TERKINI
Yamaha Absen di MotoGP Qatar 2026, MotoGP Group Kecewa meski Klaim Ada Jaminan Aman/// Wamenhaj Usul Non-Muslim Jadi Petugas Haji Teknis, MUI Batasi pada Tugas Lapangan/// Pendaftaran MagangHub Batch 3 Ditutup 4 November, Ini Tahapan Setelahnya/// KPK Buka Peluang Hadirkan Ahmad Dhani sebagai Saksi Sidang Korupsi Bea Cukai/// Harga Emas Antam Naik Rp10.000 Jadi Rp2.541.000 per Gram, Buyback Rp2.311.000/// Yamaha Absen di MotoGP Qatar 2026, MotoGP Group Kecewa meski Klaim Ada Jaminan Aman/// Wamenhaj Usul Non-Muslim Jadi Petugas Haji Teknis, MUI Batasi pada Tugas Lapangan/// Pendaftaran MagangHub Batch 3 Ditutup 4 November, Ini Tahapan Setelahnya/// KPK Buka Peluang Hadirkan Ahmad Dhani sebagai Saksi Sidang Korupsi Bea Cukai/// Harga Emas Antam Naik Rp10.000 Jadi Rp2.541.000 per Gram, Buyback Rp2.311.000///
Teknologi

TRM Labs Kaitkan Pembobolan Binance Rp114 Triliun dengan Peretas Korea Utara

Firma analisis blockchain TRM Labs menyebut TraderTraitor, unit peretas Korea Utara di balik kasus Bybit, sebagai pelaku pencurian aset kripto senilai sekitar USD 6,3 miliar dari Binance. Sebagian dana sudah dibekukan, tetapi sekitar USD 2,4 miliar masih di tangan pelaku.

Logo bursa kripto Binance, platform yang dibobol peretas dengan kerugian sekitar USD 6,3 miliar.
Foto: CNBC Indonesia

Berita.co – Nama TraderTraitor kini muncul di balik pembobolan Binance senilai sekitar USD 6,3 miliar atau Rp114 triliun. Firma analisis blockchain TRM Labs mengaitkan pencurian pada 29 Oktober 2026 itu dengan unit peretas elite Korea Utara tersebut.

Atribusi itu bertumpu pada intelijen on-chain dan off-chain yang dinilai kuat. Binance sendiri belum menyebut siapa pelakunya dalam pengumuman resmi terakhirnya.

Jejak yang mengarah ke Korea Utara

TRM Labs mencatat sebagian besar dana berpindah dalam sekitar 20 menit sejak pukul 20.05 UTC, atau Jumat (30/10) pukul 03.05 WIB. Gelombang kedua menyusul sekitar pukul 23.05 UTC, atau pukul 06.05 WIB.

Aset curian tersebar di sepuluh jaringan blockchain. Porsi terbesar ada di Ethereum sekitar USD 3,79 miliar, disusul Bitcoin sekitar USD 1,47 miliar dan Tron sekitar USD 628 juta.

TRM Labs juga menemukan 50 otorisasi transaksi yang sudah ditandatangani lebih dulu di jaringan Ethereum. Artinya, pelaku diduga sudah memegang akses ke sistem penandatanganan hot wallet Binance, yaitu dompet kripto yang selalu terhubung ke internet untuk melayani penarikan harian.

Juru bicara Chainalysis menyatakan pihaknya meyakini Korea Utara berada di balik serangan ini. Chainalysis juga memantau dana curian yang bergerak lewat jaringan Bitcoin dan Ethereum.

Pangolin Intelligence, firma pelacak blockchain asal Singapura, sampai pada kesimpulan serupa setelah membandingkan pola transaksi dengan insiden sebelumnya. “Saya kira permainan kucing-kucingan ini baru saja dimulai,” kata seorang analis Pangolin yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada CNN Indonesia.

Empat kali lipat kasus Bybit

TRM Labs menyebut TraderTraitor juga menjadi pelaku pembobolan Bybit senilai USD 1,5 miliar pada Februari 2025. Dengan nilai USD 6,36 miliar versi TRM, kasus Binance kira-kira 4,2 kali lebih besar dan menjadi pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat.

Baca Juga:  Huawei MatePad Air (2026) Resmi Rilis di Indonesia, Segini Harga dan Bedanya dari Generasi Sebelumnya

Modusnya pun mirip. Pelaku memerintahkan dompet bursa mengosongkan isinya, lalu memindahkan dana ke dompet milik mereka sendiri.

Pencucian dana sudah berjalan. TRM Labs mencatat penukaran besar lewat market maker, setoran ke protokol pinjaman seperti Aave dan JustLend, serta teknik peel chain, yaitu memecah Bitcoin ke banyak alamat kecil secara berantai supaya jejaknya kabur.

FBI menyatakan mengetahui insiden ini dan sedang bekerja sama dengan mitra sektor publik maupun swasta untuk memahami cakupannya. Pyongyang sebelumnya selalu membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai aksi peretasan.

Dana beku dan jadwal penarikan

Angka dana yang berhasil dibekukan masih berbeda antarpihak. Binance menyebut sekitar USD 3 miliar sudah dibekukan, sedangkan TRM Labs menghitung sekitar USD 2,7 miliar.

Tether membekukan lebih dari USD 1,57 miliar dalam USDT, sementara Circle membekukan lebih dari USD 800 juta dalam USDC. Ripple, World Liberty Financial, dan Security Council jaringan Arbitrum ikut membekukan aset terkait.

Sisa dana lebih sulit dijangkau. TRM Labs mencatat pelaku masih menguasai lebih dari 420.000 ETH dan 18.270 BTC, sekitar USD 2,4 miliar, aset yang tidak bisa dibekukan penerbit mana pun.

Binance menjanjikan seluruh kerugian pengguna ditanggung lewat dana perlindungan SAFU dan kas perusahaan. Awal pengakuan insiden ini, termasuk dugaan laptop insinyur yang disusupi, menjadi titik mula penyelidikan.

Lewat pembaruan insiden kedua yang terbit 30 Oktober pukul 19.33 UTC, Binance menargetkan penarikan mulai dibuka bertahap dalam sekitar 34 jam. Hitungannya jatuh sekitar Minggu (1/11) pukul 12.30 WIB, sedangkan hasil snapshot Proof of Reserves ditargetkan siap Senin (2/11).

Dana pengguna dijamin diganti, tapi penarikan dibuka bertahap dan belum tentu bisa dilakukan semua pengguna secara bersamaan.

Baca Juga:  iPhone 18 Pro Meluncur 9 September, Ini Alasan Harganya Diproyeksi Naik

Berita Terkait

Teknologi · Binance