Neraca Dagang RI Surplus USD3,36 Miliar pada September 2026, Impor Kumulatif Naik 19,67 Persen
BPS mencatat surplus neraca perdagangan USD3,36 miliar pada September 2026, ditopang nonmigas. Secara kumulatif, impor tumbuh jauh lebih cepat dari ekspor sehingga surplus sembilan bulan menyusut menjadi USD10,61 miliar.
Berita.co – Neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus USD3,36 miliar pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka itu dalam konferensi pers bulanan di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Surplus bulanan ini datang dari perdagangan nonmigas yang surplus USD5,67 miliar, sementara migas defisit USD2,31 miliar. Selisih keduanya tepat USD3,36 miliar.
“Surplus neraca perdagangan pada kondisi September 2026 terutama disebabkan oleh surplus pada komoditas nonmigas,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.
Sawit, batu bara, dan baja menahan defisit migas
Tiga kelompok barang menjadi penyumbang utama surplus nonmigas September: lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). Di dalamnya ada produk olahan kelapa sawit, batu bara, dan logam olahan.
Defisit migas terutama berasal dari transaksi hasil minyak dan minyak mentah. Pola ini bertahan sepanjang tahun, dengan defisit migas Januari hingga September 2026 mencapai USD23,60 miliar.
Peran sawit terlihat jelas dari angka kumulatifnya. Kelompok lemak dan minyak hewani/nabati surplus USD29,31 miliar selama sembilan bulan, setara sekitar 86 persen dari total surplus nonmigas USD34,21 miliar.
Impor tumbuh lebih dari tiga kali lipat laju ekspor
Secara kumulatif Januari hingga September 2026, neraca dagang surplus USD10,61 miliar. Ekspor mencapai USD221,23 miliar atau naik 5,58 persen dibanding periode yang sama 2025, sementara impor mencapai USD210,63 miliar atau naik 19,67 persen.
“Nilai impor pada periode tersebut yaitu sebesar 210,63 miliar dolar AS atau meningkat 19,67 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025,” ujar Ateng.
Dari dua persentase pertumbuhan itu, nilai periode yang sama 2025 bisa dihitung balik: ekspor sekitar USD209,5 miliar dan impor sekitar USD176,0 miliar. Artinya, surplus kumulatif sembilan bulan pertama 2025 berada di kisaran USD33,5 miliar.
Dengan hitungan tersebut, surplus Januari hingga September 2026 menyusut sekitar USD22,9 miliar, atau tinggal kira-kira sepertiga dari posisi setahun sebelumnya. Tambahan nilai impor sekitar USD34,6 miliar hampir tiga kali tambahan nilai ekspor yang sekitar USD11,7 miliar.
Surplus terbesar dari AS, defisit terdalam dengan Tiongkok
Menurut negara mitra, Amerika Serikat (AS) menyumbang surplus terbesar sepanjang Januari hingga September 2026, yakni USD14,26 miliar. India menyusul dengan USD10,59 miliar, lalu Filipina USD6,48 miliar.
Defisit terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar USD21,20 miliar, diikuti Singapura USD7,03 miliar dan Australia USD5,78 miliar. Defisit dengan Tiongkok saja lebih besar dari surplus dengan AS, selisihnya USD6,94 miliar.
Bagi kamu yang memantau ekonomi, gambarannya sederhana: devisa dari ekspor masih lebih besar dari devisa untuk impor, tetapi jaraknya makin tipis. Surplus bulanan bertahan selama nonmigas mampu menutup defisit migas, sedangkan impor yang terus tumbuh lebih cepat dari ekspor akan mempersempit ruang itu.

