Doomscrolling dan Social Exhaustion, Dua Kelelahan Mental yang Sering Kamu Anggap Biasa
Doomscrolling dan social exhaustion sama-sama bikin capek secara mental meski kamu nggak melakukan aktivitas fisik berat. Ini tanda-tandanya dan yang perlu kamu cek, berdasarkan laporan yang terbit 23 September 2026.
Berita.co – Kamu mungkin sering ngerasain abis scroll berita atau medsos berjam-jam, badan capek padahal cuma duduk dan diam megang HP. Atau abis nongkrong sama teman, bukannya senang malah pengen langsung rebahan sendirian tanpa ngomong sama siapa pun.
Dua rasa capek itu beda sumbernya, tapi sama-sama nyata dan lagi ramai dibahas belakangan ini.
Kenapa scroll berita bikin kamu capek mental
Menurut Kendra Cherry, spesialis rehabilitasi psikososial dan pendidik bidang psikologi yang dikutip dari Verywell Mind, otak manusia memang punya kecenderungan disebut bias negativitas, yaitu lebih menekankan pengalaman negatif dibanding pengalaman positif.
Ketika berita negatif datang bertubi-tubi, otak bisa tetap berada dalam mode waspada meski kamu nggak melakukan aktivitas fisik apa pun.
Rasa ingin tahu juga bikin kamu terjebak dalam siklus scroll yang sulit dihentikan, karena berita terus berganti dan nggak pernah benar-benar habis.
Penelitian yang terbit di jurnal Personality and Individual Differences pada 2025, melibatkan 443 partisipan, menemukan hubungan antara kecemasan, kesulitan menghadapi ketidakpastian, dan kecenderungan doomscrolling, menurut kutipan dari ScienceDirect.
Paparan berita negatif berulang juga bisa memicu kelelahan emosional. Penelitian Sumeyye Taskin dan M. Engin Deniz yang terbit di Journal of Community Psychology pada 2024, meneliti 400 pengguna media sosial, menemukan bahwa hubungan antara doomscrolling dan kesejahteraan mental dimediasi oleh mindfulness serta secondary traumatic stress, yakni gejala stres yang bisa muncul akibat paparan penderitaan orang lain secara tidak langsung, menurut publikasi Wiley Online Library.
Reza Shabahang, peneliti dari College of Education, Psychology and Social Work, Flinders University, yang memimpin studi soal doomscrolling dan kecemasan eksistensial, menyebut paparan berita negatif terus-menerus sebagai sumber trauma tidak langsung.
Dalam kutipannya ke The Guardian, dia menjelaskan kondisi ini bisa memengaruhi keyakinan seseorang soal kematian dan kendali atas hidupnya sendiri, meski hasil penelitian itu bersifat korelasional dan perlu dibaca hati-hati karena keterbatasan sampel.
Cara mengurangi doomscrolling tanpa harus berhenti ikuti berita
Kalau kamu mau mulai mengurangi kebiasaan ini, kamu nggak perlu berhenti total baca berita atau pura-pura nggak peduli sama isu di sekitar.
Joanne Orlando, pakar perilaku digital dari Western Sydney University, menyarankan supaya kamu lebih sadar soal bagaimana berita dan medsos memengaruhi perasaanmu, termasuk menunda buka berita atau medsos begitu bangun tidur.
Beberapa hal yang bisa kamu siapkan:
- Tentukan waktu khusus buat baca berita, jangan sepanjang hari.
- Pilih sumber yang kredibel, bukan asal ikut arus algoritma.
- Buat jeda setelah baca berita berat, misalnya taruh HP dulu lalu lakukan aktivitas fisik atau ngobrol sama orang terdekat.
- Kalau kebiasaan ini mulai mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan sosial kamu, pertimbangkan konsultasi ke psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental.
Kalau capeknya dari interaksi sosial, bukan dari layar
Selain kelelahan karena konsumsi informasi, ada jenis capek lain yang sering ketuker sama sifat introvert biasa: social exhaustion. Laporan lain yang terbit pada 23 September 2026, sekitar dua jam sebelum laporan doomscrolling di atas, menjelaskan lima tanda kondisi ini dan kenapa beda dari rasa malas ketemu orang yang biasa kamu rasain.
Social exhaustion terjadi karena energimu terkuras oleh interaksi sosial, meski kamu tetap sayang sama orang-orang di sekitarmu. Otak bekerja keras memproses suara, membaca ekspresi wajah, dan menjaga sikap supaya tetap terlihat menyenangkan sepanjang acara, jadi capeknya beda dari lelah fisik biasa.
5 tanda kamu mungkin lagi mengalami social exhaustion:
- Badan terasa lelah dan berat padahal kamu nggak melakukan aktivitas fisik yang berat.
- Gampang tersinggung sama hal kecil yang biasanya nggak kamu pedulikan.
- Mulai cari-cari alasan buat membatalkan janji ketemuan.
- Merasa kesepian meski lagi di tengah keramaian dan susah jadi diri sendiri.
- Mendambakan waktu sendirian di ruangan sepi tanpa notifikasi sama sekali.
Kalau kamu relate sama beberapa tanda di atas, itu bukan berarti kamu manja atau kurang bersyukur. Tubuh dan sistem sarafmu memang punya batas kapasitas interaksi, dan tanda-tanda itu sinyal buat istirahat sejenak, bukan sesuatu yang harus dipaksa dilawan terus-menerus.
Yang perlu kamu cek sebelum lanjut aktivitas seperti biasa
Sebelum kamu balik lagi ke rutinitas scroll berita atau agenda sosial yang padat, ada baiknya kamu cek dulu beberapa hal ini:
- Berapa lama kamu biasanya scroll berita atau medsos dalam sehari, dan apakah itu bikin kamu tegang atau justru tenang.
- Apakah kamu masih sempat bikin jeda setelah baca berita berat atau habis acara sosial yang panjang.
- Apakah kamu masih bisa bilang tidak untuk satu ajakan yang sebenarnya bisa ditunda.
- Kalau capeknya sudah mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan kamu sama orang lain, ini saatnya pertimbangkan cerita ke psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental, bukan dipendam sendirian.
