejak awal, supaya alokasi untuk sektor lain seperti pertanian tidak terganggu.
Sorotan DPRD dan Kekhawatiran Petani
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Maulana Yusuf Erwinsyih meminta pemerintah membuka secara transparan manfaat sekaligus risiko proyek ini ke publik, termasuk potensi dampak dari konsumsi air, air buangan, kebisingan, hingga emisi karbon.
Ia juga menyoroti banyak anggota DPRD lintas komisi yang belum mengetahui detail proyek ini secara mendalam, padahal informasi soal perizinan, AMDAL, dan mekanisme manfaat untuk masyarakat seharusnya sampai ke legislatif sejak awal. Kekhawatiran utamanya tetap sama, yaitu jangan sampai kebutuhan industri data center menggeser kepentingan petani yang selama ini bergantung pada irigasi Waduk Jatiluhur.
Sampai berita ini ditulis, proyek data center AI BDx di Jatiluhur masih berstatus disetop sementara sampai AMDAL dan PBG-nya rampung. Bagi kamu yang mengikuti perkembangan infrastruktur AI di Indonesia, dua hal yang layak ditunggu adalah kapan izin itu terbit dan bagaimana skema pembagian air antara industri dan pertanian akhirnya diatur secara resmi.
