TERKINI
Cita Tenun Indonesia Bawa Tenun Lampung, Kalimantan Barat, dan Bangka ke Panggung Utama JFW 2027/// Silmy Karim Didakwa Peras Pemohon Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar, Terima Rp1,2 Miliar/// DJP Tegaskan PPN Pembalut Bukan Pajak Menstruasi, Begini Hitungannya/// Bos Bulog Bongkar Modus Pengoplos Beras SPHP, Borong 8 Ton dalam Dua Hari/// Polri Rekomendasikan Pencabutan Izin 23 Korporasi Terkait Karhutla Berulang/// Cita Tenun Indonesia Bawa Tenun Lampung, Kalimantan Barat, dan Bangka ke Panggung Utama JFW 2027/// Silmy Karim Didakwa Peras Pemohon Izin Tinggal WNA Rp168,9 Miliar, Terima Rp1,2 Miliar/// DJP Tegaskan PPN Pembalut Bukan Pajak Menstruasi, Begini Hitungannya/// Bos Bulog Bongkar Modus Pengoplos Beras SPHP, Borong 8 Ton dalam Dua Hari/// Polri Rekomendasikan Pencabutan Izin 23 Korporasi Terkait Karhutla Berulang///
Lifestyle

Virus Shamonda Terdeteksi pada Manusia untuk Pertama Kalinya, Ini yang Perlu Kamu Tahu

Prancis melaporkan infeksi virus Shamonda pertama pada manusia, pada pasien dengan kekebalan tubuh sangat lemah yang meninggal awal Oktober 2026. Otoritas kesehatan menyebut risiko bagi masyarakat umum saat ini tidak ada, tapi beberapa hal masih diselidiki.

virus Shamonda

Berita.co – Otoritas kesehatan Prancis melaporkan kasus infeksi virus Shamonda pertama pada manusia. Pasiennya meninggal pada awal Oktober 2026, dan laporan kasus ini beredar luas pada 23 Oktober 2026. Selama ini virus tersebut hanya dikenal menyerang hewan ternak.

Kalau kamu baru dengar nama virus ini, wajar kalau langsung bertanya: seberapa berbahaya buat manusia, dan apa yang perlu kamu cek? Berikut rangkuman fakta yang sudah dilaporkan sejauh ini.

Apa yang terjadi di Prancis?

Mengutip BBC, pasien itu sedang dirawat karena penyakit serius di sebuah rumah sakit di Lyon. Ia mengalami komplikasi neurologis. Berdasarkan temuan awal, komplikasi itu diduga sangat mungkin terkait dengan virus Shamonda.

Pasien tersebut punya sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah. Kondisi ini membuatnya lebih rentan terhadap infeksi berat. Pejabat kesehatan setempat menyebutnya kasus luar biasa, dan menegaskan saat ini tidak ada risiko bagi masyarakat umum.

Dikutip dari AFP memuat pernyataan otoritas Prancis bahwa virus ini sudah beredar di Afrika dan Asia selama beberapa dekade, tapi belum pernah terdeteksi pada manusia sebelumnya. Penyelidikan atas infeksi dan kematian pasien masih berlanjut.

Apa itu virus Shamonda

  • Jenis: virus dari genus Orthobunyavirus, famili Peribunyaviridae, dan termasuk kelompok serologis Simbu, menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH).
  • Asal temuan: pertama kali diisolasi dari sapi di Nigeria pada 1965, lalu ditemukan di sejumlah wilayah Afrika dan Asia.
  • Hewan yang terinfeksi: paling sering sapi, juga domba, kambing, kuda, dan alpaka.
  • Vaksin: menurut WOAH, belum ada vaksin komersial untuk virus ini.

Virus Shamonda terutama menyebar lewat gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides, yang di Indonesia dikenal sebagai agas. Serangga ini berperan sebagai vektor, yaitu perantara yang membawa virus dari satu inang ke inang lain.

Baca Juga:  Bigmo Dilaporkan Komnas PA ke Polda Metro Jaya, Ini Pasal yang Disangkakan

Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan masih butuh penelitian lebih lanjut untuk memahami cara penularannya secara utuh. Bagaimana pasien di Prancis tertular juga belum dijelaskan dalam laporan yang ada.

Sudah sampai mana di Eropa

Virus ini baru teridentifikasi di Eropa pada akhir Juli 2026, sejauh ini pada hewan ternak. Hingga 20 Oktober 2026, lebih dari 12 negara melaporkan kasus serupa, termasuk Prancis, Jerman, Spanyol, dan Irlandia.

Pada ternak yang terinfeksi, gejala yang dilaporkan antara lain demam, diare, lesu, dan penurunan produksi susu. Pada hewan bunting, infeksi dikaitkan dengan keguguran dan malformasi janin. Gangguan neurologis juga pernah dilaporkan pada beberapa kuda. WOAH menyatakan dampak jangka panjang varian Eropa ini belum bisa dipastikan.

Berdasarkan pengetahuan terkini, WHO menilai kasus kematian ini kecil kemungkinannya memicu penyebaran lebih luas. Otoritas Prancis juga menyebut tidak ada risiko kesehatan bagi masyarakat umum yang teridentifikasi saat ini.

Ada satu catatan penting soal pemantauan. Shamonda bukan penyakit yang terdaftar di WOAH, jadi negara tidak wajib melaporkan kasusnya lewat mekanisme pelaporan khusus. Penyakit ini juga tidak masuk kerangka Hukum Kesehatan Hewan Uni Eropa, sehingga tidak berada di bawah pengawasan wajib khusus.

Yang bisa kamu cek sebelum khawatir

  • Pantau pembaruan dari sumber resmi seperti WHO dan WOAH, karena penyelidikan kasus di Prancis masih berjalan.
  • Kalau kamu berencana bepergian ke negara Eropa yang melaporkan kasus pada ternak, cek imbauan kesehatan terbaru dari otoritas setempat sebelum berangkat.
  • Kalau kamu atau anggota keluarga punya kondisi kekebalan tubuh lemah, konsultasikan langkah pencegahan gigitan serangga dengan dokter, mengingat kasus ini terjadi pada pasien dengan imun sangat lemah.
  • Bedakan kasus pada ternak dan pada manusia saat membaca kabar lanjutan. Sejauh ini, kasus pada manusia yang dilaporkan baru satu.
Baca Juga:  Itinerary Yogyakarta dan Destinasi Tambahan di Sekitarnya, Ini yang Perlu Kamu Siapkan

Berita Terkait

Lifestyle · penyakit zoonosis